Minggu, 18 Januari 2009

Klaus Von Klitzing


Ahli fisika Jerman. Ia terkenal sebagai salah satu periset yang terbaik di jamannya di bidang magnetisme medan kuat. Reputasi ilmiahnya memuncak tatkala ia berhasil menemukan efek Hall kuantitatif. Dunia sains sangat berhutang budi atas capaian dahsyat ini dan Hadiah Nobel Fisika dianugerahkan bulat-bulat untuk dirinya di tahun 1985.

Biografi Klaus von Klitzing lahir pada tahun 1943 di kota Schroda, Jerman. Ia berasal dari sebuah keluarga yang kaya dan terpelajar. Pendidikan dasar dan menengah ia tamatkan di Sekolah Abitur di kota Quakenbruck. Di bulan April 1962, Klitzing masuk Universitas Teknik Braunschweig dan mengambil jurusan fisika. Gelar master ia peroleh pada tahun 1969 melalui sebuah skripsi mengenai pengukuran waktu terhadap InSb. Ia menyelesaikan tugas akademis ini di bawah arahan Profesor F.R. Kessler.

Setelah itu Universitas Wurzburg merekrutnya sebagai staf peneliti dan asisten dosen. Klitzing menjalani kedua tugas ini seraya melanjutkan kuliah tingkat doktoral. Ia menggarap disertasi di bawah bimbingan Prof. Dr. G. Landwehr. Gelar Ph.D diraihnya pada tahun 1972 setelah ia berhasil mempertahankan secara cemerlang disertasinya mengenai sifat-sifat galvanomagnetik tellurium dalam medan magnetik kuat.

Dari tahun 1975 hingga 1976 ia memperoleh beasiswa untuk bekerja sebagai peneliti di Laboratorium Clarendon, Universitas Oxford, Inggris. Risetnya yang paling penting bergulir di Laboratorium Medan Magnetik Kuat di Grenoble dari tahun 1979 hingga 1980. Di tempat ini ia menemukan efek Hall kuantitatif, sebuah capaian ilmiah yang kemudian ia paparkan dalam sebuah makalah panjang-lebar yang terbit di tahun 1980.

Selepas risetnya dari Grenoble, Klitzing meninggalkan Universitas Wurzburg dan pindah ke Universitas Teknik Munchen sebagai guru besar fisika. Ini dijalaninya hingga tahun 1984. Satu tahun kemudian ia masuk Institut Max Planck dan diangkat menjadi direkturnya. Posisi ini ia pertahankan sampai saat ini.

Rabu, 14 Januari 2009

SOEWANDI, Pencetus Ejaan Suwandi



SOEWANDI, adalah tokoh utama dalam penyederhanaan ejaan van Ophuysen, yang kemudian terkenal dengan istilah Ejaan Suwandi. Ia mantan Menteri Kehakiman dan Menteri PP dan K serta pernah memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan tingkat internasional.

Soewandi lahir pada bulan Oktober 1899 di Surakarta, Jawa Tengah. Pada tahun 1917 ia berhasil mendapatkan ijasah dari sekolah Pangreh Praja OSVIA Madiun. Berbekal ijasah tersebut, ia bekerja sebagai klerk pada Kementrian Pengajaran Belanda di Jakarta. Di sela-sela waktu kerjanya ia masih menyempatkan diri mengikuti kuliah di sebuah sekolah tinggi mengambil jurusan hukum. Pada tahun 1923 ia berhasil menamatkan kuliah di jurusan hukum dan mendapat gelar Meester in de Rechten (Meester=SH). Tak hanya berhenti di situ, Soewandi pun menyabet ijasah notaris. Bahkan ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang lulus ujian lengkap hingga mendapatkan gelar notaris. 

Berbekal kepintaran akademis tersebut Soewandi dipercaya menjadi Menteri Kehakiman pada November 1945 hingga Oktober 1946. Ia diangkat sebagai Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan (PP dan K) pada kurun Oktober 1946 sampai Juli 1947. Pada saat menjabat Menteri PP dan K inilah Suwandi melancarkan gebrakan menyederhanakan ejaan Bahasa Indonesia. Pada waktu itu yang sedang berlaku adalah ejaan van Ophuysen. Penyerdahaan ejaan ala Soewandi itu menjadi tonggak perkembangan sejarah bahasa Indonesia yang tidak pernah terlupakan, yang kemudian terkenal dengan nama ejaan Soewandi . Penetapannya berdasarkan Surat Keputusan Menteri PP dan K nomor 264/Bhg A tanggal 19 Maret 1947. Soewandi pernah memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belannda di Hoge Veluwe, Negeri Belanda.

Setelah tahun 1950 Soewandi membuka kantor notaris di Jakarta dan ia menjadi ketuanya. Pada bulan Agustus 1960 Dewan Kurator Indonesia menunjuk Soewandi sebagai pemimpin tim penyusun Ensiklopedia Indonesia. Namun tugas itu tak diembannya hingga selesai lantaran kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan. Pada tanggal 6 Maret 1964 Suwandi tutup usia pada umur 47 tahun.

Dari berbagai sumber.

