KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
Tim Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta HUT ke-45 Kompas melintasi kawasan pegunungan di Kecamatan Suruh Trenggalek, Jawa Timur, pada etape ketiga, Jumat (25/6/2010). Tim jelajah menjalani etape ketiga dari Trenggalek menuju Pacitan sejauh 112 kilometer.
Tim Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta HUT ke-45 Kompas melintasi kawasan pegunungan di Kecamatan Suruh Trenggalek, Jawa Timur, pada etape ketiga, Jumat (25/6/2010). Tim jelajah menjalani etape ketiga dari Trenggalek menuju Pacitan sejauh 112 kilometer.
Pacitan (prigibeach.com) - Meskipun hampir sepanjang jalan pada etape ketiga dari Trenggalek menuju Pacitan, Jawa Timur, Jumat (25/6/2010, disaput awan mendung, namun jalur yang dilalui adalah tanjakan ekstrem. Cuma sedikit terhitung bonus atau jalan menurun yang dirasakan tim.
Sebagian besar anggota tim Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta tumbang pada tanjakan dan harus dievakuasi ke mobil, ada juga yang memilih nggandul sampai menemui jalan menurun. Pada etape ketiga sejauh 112 kilometer, terhitung ada tiga tanjakan panjang yang sangat menguras tenaga. Tanjakan pertama yaitu di Kecamatan Suruh, Trenggalek yang harus ditempuh tim sejauh 10 kilometer, kemudian di sekitar perbatasan Trenggalek menuju Kecamatan Sudimoro, Pacitan, dilanjutkan tanjakan yang lebih panjang di Ngadirejo hingga masuk kota Pacitan.
"Tanjakannya brutal, gila dan menguras habis tenaga," kata Max alias Agung Pribadi dari Harian Warta Kota (Kelompok Kompas Gramedia).
Pada tanjakan ketiga, bahkan Max tercecer jauh terpisah dari anggota tim jelajah. Dia beberapa kali turun dari pedal dan memilih menebeng ditarik menggunakan mobil. Rendy dari Komunitas Ontel Batavia dengan lantang berteriak, "Stres!" Ia mengakui jalur etape kali ini memang luar biasa.
Hal yang serupa diakui Arfan, 51 tahun dari Gading Serpong MTB. "Jalurnya dahsyat sekali, kalaupun disuruh saya tidak mau lagi kembali ke jalur itu, tidak ada yang menyaingi tanjakan di jalur tersebut. Cianjur dan Puncak gak ada apa-apanya," kata Arfan.
Lebih parah yaitu Ubai dan Purwadi dari KG Cyclist. Sejak tanjakan di awal etape ketiga mereka sudah dievakuasi ke dalam bak mobil dobel kabin. Ubai mengakui selain jalur tanjakan sangat berat, jalan juga banyak yang rusak.
"Nafas sudah tidak tahan lagi, saya tidak sanggup. Saya sempat putus asa dan mengira-ngira apakah saya sanggup terus. Dalam hati saya sempat mengatakan ini pengalaman pertama dan tidak akan mau lagi," ujar Ubai.
Karena jalur yang berat, akibatnya tim yang semula dijadwalkan tiba di Pacitan pada pukul 15.00, baru bisa tiba petang tadi sekitar pukul 18.00. Tapi semua bersyukur. Kali ini tidak ada kecelakaan berarti yang dialami tim. Para penggenjot sepeda yang semula dievakuasi di mobil, ketika jalan menurun dan masuk kota juga kembali gowes bersama menuju garis akhir etape ketiga.
Bukan Adu Balap
Marta Mufreni dari tim Polygon yang menjadi Road Captain Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta, sejak awal keberangkatan etape ketiga di Trenggalek sudah menegaskan kepada anggota tim mengenai fakta kondisi medan ekstrim yang mereka lalui."Saya sampaikan sekali lagi bahwa kegiatan kita kali ini bukan balap sepeda, bukan lomba atau adu kecepatan dan kekuatan. Sejak awal kita utamakan kebersamaan dan kekompakan, kalaupun ada yang kelelahan dan tertinggal itu kita maklumi," katanya.
Menurutnya, anggota tim akan mulai mendapat ujian berat saat menuju Pacitan hingga Solo dan Yogyakarta nanti. Setelah itu akan bisa diukur seberapa semangat mereka untuk bisa menuntaskan perjalanan hingga Jakarta pada 4 Juli nanti. (kompas)





09.16
Lina CahNdeso

Posted in: 






![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss-rogers.png)





0 Komentar:
Posting Komentar
"Bila Anda berkenan, dengan segala kerendahan hati, saya mohon, sudilah menuliskan komentar di sini; Bagi Anda yang berniat Copas konten blog, saya persilahkan, dan tolong link balik diikutkan. Terima kasih, Love and Peace".