- Menjadi Wakil Menteri PU, Dilantik Besok Rabu (11/11)

- Nama Lengkap : DR. Ir. Achmad Hermanto Dardak, MSc.
- N.I.P / KARPEG : 110025773 / D.119437
- Agama : Islam
- Tempat/Tanggal Lahir : Trenggalek, 09-01-1957
- Pangkat Terakhir : Pembina Utama (IV/E) TMT : 01-04-2006
- Jabatan : Direktur Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum
- Status Perkawinan : Kawin
- Nama Istri : Ir. Sri Widayati, MT
- Jumlah Anak : 4 (empat) orang
Seorang muda yang dikenal cakap dengan kumis tebal, berpenampilan lembut dan sederhana, saat itu dia baru saja lulus dari ITB dan masuk ke lingkungan Bina Marga; menjadi staf di Subdit Pembinaan Jalan Kota. Pilihan ini ternyata sangat tepat didasarkan atas kemampuannya di bidang jalan dan ketekunan dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Dengan kaca mata tebal, ciri seorang yang haus membaca mudah dapat dikenali, dan memang terbukti dalam perjalanan karirnya menjadi bagian yang memberinya bekal yang sangat baik. Karir diawali pada tahun 1980-an, pengetahuannya terus meningkat dengan antara lain mengikuti pelatihan di Inggris tentang software manajemen jalan dan lalulintas perkotaan. Selama masa studi 1983/1984 pemuda brilian ini mampu menyelesaikan masternya di Universitas New South Wales dalam waktu satu tahun. Melihat prestasi dalam program master dan potensi yang dimilikinya tersebut, maka Universitas memberikan rekomendasi untuk meneruskan program Doktor yang didukung pula oleh Dirjen Bina Marga Suryatin dengan biaya dari pemerintah Australia.
Pemegang banyak jabatan struktural dan berbagai fungsinya, Hermanto menapaki jenjang karir dengan mulus. Setelah meraih gelar Doktor, berbagai jabatan telah dipegangnya, diawali dengan menjadi Kepala Bidang Teknik Jalan Pusjal Dep PU pada tahun 1990 setelah sebelumnya dalam masa singkat ditugaskan di Direktorat Bina Jalan Kota. Proses pembelajaran dan pematangan terus berlanjut sejalan dengan berbagai tugas yang diembannya.
Berbekal pengalaman dan keingin tahuan, Hermanto pada jabatan ini terus mendalami masalah mulai dari karakteristik campuran perkerasan setelah sebelumnya di lingkungan Binkot telah menggeluti masalah transportasi. Pengetahuan tentang jalan antara lain bertambah dengan mengenalkan berbagai resep konstruksi perkerasan jalan baik beton semen maupun beton aspal, termasuk penggunaan alat deteksi jalan tanpa merusak seperti Falling Weight Deflectometer dan pendataan otomatis pola kerusakan permukaan jalan. Perubahan konsep perencanaan jalan juga dipelajarinya baik yang empiris maupun analitis.
Pada tahun 1993 dipindahkan lagi dan bertugas sebagai Kabag Perencanaan Umum di Biro Perencanaan yang orientasi kerjanya lebih terfokus kepada infrastruktur ke-PU-an. Keterkaitan antara tataguna lahan dan transportasi menjadi bagian tugasnya, yang harus memikirkan keseimbangan antara pembangunan jalan dengan tata guna lahan dan berfikir multi sektor. Garis tangannya sebagai pemegang jabatan terus berlanjut karena pada tahun 1995, dipromosikan menjadi Eselon II sebagai Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri pada usia yang relative muda pada usia 38 tahun. Pada saat itu berbagai tugas yang diembannya antara lain menyiapkan dan memantau pinjaman luar negeri, maupun melaksanakan tugas kerjasama dengan berbagai Negara, antara lain menjadi Ketua maupun anggota pada berbagai pertemuan Internasional seperti ESCAP, ASEAN, maupun pertemuan bilateral. Pada tahun 1998 tugas baru diembannya, yaitu sebagai Kepala Biro Perencanaan sehingga banyak menggeluti masalah keterpaduan, rencana, maupun sinkronisasi program infrastruktur ke-PU-an, dan pada tahun 1999 Hermanto menjabat Sekditjen Bina Marga. Selanjutnya Departemen PU dipecah menjadi Departemen Kimbangwil dan Meneg PU, Hermanto pada masa ini menjadi Asisten Deputy dalam bidang infrastruktur jalan. Perjalanan karirnya berlanjut pada saat penggabungan menjadi Dep Kimpraswil sebagai Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri. Tahun 2002, Hermanto menjadi Kepala PUSKABIJAK, selanjutnya menjadi staf akhli Menteri bidang Otonomi Pembangunan Regional.