Minggu, 11 Januari 2009

PROSPEK PENDIDIKAN DI KABUPATEN TRENGGALEK PADA AKHIR RPJM TAHUN 2006 - 2010





Keterangan Foto:
1. Drs. Ahmadi, MM (Kabid SLTP/SM)
2. Drs. Heru Prihandono (Kasi SMP)
3. Drs. Ganif Trianto (Kasi SM)

Fakta dan Kebijakan di Lapangan

Kabupaten Trenggalek terdiri dari 14 Kecamatan dengan 152 Desa dan 5 Kelurahan. Wilayah ini penuh dengan bukit dan lembah yang menyebabkan sulit dijangkau oleh transportasi umum. Jumlah penduduk pada tahun 2006 adalah 679.248 jiwa, anak usia pendidikan dasar hampir mencapai 100 ribu-an, dan anak usia pendidikan menengah 21 ribu-an (Profil Pendidikan, Dinas P dan K Kabupaten Trenggalek:2006). Sementara tempat hunian/pemukiman penduduk di pelosok pedesaan, berkelompok dalam komunitas terbatas, terpisah-pisah dengan jarak yang lumayan jauh. Itulah mengapa lembaga sekolah dasar di daerah ini mencapai 459 SD dan 110 MI, sedangkan SMP = 65 lembaga + 7 SMP Terbuka, MTs = 21, SMA = 17, MA = 7 dan SMK = 21 lembaga.
Masih ada lagi SD-SMP Negeri Satu Atap sebanyak 10 lembaga. “Namun perlu diketahui bahwa lembaga pendidikan dasar ini sebenarnya tidak memiliki fasilitas gedung tersendiri, melainkan menjadi satu dengan SD dan manajemennya dikelola terpadu, memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki SD tersebut, dengan penambahan ruang kelas, ruang penunjang pembelajaran, tenaga pendidikan/administrasi dan sarpras lainnya. Kebijakan ini diambil oleh Pemerintah Kabupaten Trenggalek, dalam hal ini Dinas P dan K untuk memberikan pelayanan maksimal bagi penduduk yang bermukim di daerah terpencil. Bertumpu pada UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional ”, demikian Kasi SMP Drs. Heru Prihandono menjelaskan.

Sejak otonomi daerah diberlakukan, dalam penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Pendidikan, Kabupaten Trenggalek berpegang pada Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek sebagai unsur pelaksana Pemerintah Daerah; Pada awal jabatannya, Bupati Trenggalek, Soeharto, berkomitmen tahun 2009 ini Trenggalek akan menuntaskan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun, kemudian meningkatkan angka melanjutkan lulusan SMP/MTs/Paket B ke jenjang pendidikan menengah sampai dengan 90 persen, mengawali langkah menuntaskan Wajib Belajar Pendidikan Menengah .
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengelontorkan dana stimulan bersumber dari APBD II dan APBD I maupun APBN (umumnya dikerjakan dengan cara swakelola) demi merangsang munculnya kepedulian dan partisipasi masyarakat terhadap sekolah, khususnya berkenaan dengan pembangunan fisik, karena melihat kenyataan banyaknya gedung-gedung SD/MI yang rusak dan tidak layak, Juga guna menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar di SD-SMP Negeri Satu Atap.
Terbukti hanya dengan stimulan antara lima juta rupiah hingga tujuhpuluhan juta rupiah, masyarakat mampu merehabilitasi ruang-ruang kelas SD maupun SMP yang rusak sehingga layak untuk tempat proses belajar mengajar. Masyarakat mencukupi kekurangan dananya dan membangun sendiri sekolahnya (swakelola). Dalam pada itu, Pemerintah Pusat memberikan subsidi pendanaan terbesar, sedangkan pemerintah Kabupaten Trenggalek (atau sekolah) menyediakan dana pendamping 10% saja. Semua dana disalurkan langsung ke rekening sekolah. Program swakelola ini memangkas rantai birokrasi secara signifikan. Pola ini mendapat respon positif dari masyarakat. Serta relative berhasil. Bahkan ada pembangunan sekolah dengan sistem swakelola ini yang melampaui harapan. Misalnya target pemerintah hanya untuk membangun satu ruang kelas, namun sekolah dan masyarakat mampu membangun dua ruang kelas, atau target pemerintah hanya menentukan menggunakan lantai semen, namun sekolah mampu membuat dengan lantai keramik. Bila masyarakat diuntungkan dengan model swakelola ini, diam-diam ada pihak lain yang ‘dirugikan’.
Hasil pengamatan Kediri Advertiser pihak-pihak yang selama ini menikmati proyek-proyek SD Inpres ada yang merasa terganggu kepentingannya, karena tidak lagi mendapat pekerjaan bangunan sekolah. Sehingga akhir-akhir ini muncul indikasi beberapa pihak sering melakukan lobby-lobby untuk berebut kue proyek swakelola. Kemudian disusunlah skenario : Swakelola semu atau seolah-olah swakelola. Laporannya saja yang swakelola namun pelaksanaannya diborongkan. Para perayu bahkan tidak segan-segan untuk menggandeng dan berkolaborasi dengan pihak-pihak tertentu untuk menekan kepala sekolah agar bersedia, dan menggunakan pola swakelola semu. Diantara program swakelola adalah Dana Alokasi Khusus (DAK). Program yang dikhususkan untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah ini bernilai hingga ratusan juta rupiah. Sebuah jumlah yang cukup besar. Hal yang sama juga terjadi pada sekolah menengah.

