Hubungan sex sedarah (incest) sesungguhnya memang banyak terjadi di belahan dunia ini. Ada yang terungkap di muka umum, namun masih banyak yang menjadi rahasia dalam sebuah keluarga. Incest dalam petunjuk setiap agama samawi sangat tidak dianjurkan dengan berbagai pertimbangan yang pada dasarnya menyangkut masa depan keturunan yang dihasilkan dari perbuatan itu.
Banyak para pelaku incest beranalogi perkawinan antara anak cucu Nabi Adam AS di awal dunia ini menjadi istana manusia. Padahal, pernikahan sedarah pada masa itu memang harus dilakukan karena memang menjadi kehendak-Nya, kehendak yang Maha Pencipta. Adam dan Hawa setiap kali melahirkan selalu kembar, lelaki dan perempuan. Dan itu sudah menjadi jodoh masing-masing.
Lama berlalu, keturunan Adam dan Hawa sudah beranak pinak, dan mereka hidup dalam suatu tempat yang pada akhirnya terpisah-pisah, serta membentuk berbagai kaum atau suku bangsa. Pada kurun inilah, perkawinan sedarah tidak lagi dianjurkan. Dengan pengertian, keistimewaan incest tidak lagi dilindungi oleh kekuasaan Tuhan. Sebab bila perkawinan sedarah itu tetap dilakukan, maka keturunan yang buah perkawinan pasangan itu akan mengalami ketidak-sempurnaan, mungkin dalam hal fisik atau dalam kejiwaannya, bahkan bisa jadi secara fisik dan mental keturunan hasil incest itu terlahir cacat total.
Di beberapa tempat di Nusantara ini masih ada tradisi bila seorang ibu melahirkan anak kembar sepasang lelaki dan perempuan, maka keduanya harus dipisahkan sejak kecil. Kemudian pada saat mereka dewasa, kedua bersaudara kembar itu dipertemukan dalam sebuah ikatan perjodohan. Sebuah tradisi yang salah kaprah dan hanya mengikuti sejarah purbakala, serta melanggar aturan agama samawi.
Di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan, juga ada kebiasaan menikahkan saudara sepupu (misanan). Di Jawa, Sumatera, atau bahkan di daerah timur Indonesia, kebiasaan ini juga masih sering dilakukan. Pada umumnya, secara rahasia, alasan pernikahan sedarah ini hanya karena ingin agar harta kekayaan keluarga tidak mengalir ke luar trah mereka. Atau karena alasan "darah biru", dan untuk mempertahankan kualitas keturunan.
Perbuatan itu sebenarnya sangat bertentangan dengan teori kesehatan dan ajaran agama samawi. Terutama bila perkawinan sedarah ini berlangsung antara pasangan yang masih wajib garis keturunannya, seperti anak dari garis laki-laki. Karena gen laki-laki secara tegas lebih mendominasi keturunan manusia dalam proses regenerasinya.
Dalam postingan terdahulu saya sajikan berbagai dalil dan kisah tentang incest, kali ini sebagai contoh, saya kutip dari vivaNews akibat dari perkawinan sedarah.
Masalah kesehatan mendera keluarga Charles Darwin akibat perkawinan dengan keluarga dekatnya. Temuan ini berdasarkan studi terbaru yang mengungkap ironi kehidupan pencetus teori evolusi itu.
Darwin yang menemukan teori sifat genetik mempengaruhi kelangsungan hidup organisme, baik individual maupun spesies, seumur hidupnya mempertanyakan, apakah perkawinannya dengan sepupu pertamanya, Emma Wedgewood memiliki 'efek jahat perkawinan sedarah', yang dia pelajari dari tumbuhan maupun hewan.
Tiga anaknya Darwin meninggal sebelum berusia 10 tahun, dua diantaranya terserang penyakit menular. Sedangkan yang selamat sakit-sakitan.
Menurut peneliti Ohio State University dan Universidad de Santiago de Compestela Spanyol, keluarga Darwin diduga menderita masalah reproduksi.
Perkawinan sedarah bisa menyebabkan masalah kesehatan. Gen pembawa sifat yang buruk lebih besar muncul pada anak dari perkawinan sedarah dibanding anak dari perkawinan tidak sedarah.
Sebaliknya, jika gen kedua orang tua memiliki juga gen pembawa sifat yang baik, maka kemungkinan gen sia anak memiliki sifat yang baik juga lebih besar.
Studi terbaru ini dimuat secara rinci dalam jurnal Bioscience, memasukan data silsilah keluarga Darwin-Wedgwood ke dalam program komputer khusus yang menghasilkan "koefisien pernikahan sedarah" -- yang menunjukan kemungkinan satu individu mendapatkan dua salinan gen yang dihasilkan dari pernikahan antarkerabat.
Hasilnya, mengungkapkan pernikahan sedarah adalah faktor yang mungkin jadi penyebab lemahnya kesehatan anak-anak hasil perkawinan sedarah.
Anak-anak Darwin menderita dampak buruk pernikahan sedarah dalah derajat yang 'moderat'. Jika praktek perkawinan antarkerabat diteruskan, analisa menunjukan keterkaitan antara kematian anak usia dini dan perkawinan sedarah makin kuat,
Penelitian juga mengungkap bahwa pernikahan antar kerabat adalah praktek yang biasa di keluarga Darwin.
Ibu Darwin dan kakeknya juga bernama belakang Wedgwoods -- nama yang sama dengan istrinya. Kakek dan nenek Darwin masih keluarga dekat, sepupu ketiga.