Dari jejak rekam profesionalnya tersebut yang telah menyandang berbagai fungsi strategis akhirnya pada tahun 2005 - 2007, Hermanto mendapat tugas dengan beban lebih berat yaitu menjadi Direktur Jenderal Penataan Ruang. Pada masa tugasnya telah diselesaikan antara lain diundangkannya UU Penataan Ruang yang baru, ditetapkan jabatan fungsional Penataan Ruang, maupun diperolehnya keandalan mutu ISO dikelembagaan Hukum Penataan Ruang. Kembali garis tangan aslinya sebagai akhli jalan, sejak Juli 2007 Hermanto ditugaskan menjadi Direktur Jenderal Bina Marga. Terakhir ini sangat mungkin merupakan jabatan yang paling tepat sesuai dengan latar belakang pendidikan dan awal karirnya di jajaran Bina Marga. Terbukti dengan beberapa konsep yang kemudian ditawarkan untuk peningkatan program pengembangan jalan di Indonesia.
Berikut ini adalah pikiran dan program ringkasnya yang dijalankan selama menjabat sebagai Dirjen Bina Marga, sekaligus didaulat sebagai Ketua Umum HPJI.
Zero potholes Idaman Hermanto dimasa mendatang, jalan harus memiliki kinerja sangat baik dengan antara lain meminimalkan lubang atau kerusakan jalan. Konsep Zero Potholes diharapkan dapat dilaksanakan sehingga pada tahun 2009 tidak ada lagi jalan dengan kerusakan lubang, karena akan diatasi dengan segera, khususnya untuk jaringan jalan nasional. Untuk menerapkan program ini, telah dilakukan berbagai penyesuaian, manajemen pemeliharaan, preservasi, agar semakin pro-aktif dengan membentuk berbagai gugus tugas maupun penyiapan pedoman manual yang disamping untuk jalan nasional juga dapat digunakan di tingkat jalan provinsi dan kabupaten. Program ini diharapkan akan sangat membantu dalam menjaga asset jalan agar tetap berfungsi secara optimal dan sekaligus meningkatkan kapasitas dan layanan bagi para pengguna jalan agar mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Preservasi Jaringan Jalan Target Hermanto dalam kontek ini adalah jalan yang yang semakin kuat dan semakin luas. Pada tahun 2007 telah terbangun 78.000 lajur km dan ditambah dengan 4.000 lajur km sehingga pada akhir tahun 2008 menjadi 28.000 lajur KM. Penambahan dapat berupa jalan by pass, flyover, atau bentuk pelebaran jalan sebagaimana dilaksanakan di jalur Pantura. Pada jalur tersebut ditambahkan dari dua lajur menjadi empat lajur. Konsep ini didasarkan atas peningkatan daya tampung berbasis keseimbangan secara makro. Pendekatan ini juga diarahkan untuk mengoptimalkan fungsi jalan, dengan catatan akan dilakukan pendekatan khsusus untuk daerah perkotaan dan lebih khusus lagi di wilayah metropolitan.