Peran Komite Sekolah
Sesuai dengan SK Mendiknas No. 044/U/2002 Tentang Dewan pendidikan dan Komite Sekolah, kedua lembaga ini memiliki peran strategis yaitu sebagai pedukung (supporting agency), sebagai pemberi pertimbangan (advisory agency), sebagai pengontrol (controlling agency), dan sebagai mediator. Termasuk dalam hal program swakelola, komite sekolah harus menjalankan perannya, khususnya dalam perencanaan dan kontrol. “Termasuk bisa mendukung, memback up, kepala sekolah agar tetap konsisten dengan aturan main yang telah digariskan. Posisi komite sekolah yang independen diharapkan mampu untuk menjadi penangkal tekanan pihak-pihak yang mencoba main mata, dan mampu menolak bila ada ajakan menjadikan DAK sebagai swakelola semu, sekalipun ajakan itu berasal dari kepala sekolahnya sendiri”, demikian Drs. Kusprigianto, MM menegaskan.
Pemberian kepercayaan kepada sekolah penerima DAK (Dana Alokasi Khusus) maupun Block Grand, BKM, BOMM dan BOS pada sektor pendidikan untuk mengelola sendiri, dana yang jumlahnya sampai ratusaan juta rupiah tiap lembaga, bukan tanpa problem, selain masalah internal sekolah, yakni terrbatasnya sumber daya manusia, juga faktor eksternal, di luar sekolah.
Faktor internal sekolah, yang dikeluhkan beberapa orang kepala sekolah, diantaranya tidak tersedianya tenaga administrasi di sekolah-sekolah. Bukan hal yang aneh, selama ini guru juga merangkap sebagai tenaga administrasi keuangan di sekolah. Bukan tidak mungkin pula, kepala sekolah juga merangkap sebagai “kepala tata usaha”, karena memang tidak ada tenaga khusus yang menangani administrasi keuangan utamanya di SD atau MI. Adanya tambahan dana yang dikelola yang jumlahnya besar, bagi kebanyakan sekolah, merupakan masalah yang tidak gampang dicarikan jalan keluarnya.

Sedangkan faktor eksternal, adanya ketentuan dana block grand dikelola sendiri oleh penanggung jawab anggaran. Misalnya, pembangunan gedung SD atau SMP yang harus dilaksanakan secara swakelola, berdampak menimbulkan berbagai masalah. Faktor eksternal yang berkepentingan ingin memborong rehabilitasi gedung sekolah, merupakan problem lain dan hanya sebuah eksepsi. Meskipun berdasarkan pemantauan Dinas P dan K Kabupaten Trenggalek, belum ditemukan adanya sekolah penerima DAK yang memberikan pekerjaan rehabilitasi gedung sekolah kepada pihak ketiga. Kabid SLTP/SM, Drs. Ahmadi, MM pada suatu kesempatan mengatakan bahwa “Pemerintah, dalam hal ini Dinas P dan K Kabupaten Trenggalek hanya memfasilitasi dan mengakomodir kemauan sekolah, jika hal semacam itu (maksudnya swakelola semu/red) ditemukan, maka sekolah penerima DAK harus berani menolak”.
Begitu pula dengan pengadaan sarana peningkatan mutu pendidikan, Drs. Kusprigianto. MM dalam beberapa kali kesempatan menegaskan, tidak boleh ada monopoli dalam pengadaan alat peraga atau sarana pendidikan. Semua rekanan yang bisa menyediakan sarana pendidikan dengan kualitas yang sesuai dengan spesifikasi tekhnis yang ditentukan dalam petunjuk tekhnis, punya kesempatan yang sama untuk menawarkan sarana pendidikan yang dibutuhkan sekolah penerima DAK.
Persoalan yang muncul, tidak semua sekolah penerima DAK bisa memahami spesifikasi tekhnis barang sarana pendidikan yang ditawarkan rekanan penyedia barang. Padahal, pemerintah dalam hal ini dinas tekhnis belum membentuk Tim verifikasi yang punya kewenangan dan kompetensi menilai barang yang ditawarkan rekanan, andaikata sudah dibentuk ternyata tidak difungsikan sebagaimana mestinya Contohnya, sekolah yang awam dengan piranti teknologi informasi semisal komputer, bisa saja memperoleh barang yang spesifikasi tekhnisnya tidak standar.
Karena itu, Drs. Kusprigianto, MM meminta semua pihak yang berhubungan dengan pengadaan sarana pendidikan harus secara sadar menyediakan barang yang sesuai dengan spesifikasi tekhnis, dan juga tidak mempergunakan software bajakan yang bisa merepotkan dikemudian hari.

Problema yang diinventarisir Kediri Advertiser di lapangan ini, merupakan bagian kecil dari persoalan yang dihadapi sebagian besar sekolah penerima DAK. Persoalan yang paling menonjol, adalah keterbatasan sumber daya untuk mengelola DAK itu. Akibatnya, terjadilah penyalahgunaan wewenang oleh oknum PNS yang punya kewenangan tertentu untuk meraup keuntungan..
Komitmen Dinas P dan K Kabupaten Trenggalek, bahwa pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean governance) akan terus diwujudkan, sehingga sudah menjadi keharusan semua pihak untuk tidak mencuri kesempatan atas keterbatasan sekolah penerima DAK, dengan memanfaatkan untuk keuntungan pribadi. “Semua jajaran yang punya kewenangan tertentu di Unit Pelaksana Teknis maupun pejabat yang memiliki kewenangan itu, harus berkometmen, agar pengelolaan DAK berjalan sesuai dengan aturan. Tidak ada dana yang tercecer di luar penggunaan rehabilitasi gedung sekolah dan pengadaan sarana pendidikan. Sehingga DAK bisa optimal dimanfaatkan untuk peningkatan mutu pendidikan. Dengan demikian prospek pendidikan di daerah ini di masa datang secara fisik, fakta dan produktivitasnya akan lebih baik lagi”, Drs. Kusprigianto, MM berkata mantap.

Arah Pembinaan Pendidikan Menengah SMA/SMK
Drs. Ganif Trianto (Kasi SM) menerangkan bahwa sampai dengan 2010 nanti ditarget adanya Peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK), melalui antara lain : penambahan USB SMA/SMK hingga SMA : SMK = 45 : 55, pembangunan ruang kelas baru, peningkatan peran serta sekolah swasta dan pembukaan program keahlian baru pada SMK sesuai kebutuhan masyarakat, dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan pendidikan SMA/SMK, yakni dengan pemberian bea siswa bagi siswa berprestasi atau siswa dari keluarga kurang beruntung (tidak mampu/red), peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, pengembangan kurikulum pengajaran yang lebih tepat dengan kebutuhan di dunia usaha. (Baca juga: Anjangsana ke SMK Negeri 1 Suruh, Trenggalek/CahNdeso).
Bahkan jika dianggap perlu bisa mendatangkan praktisi di sekolah/lembaga untuk memberikan masukan tentang kebutuhan dunia kerja. Studi banding ke lembaga SMK di luar kabupaten, reposisi SMK sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Mengoptimalkan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah khususnya yang mendukung optimalisasi bakat minat. Pemantapan kegiatan PSG bagi anak SMK di perusahaan atau instansi. Dalam rangka mewujudkan lembaga pendidikan kejuruan yang akuntabel sebagai pusat pembudayaan kompetensi berstandar internasional
Drs. Anwaruddin (Kasi Kurikulum) menambahkan, bahwa untuk semua jenjang pendidikan akan lebih sering diadakan sosialisasi dan workshop tentang kurikulum, sertifikasi guru, maupun pembinaan pendidikan Bermutu (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading), merencanakan peningkatan SSN menjadi SBI, pengembangan life skill, pelayanan pendidikan yang mengarah pengembangan bakat dan potensi, menjalin kerjasama dengan dunia industri serta lomba mata pelajaran, sains dan teknologi. Sehingga diharapkan siswa yang telah menyelesaikan jenjang sekolah menengah kelak diakhir RPJM 2006-2010 akan lebih mampu mandiri, berkarya dan berprestasi atau bahkan menciptakan lapangan kerja kreasinya sendiri. Walau bagaimanapun upaya pemerintah untuk mewujudkan, tidak akan tercapai tanpa adanya kebersamaan dan partisipasi dinamis dari masyarakat baik orangtua/wali murid maupun para tokoh yang peduli pendidikan serta lembaga swadaya kependidikan di daerah ini. (CahNdeso)

Senin, 05 Januari 2009

Pembela Palestina Adalah Mereka Yang Anti Perbudakan

http://www.kickandy.com/forum/viewtopic.php?id=7556
Link di atas, memuat salah satu komentar tentang agresi Zionist Israel ke Palestina, yang menggairahkan saya untuk...! Sebenarnya, saya menahan diri untuk tidak bicarakan masalah ini dalam blog trenggalek jelita. Namun, mengingat masih adanya manusia di sekitar kita yang sok humanis, sok berkeadilan, yang membenarkan tindakan Israel atas bangsa Palestina, maka terpaksa masalah ini saya cuatkan di sini. Dengan harapan, marilah kita samakan langkah kita untuk mengutuk tindakan Zionist Israel.

Dipandang dari sudut mana pun, agresi Israel ke Palestina adalah tindakan perampokan wilayah dan menginjak-injak hak azazi rakyat Palestina. Sejarah keberadaan Zionist di Timur Tengah berawal dari keinginan Amerika untuk memiliki sekutu bonekanya di kawasan kaya minyak ini. Sejak tahun 1947, hingga kini, Amerika selalu melegitimasi segala kebrutalan Israil, bahkan memberikan dukungan moril, materil maupun peralatan perang. Itulah sebabnya, anak emas Amerika ini tidak terkalahkan walau diperangi oleh tetangga-tetangganya. Israel kala itu hanyalah segerombolan orang Yahudi asuhan Amerika dan sekutunya setelah PD II. Gerombolan Yahudi ini mirip pasukan Taliban dibawah pimpinan Osama bin Laden di Afghanistan demi membendung Uni Sovyet. Bedanya, setelah Osama bin Laden dengan Talibannya berhasil mengusir Rusia, ternyata mereka mendirikan pemerintahan yang tidak sesuai skenario jangka panjang Amerika. Sebaliknya justru menunjukkan eksistensi sebagai kekuatan yang menentang Amerika. Oleh sebab itulah dengan gaya serigala, negara adidaya ini memfitnah Osama bin Laden dan pasukannya sebagai teroris. Mengajak dunia memusuhi mereka melalui pemberitaan yang salah. Ingatlah, bahwa jaringan mass media dunia dikuasai oleh Yahudi, sudah tentu sajian wartanya bertujuan mendukung kepentingan mereka. Contoh paling akhir, pers Amerika gencar membela Georgia dan menyudutkan Rusia. Padahal fakta di lapangan sebaliknya.