Sistem Jaringan Jalan Menerus Di Perkotaan Guna meningkatkan layanan bagi pengguna jalan, perlu diterapkan konsep jalan tidak terputus. Konsep ini menurut Hermanto didasarkan atas pemikiran kelancaran arus dan melayani lebih luas dengan pengurangan gangguan yang tidak perlu. Konsep pembuatan jalan lingkar dan radial adalah salah satu model yang diterapkan di kota besar dan metropolitan. Pengembangan kota yang menjadikan tumbuhnya kota satelit diantara kota inti menghasilkan pola perjalanan regional dalam satu kota besar metropolitan. Sebagai ilustrasi di DKI Jakarta konsep ini diterapkan dengan telah dibangunnya lingkar pertama Cawang-Pluit-Tanjung Priok, selanjutnya sedang dibulatkan penyelesaian lingkar Ulujami-Cikunir-Tanjung Priuk (JORR) dan lingkar ketiga Bandara-Kunciran-Serpong-Cimanggis. Dengan pembangunan tiga lingkar tersebut menjadikan struktur jalan lingkar di DKI Jakarta menjadi 3 lingkar yang didukung oleh 8 jalan redial, antara lain jalan tol Jakarta-Tangerang, jalan Daan Mogot, jalan tol Jagorawi, maupun jalan tol dan non tol Jakarta-Cikampek. Perlu pertimbangan yang lebih komprehensif agar terjadi keseimbangan antar moda, antara lain dengan penyediaan moda angkutan massal-mass rapid transit, sehingga peran jalan jangan terlalu dominan. Hal ini mengingat keterbatasan lahan di perkotaan sehingga angkutan massal dapat melayani secara efisien. Mempertimbangkan tahapan pembangunan, angkutan massal yang memerlukan waktu cukup panjang, maka sedang dikembangkan pula pembangunan jalan lingkar terdalam yang menghubungkan Kampung Melayu-Tomang-Kemayoran dan kembali ke Kampung Melayu berupa jalan langsung yang akan disinerjikan dengan angkutan massal di jalan tersebut.
Pendanaan Jalan Terkait dengan pendanaan penyelenggaraan jalan Hermanto menyatakan harus ada konsep berbasis ada dana minimum untuk infrastruktur jalan guna menjamin berfungsinya jalan yang ada. Infrastruktur jalan diyakininya sebagai urat nadi ekonomi dan jalan merupakan modal sosial masyarakat. Harus disiapkan dana minimal untuk infrastruktur melalui antara lain penyiapan dan penerapan dana multi tahun sehingga ada keterjaminan pelaksanaannya dimasa mendatang. Konsep ini antara lain telah diterapkan pada jalan Pantura, Lintas Timur Sumatera. Pendanaan juga diharapkan dari pihak swasta untuk membangun jalan tol. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah pembangunan jalan tol disamping pada ruas yang sepenuhnya layak secara financial yang dapat diberikan dukungan pemerintah pada jalan yang tidak sepenuhnya layak financial. Jalan yang dipandang secara ekonomi layak, yaitu seperti pada ruas jalan tol Kertosono - Solo, dengan pendanaan yang dilakukan secara patungan antara pengembang dan pemerintah. Model pendanaan lain adalah pembangunan fisik oleh pemerintah dan setelah selesai baru ditawarkan melalui tender Investasi kepada Investor. Program dimasa mendatang agar penyelenggaraan jalan berkelanjutan perlu diterapkan konsep Road Fund melalui pendekatan "fee for service". Disamping itu, penyelenggaraan manajemen jalan yang sudah mulai diterapkan, seperti kontrak multi years, masa pemeliharaan kontrak yang lebih panjang (Extended Warranty Period), kontrak berbasis kinerja, maupun konsep manajemen jaringan jalan yang perlu terus di intensifkan penerapannya. Demikian pula penerapan berbagai alternative teknik yang sudah dimulai penerapannya seperti recycling, penerapan beton semen precast, semi ekstraksi asbuton, maupun struktur pile-slab untuk jalan di tanah lunak serta teknologi jembatan panjang perlu pula secara lebih intensive diterapkan.
SDM Jalan Hermanto menjadikan pembinaan SDM bidang jalan sebagai prioritas karena tantangan dimasa mendatang sangat berat. Perlu dikembangkan sistem pembinaan dengan menerapkan sistem berbasis kinerja (marit), artinya dengan memberikan penghargaan bagi yang berprestasi. Dalam kaitan ini diharapkan HPJI dapat turut berperan antara lain dengan melaksanakan kegiatan pelatihan maupun sertifikasi, agar baik kuantitas maupun kualitas SDM Bina Marga maupun Mitra Kerja menjadi lebih baik.