Dalam politik dan diplomasi, jangan harap PBB akan menerbitkan resolusi yang menjatuhkan sanksi atas kejahatan perang dan kemanusiaan yang dilakukan Israel. Amerika pasti dengan arogan memvetonya demi melindungi negara Yahudi ini. Mengapa Amerika mati-matian membela Israel? Paling tidak ada dua keuntungan utama. Pertama, Amerika punya "benteng boneka" guna memeras negara Timur Tengah; yang kedua, lobby Yahudi di elite pemerintahan Amerika (KNESSET) akan senantiasa memberikan dukungan finansial terhadap pemerintahan presiden terpilih. Dalam hal ini, dikarenakan para pemilik modal dan pengendali (dalangnya) perekonomian Amerika, mayoritas adalah kaum Yahudi.
Agresi Israel ke Palestina, bukan sekedar antara Hamas atau Fatah dengan Zionist, lebih dari itu adalah upaya mempertahankan "perbudakan bangsa" oleh Amerika dan sekutunya. Jadi bukan hanya perbudakan manusia. Siapapun yang melegitimasi sikap Amerika dan Israel, menurut saya tidak lebih tidak kurang, mereka termasuk antek zionist.
Amerika adalah bibit perbudakan manusia, yang kemudian berganti wajah dan tumbuh subur menjadi pohon perbudakan bangsa-bangsa yang negaranya memiliki Sumber Daya Alam melimpah (negara kita pun sejak jaman Bung Karno sudah mereka incer). Israel adalah salah satu anjing Amerika dan bangsa Yahudi adalah tuan besarnya.

Negara manapun, bukan hanya negara Arab, yang berpotensi membela Israel dengan darah dan harta, pasti akan digilas oleh Amerika dan sekutunya. Lihat saja Irak dan Iran. Pembela Palestina Adalah Mereka Yang Anti Perbudakan Manusia. Pembela Palestina Adalah Mereka Yang Anti Perbudakan bangsa, bukan hanya kaum Muslimin. Amerika dan sekutunya mirip serigala yang memangsa dengan sangat kejam dan serakah tanpa perikemanusian. Hak azazi manusia yang mereka dengungkan hanyalah slogan, mirip Nippon pada jaman Romusha. Apabila Saddam Hussen membangun bunker untuk mempertahankan negaranya, maka Guantanamo adalah tempat Amerika melestarikan sekaligus menyembunyikan wajah kebinatangannya tatkala mereka menyiksa, menganiaya manusia yang dibencinya.

Mungkin diantara Anda ada yang pernah demam Obama, jangan terlalu banyak berharap. Buktinya, si Barack Obama sampai kini masih bungkam. Skenario yang ditetapkan pada tahun 2007 dalam perjanjian antara Palestina dan Israel, ujung tahun 2008 adalah jadwal kemerdekaan penuh bagi bangsa Palestina, hanyalah iming-iming belaka. Cina dan Rusia mahfum akan strategi neo-kolonialisme. Namun, selama serigala ini tidak menerkam mereka, tidak mengusik negaranya, maka kedua negara yang punya hak veto itu akan bersikap independen demi kepentingan masing-masing.

Di luar konteks negara Islam, kewajiban membela bangsa Palestina bukan hanya beban kaum muslimin. Tetapi juga keharusan setiap bangsa yang ingin hidup mandiri lepas dari intimidasi dan eksplorasi oleh neo-liberalisme, neo-kolonialisme dan zionist. (ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR, mari kita bela Rakyat Palestina, demi melindungi negara kita dari cengkeraman zionist dan anteknya).

H. Bardan dari Kawula Alit Yang Peduli Kawula Alit


Lahir tanggal 12 Mei 1955 di desa Sukowetan, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Proses kelahirannya hanya dibantu seorang dukun bayi. Pria ini kemudian diberi nama Bardan.
Masa kecilnya tiada yang menonjol, rata-rata sama dengan anak sebayanya, namun tekun dan rajin membantu di sawah, mencari belut atau angon. Hingga remaja, setamat SMP meneruskan sekolah ke STM Karya Dharma di Karangsoko, Trenggalek. Saat itulah bakat kepemimpinan dan kepedulian terhadap sesama mulai menonjol.

Tahun 1975, setamat STM, Bardan muda meninggalkan Sukowetan menuju Tangerang. Dia tinggal bersama pakliknya. Di kota ini, pemuda Bardan bekerja serabutan dan berpindah-pindah juragan. Pernah jadi kuli bangunan, penjual rokok eceran, pencari barang bekas, kuli di pabrik kertas dan berbagai pekerjaan kasar lainnya.