HPJI dan harapan ke depan HPJI adalah organisasi profesi yang besar di Indonesia perlu menjadi kebanggaan bagi semua pemangku kepentingan, baik anggota maupun sebagai pengurus di tingkat pusat maupun daerah, yang keanggotaan sudah melebihi 17.000. Menurut Hermanto perlu dikembangkan suatu bentuk manajemen unik di HPJI agar lebih memberikan manfaat bagi anggotanya yang tersebar di berbagai DPD HPJI dan bermanfaat pula bagi masyarakat. Berbagai program telah dilakukan HPJI perlu terus dikembangkan sehingga memfasilitasi adanya wahana pertukaran pengalaman di antara anggota HPJI maupun profesional yang lain. Sertifikasi internasional bagi anggota HPJI juga menjadi perhatiannya. Dimasa depan diharapkan anggota dapat lebih aktif dalam berbagai kegiatan khususnya jaringan internasional, dan aktifitas tersebut perlu didorong oleh HPJI. Dengan demikian akan nampak kontribusi lebih nyata dan tingkat kemampuan dari anggotanya dalam kancah profesionalisme pengembangan jalan. Hal ini juga diperkaya dengan variasi keahlian dan bidang keilmuan dari anggota HPJI.
Keluarga Hermanto seorang abdi Negara baik di pemerintahan maupun di berbagai organisasi yang dikenal oleh masyarakat jalan sebagai pekerja keras yang tidak pernah mengungkapkan kata lelah, dibalik kehidupan karirnya, ternyata Hermanto juga berhasil membina keluarganya dengan baik. Hermanto adalah suami dari Ir. Sri Widayatie, MT, yang dengan bekal Iptek yang dimilikinya, selain sebagai ibu rumah tangga, ny. Hermanto juga menerapkan ilmunya sebagai Dosen di Universitas Jayabaya. Dari ke-empat orang putra putrinya, DR. Emil Elestianto D, MSc (24 tahun) adalah putera sulung, dan atas karunia Yang Maha Kuasa dalam usia 22 tahun Emil telah sukses menyandang gelar S-3 nya. Emil sang Junior, terlahir pula sebagai putera brilian yang telah dibuktikannya diawali dengan perolehan penghargaan sebagai Siswa Teladan peringkat Pertama SMP di tingkat DKI Jakarta. Demikian pula ketika di bangku SMA; Emil memperoleh beasiswa Institution di Singapore. Pada jenjang pendidikan tinggi, beasiswa S-3 diperolehnya pula dari Universitas Ritzumikan Asia-Pacific di Jepang. Emil bagaikan sang ayah, senantiasa aktif di dunia organisasi, antara lain sebagai ketua executive forum komunikasi alumni luar negeri maupun pengurus Ikatan Ahli Perencana Nasional (IAP). Emil sudah ngentas dan meniti karirnya di perusahaan Ekonomi dan Investasi yang merupakan salah satu clien dari World Bank dan juga sebagai Dosen di program International Universitas Indonusa. Amila Alistiawati 20 tahun adalah puteri kedua yang akan di wisuda pada bulan Desember 2008 di Universitas Tasmania Australia (bidang Corporate Governance & Design). Putera ketiga Eril Arioristanto 11 tahun serta Eron Ariodito 8 tahun, keduanya masih berada di Sekolah Dasar Cipinang Melayu 03 pagi. Nampaknya generasi Hermanto akan termotivasi di dalam keilmuan dan berbagai karya sebagaimana perwujudan dari kedua orang tuanya yang memiliki dedikasi yang tinggi, amin.
Selamat berkarya HERMANTO DARDAK, sebagai putera yang terlahir di HPJI, semoga semangat dan keberhasilan yang diraih dapat menjadikan HPJI sebagai organisasi profesi yang bermanfaat bagi anggota dan masyarakat, Insya Allah..............(Sumber : Majalah JALAN Edisi 112)





22.43
Lina CahNdeso
Posted in: 






![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss-rogers.png)





2 Komentar:
bocah nggalek to
Lah inggih, to.... dalemi pun rumiyin sak kilene caket RKPD Nggalek...
Posting Komentar
"Bila Anda berkenan, dengan segala kerendahan hati, saya mohon, sudilah menuliskan komentar di sini; Bagi Anda yang berniat Copas konten blog, saya persilahkan, dan tolong link balik diikutkan. Terima kasih, Love and Peace".