Selama di perantauan, Bardan muda tidak pernah lupa pada desa kelahirannya. Setiap kali pulang dia senantiasa berinteraksi dengan lingkungan. Respon positif akan ditunjukkannya bila ada tetangga yang butuh bantuan. Beberapa tahun kemudian, puluhan anak muda di desanya diajak ke Jakarta bekerja bersamanya (orang desa kurang akrab dengan Tangerang, jadi menyebutnya Jakarta).

Bantuan maupun infaq yang dikucurkannya ke lingkungan, lebih sering melalui tangan saudaranya yang ada di desa. Baginya, apa yang dia lakukan bukan untuk pamer dan nama baiknya. Semua itu cuma bentuk solidaritas kecil yang tiada arti. "Apakah amal jariah, tanpa pamrih atau bukan, saya gak tahu. Biarlah Allah yang menilai". Katanya saat aku temui di rumah orang tuanya, ketika baru selesai memperbaiki rumah mbah Tumi yang ambruk dihantam topan. Rumah mbah Tumi sekarang lebih layak dihuni. Lantainya diplester, pekarangan dibersihkan. Bukan itu saja, perabot rumah yang luluh lantak rata dengan tanah 'dibruki' pondok yang roboh, juga diganti, seperti meja kursi dan tempat tidur yang langsung diambilkan dari Medari Indah -toko meubel di kota Trenggalek. Mbah Tumi adalah janda tua sebatangkara, usianya hampir 80 tahun. Di pondok itulah dia hidup seorang diri menanti sang Khaliq memanggil.

Bardan, cah Nggalek itu kini sudah cukup mapan. Meskipun demikian, dia tetap berpenampilan sederhana. Mobilnya ada empat, punya armada truk, peternakan sapi dan pemasok bahan baku (kertas bekas) ke beberapa pabrik kertas.

Di kota Tangerang, cah Nggalek ini dipanggil "pak Haji". Warga kota ini lebih merasa memilikinya dari pada warga desa Sukowetan tempat di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Pasalnya, H. Bardan dikenal ramah dan peduli lingkungan. Selain Ketua Kelompok Penggemuk Sapi Bangkit Jaya, dia juga Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Tangerang. Hubungannya dengan Walikota Tangerang H.Wahidin Halim (adik kandung Hasan Wirayuda mantan menlu kita) sangat akrab. Dibuktikan dengan -antara lain- hadiah satu unit delman+kuda dari Walikota ini untuk dirinya.

Menurutku, sungguh beruntung jadi H. Bardan, dia bisa menderma pada kaum dhuafa dan menyumbang atau membangun mushola dan masjid di sekitarnya. "Saya hanya anak desa, cah angon yang bukan apa-apa". Mungkin maksudnya dahulu dia hanya pemuda miskin yang merantau. Kariernya merangkak dari bawah selama belasan tahun. Pria paruh baya ini dalam radius ribuan meter dari tempat tinggalnya di perumahan Paris Indah Tangerang sangat dikenal masyarakat, mulai dari tukang ojek sampai lurah dan camat. Namun tak berniat jadi anggota Legeslatif. "Kalau saya mau, banyak yang menawari", dia menyebut beberapa nama pejabat setingkat dirjen dan menteri yang aktif di parpol.
Okay, gak usah aktif di politik, Pak Haji. Kataku, sebelum pulang. Dalam hati aku menambahkan "Tapi bantuin donk mushola di dukuh gue". Tidak kuucapkan, karena aku belum musyawarah dengan takmir. Iya, mushola kami memang sedang dibangun dan kekurangan dana. Namun belum tentu warga tidak mau "urunan". Hehehe, Pak Haji tentu gak akan pernah baca blog ini, sibuk urusan KTNA ame bisnis. Met sukses, Pak Haji Bardan, infaq, shodaqoh, jariah dan kurban dari Pak Haji sangat berarti bagi kami kawula alit Sukowetan. Semoga Allah meridloi, selalu melindungi dan menambah rizqi Pak Haji sekeluarga. Amin ya Mujibasshailin.

Minggu, 04 Januari 2009

Köngköw-köngköw di Awal 2009 "Jer Basuki Mawa Bea"

Pukul 20.15.44' Rabu 31 Desember 2008 sahabatku Nuruddin Hasan, yang sekarang menjabat Ketua DPD PAN Kota Kediri sms begini "Bsk tgl 1 januari sore hr insyaallah sy ke tr.galek. Bila berkenan, sy ingin bs ktemu dg jenengan dan mister agus purwanto, mlm harinya ato selasa pagi." (maksudnya mungkin Jum'at pagi, bukan Selasa) Segera aja aku balas, namun dengan halus aku menolak jika pertemuan dilangsungkan di rumahku. Aku merasa, tempat tinggalku "kurang pantas" untuk menjamu tamu sekelas dirinya. Jadi, kukatakan pertemuan di rumah mister Agus. Mister Agus adalah sahabat kami. Dia mantan wartawan/redaksi Suara Pembaruan dan Jayakarta, yang sekarang aktif sebagai 'ghost writer' bersama timnya di Jakarta. Kami bertiga di era 80-an adalah aktivis teater di Trenggalek.

Namun, pukul 17.06.11' 1 Januari 2009, aku terima sms-nya lagi: "Mohon maaf, krn istri sy lg sakit kepala, mngkn baru bs ke t.galek, bsk pagi, krn itu, janji ktemu mlm ini dg berat hati ditunda. Semoga kami dimaafkn atas penundaan ini. Nuwun." sms yang sama dikirim beberapa menit kemudian, dan aku sengaja tidak membalasnya. Nampaknya, pertemuan kami akan batal. Aku tidak membalas smsnya, karena bila pertemuan ditunda tanggal 2 Januari, aku tidak bisa. Sebab aku ada janji di Surabaya, bertemu dengan sahabatku Zul Nasution si-Batak dari Kotawaringin. Andai kukatakan alasanku ini, aku tidak ingin mister Nuruddin menganggap argumenku hanya bertujuan mengconter smsnya belaka.

Pada pukul 18.07.10', mister Nuruddin ternyata sms lagi 2kali "Bos, akhirnya jd mlm ini ke galek. Akan Bnrngkt jam 18.45,mlm ini, krn itu Mngkn ktemu agak mlm, jam 21.00 aja, tdk apa2 tho ?". Ba'da maghrib baru aku menjawab "Okay, gak apa2. masalahnya, besok saya harus ke s.baya. Kita ketemu di rumah agus saja. Maaf, terlambat balas". Maka pada pukul 20.10, aku meluncur ke kota Trenggalek dengan menyandang tas berisi perlengkapanku dan pakaian untuk menginap selama 2 malam di Surabaya. Rencanaku, kami nanti akan "kongkow-kongkow" melepas rindu hingga subuh, kemudian aku langsung berangkat ke Surabaya.

Sesuai jadwal, mobil berselimut gambar mister Nuruddin (caleg dari PAN Kota Kediri), tiba di rumah orang tua mister Agus. Mister Nuruddin turun di kawal 2 'bodyguard'nya. Dan kami jadi bernostalgia. Bicara ngalor ngidul, mulai dari krisis ke krisis, harapan ke harapan,masalah-masalah internasional khususnya tentang agresi zionist Israel ke Palestina,hingga sukses yang diraih PAN dalam pilihan Walikota/Wakil Walikota Kediri, juga sampai pada masalah kekejaman dalam dunia politik.

Dari obrolan kami, kali ini ada poin yang kuanggap penting, yakni "jer basuki mawa bea", dalam meraih sukses dibutuhkan biaya. Nampaknya fenomena ini memang tidak bisa dielakkan. Kami sependapat. Walaupun demikian, mister Agus dan aku, tetap saja tidak setuju bila paradigma 'money politic' dibiarkan berlanjut meracuni demokrasi dalam manefestasi perilaku politik masyarakat kecil. Karena efek domino yang ditimbulkan, akhirnya hanya akan berujung pada keterhambatan laju pertumbuhan tingkat kualitas hidup masyarakat secara mendasar dan berkepanjangan.
Ironisnya, justru masyarakat awam seakan menjembatani proses kelangsungan paradigma ini.

Tapi, ada satu hal (dan bagiku cukup menggembirakan!) yang ditegaskan oleh mister Nuruddin, bahwa dirinya sebagai anggota Komisi Anggaran DPRD Kota Kediri, tidak pernah menarget birokrat atau lembaga terkait dalam memutuskan suatu anggaran, seperti rumor yang ramai beredar di beberapa kabupaten. Menurutnya, tindakan itu sangat hina dan melenceng dari semangat reformasi. Apa yang didapat oleh anggota dewan dari pemkab/pemkot sudah lebih dari cukup. Juga termasuk untuk menutupi biaya kampanyenya sewaktu masih jadi caleg.
Aku berpendapat penghasilan anggota legeslatif berbeda, tergantung pada kemampuan keuangan daerah masing-masing. Kediri Kota, kan jauh lebih kaya dibanding Pacitan atau Trenggalek. Faktor kedua, adalah kualitas manusianya (IQ, EQ, dan terutama SQnya). Sehingga manover trik perkaya diri masih dimungkinkan terjadi di semua lini pemerintahan.

Pukul 01.45 Jum'at dini hari, kami pamit pulang dari rumah orang tua mister Agus di Surodakan. Aku diantar mas Nuruddin ke terminal, dan langsung naik Pelita tujuan Surabaya. Di tengah perjalanan kami sms-an, ada beberapa yang perlu kucantumkan dalam catatan ini.

Nuruddin : Mas, akan lebih produktif kali smpyn focus pd satu target sasaran, ~jd penulis lepas sbg andalan penopang hidup. Penulis sbg main job ato ~jd penulis lepas hanya sbg sampingan, bkn sbg andalan penopang hidup, hanya sbg supporting job. ~mngkn hanya selintas saran & pikiran kaum tulalit sptku. ~sholta shubuh dulu ya? ~sdh sampai dimana bos skrng ini?

Aku : Trims, saran anda telah menambah wawasan dan akan jadi bahan pertimbangan. Maaf, tadi saya tidur. Skrg sdh di mojokerto. (dia sms aku sudah berkali-kali, dan baru aku jawab. kebiasaanku tidur di kendaraan ketika dalam perjalanan).

Nuruddin : ~semoga kita mampu menjadi terang di relung-relung kehidupan yang gelap gulita, ~semoga kita menjadi harapan di tengah terlampau banyaknya manusia yang hanya mampu berharap, ~semoga kita memiliki spirit pengorbanan spt yang dimiliki oleh tokoh-tokoh sejarah, ~walhasil, Mari bersama2 kita hadapi masa depan yang penuh tantangan ini dengan kejujuran, kecerdasan, kedewasaan dan kerendahan hati. SELAMAT TAHUN BARU MILADYAH 2009 (Salam: Nuruddin Hasan)

Aku : Pertemuan ini adalah hikmah, perpisahan hanyalah dusta. Jangan biarkan diri menjadi sebab saudara berbuat nista, indahnya hidup andai kita memberi makna pada warna rona di mata telinga kita, pujian bukanlah kata, cacian hanyalah cerita, nistaan sekedar sapa, kematian bagi kita tanpa rupa, hidup adalah makna bukan cinta, bukan fana. (mjkerto, 2 jan. 2009 di bis pelita).

Demikianlah hubungan keakraban kami, mungkin bermanfaat. Yang jelas aku bukan anggota PAN, tapi sangat mendukung Caleg yang berkualitas. wallahu'alam bisawab.

Please Read This For Peace
(Mohon Baca Ini, Demi Persahabatan)




Disclaimer

I don't and never claim ownership or rights over images published on my blog unless specified.
All images are copyright of their respected creators. If any images that appear on my blog are in violation of copyright law, please contact me on my Chat Box/Guest Book or via my e-mail (maksumhamid [at] trenggalekjelita [dot] web [dot] id) and I will remove the offending pics as soon as possible.

Thank You So Much All Guests and Blogger Friends

I greatly appreciate your kindness to visit my blog and,
in return, I promise I will pay my own visit to your blogs or your sites as soon as possible.; Insyaallah, through this sort of social amiability and solidarity, we could find out a great
deal of thing which will be useful for advancing our human values.
For the sake of friendship and togetherness, please leave a sign of your presence on myChat Box/Guest Book or on comment, so that I can know it precisely and instantly.


Yours sincerely and best regard.
[Lina CahNdeso]

Categories

Senandung Kawula Alit (280) PNS dan Birokrasi (255) Artikel (223) Info (212) Pendidikan (163) Lowongan Kerja (161) Sains-Teknologi Informasi (151) Sejarah Trenggalek (145) Pembangunan (90) Politik (86) Bagi Pahlawan Kemerdekaan (83) Islam (70) Pra-Anggapan (70) Agamaku (69) Kriminal (69) UU-Peraturan (63) Anti Korupsi (60) Catatan Budaya (58) Antik dan Klasik (57) Olahraga (56) Numpang Niwul (54) Cinta dan Kasih Sayang (42) BisnisOnline (37) Tanggung Jawab dan Profesionalisme (37) Software (36) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (35) Sains-Teknologi (32) Biografi Tokoh Peraih Nobel (31) PTC (31) Legeslatif (30) Mesum (27) Palestina (27) Kesehatan (25) Info Beasiswa (24) Thiwul-Manco-Rengginang (22) Zionist (22) Artikel-Copas (21) Flora/Fauna (21) Trik dan Tips Blogging (21) Bencana Alam (20) Langka (20) Selebritis/Tokoh (19) Pariwisata (18) Piala Dunia 2010 (18) Kasus Korupsi (16) Sejarah Dunia (16) English Version (13) Antik dan Klasik. Dongeng (11) Fakta Unik (11) Berita CPNS (9) Fauna (8) Idul Fitri (8) Bencana (6) Bonsai (6) Film (6) Office (6) Poetry (6) Eksekutif (5) My Award (5) Antivirus (4) Biografi Tokoh Lokal (4) Kabinet (4) Puisiku (4) Guest Book (3) Lomba (3) Musibah (3) Polisi (3) Affiliasi Bisnis (2) Bank (2) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (English) (2) Ekonomi/Keuangan (2) Iklan/Pariwara (2) KIB Jilid 2 (2) Mbah Surip (2) Merapi (2) Musik (2) Pelantikan Presiden (2) Taxi (2) lebaran (2) Adipura (1) Alexa (1) Banner Sahabat (1) Biografi Tokoh Seni/Sastra Lokal (1) Catur (1) Cerpen (1) Daftar Posts (1) Dewa Ruci (1) Forex-JSS-JBP (1) GTT (1) Game (1) Google Sandbox (1) Hari Jadi (1) Irshad Manji (1) Jamu Tradisional (1) Jelajah Sepeda-Kompas (1) Jimat Trenggalek (1) Judi/Togel (1) Kuliner (1) Malaysia (1) Maria Verchenova: Russian golferMaria Verchenova: Russian golfer (1) Moammar Khadafi (1) Parcel (1) Perempuan (1) Pers (1) Pramuka (1) Psikologi (1) Resensi Buku (1) Sepak Bola (1) Sumpah Pemuda (1) TNI (1) Tradisional (1)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes

Back To Top