Dari penelitian yang didasarkan catatan kelahiran dan kematian ditemukan, pada akhir abad ke 19 perkawinan sedarah adalah hal yang biasa di keluarga kaya dan terpandang. Mereka berharap perkawinan untuk bisa menghasilkan keturunan yang baik.
Selain meneliti silsilah, para peneliti juga mengkaji DNA dan analisa radiologi tulang untuk meneliti warisan genetik. Jenis penelitian ini juga dilakukan terhadap mumi.
Pada Februari 2010, sebuah tim peneliti internasional mengumumkan temuannya, bahwa koefisien perkawinan sedarah yang derajat tinggi diduga kuat menyebabkan kematian diri anak firaun, Raja Tutankamun.
Akibat negatif perkawinan sedarah juga diduga mengakhiri Dinasti Habsburg -- yang pernah memerintah Spanyol selama hampir 200 tahun.
Bila Anda memang benar-benar mencintai keluarga dan anak keturunan, maka hindarilah incest dan jangan sekali-kali mencoba melakukan perkawinan sedarah terutama yang masih erat dalam silsilah garis keturunan.
Salam hangat.....semoga bermanfaat.
Banyak para pelaku incest beranalogi perkawinan antara anak cucu Nabi Adam AS di awal dunia ini menjadi istana manusia. Padahal, pernikahan sedarah pada masa itu memang harus dilakukan karena memang menjadi kehendak-Nya, kehendak yang Maha Pencipta. Adam dan Hawa setiap kali melahirkan selalu kembar, lelaki dan perempuan. Dan itu sudah menjadi jodoh masing-masing.
Lama berlalu, keturunan Adam dan Hawa sudah beranak pinak, dan mereka hidup dalam suatu tempat yang pada akhirnya terpisah-pisah, serta membentuk berbagai kaum atau suku bangsa. Pada kurun inilah, perkawinan sedarah tidak lagi dianjurkan. Dengan pengertian, keistimewaan incest tidak lagi dilindungi oleh kekuasaan Tuhan. Sebab bila perkawinan sedarah itu tetap dilakukan, maka keturunan yang buah perkawinan pasangan itu akan mengalami ketidak-sempurnaan, mungkin dalam hal fisik atau dalam kejiwaannya, bahkan bisa jadi secara fisik dan mental keturunan hasil incest itu terlahir cacat total.
Di beberapa tempat di Nusantara ini masih ada tradisi bila seorang ibu melahirkan anak kembar sepasang lelaki dan perempuan, maka keduanya harus dipisahkan sejak kecil. Kemudian pada saat mereka dewasa, kedua bersaudara kembar itu dipertemukan dalam sebuah ikatan perjodohan. Sebuah tradisi yang salah kaprah dan hanya mengikuti sejarah purbakala, serta melanggar aturan agama samawi.
Di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan, juga ada kebiasaan menikahkan saudara sepupu (misanan). Di Jawa, Sumatera, atau bahkan di daerah timur Indonesia, kebiasaan ini juga masih sering dilakukan. Pada umumnya, secara rahasia, alasan pernikahan sedarah ini hanya karena ingin agar harta kekayaan keluarga tidak mengalir ke luar trah mereka. Atau karena alasan "darah biru", dan untuk mempertahankan kualitas keturunan.
Perbuatan itu sebenarnya sangat bertentangan dengan teori kesehatan dan ajaran agama samawi. Terutama bila perkawinan sedarah ini berlangsung antara pasangan yang masih wajib garis keturunannya, seperti anak dari garis laki-laki. Karena gen laki-laki secara tegas lebih mendominasi keturunan manusia dalam proses regenerasinya.
Dalam postingan terdahulu saya sajikan berbagai dalil dan kisah tentang incest, kali ini sebagai contoh, saya kutip dari vivaNews akibat dari perkawinan sedarah.
Masalah kesehatan mendera keluarga Charles Darwin akibat perkawinan dengan keluarga dekatnya. Temuan ini berdasarkan studi terbaru yang mengungkap ironi kehidupan pencetus teori evolusi itu.
Darwin yang menemukan teori sifat genetik mempengaruhi kelangsungan hidup organisme, baik individual maupun spesies, seumur hidupnya mempertanyakan, apakah perkawinannya dengan sepupu pertamanya, Emma Wedgewood memiliki 'efek jahat perkawinan sedarah', yang dia pelajari dari tumbuhan maupun hewan.
Tiga anaknya Darwin meninggal sebelum berusia 10 tahun, dua diantaranya terserang penyakit menular. Sedangkan yang selamat sakit-sakitan.
Menurut peneliti Ohio State University dan Universidad de Santiago de Compestela Spanyol, keluarga Darwin diduga menderita masalah reproduksi.
Perkawinan sedarah bisa menyebabkan masalah kesehatan. Gen pembawa sifat yang buruk lebih besar muncul pada anak dari perkawinan sedarah dibanding anak dari perkawinan tidak sedarah.
Sebaliknya, jika gen kedua orang tua memiliki juga gen pembawa sifat yang baik, maka kemungkinan gen sia anak memiliki sifat yang baik juga lebih besar.
Studi terbaru ini dimuat secara rinci dalam jurnal Bioscience, memasukan data silsilah keluarga Darwin-Wedgwood ke dalam program komputer khusus yang menghasilkan "koefisien pernikahan sedarah" -- yang menunjukan kemungkinan satu individu mendapatkan dua salinan gen yang dihasilkan dari pernikahan antarkerabat.
Hasilnya, mengungkapkan pernikahan sedarah adalah faktor yang mungkin jadi penyebab lemahnya kesehatan anak-anak hasil perkawinan sedarah.
Anak-anak Darwin menderita dampak buruk pernikahan sedarah dalah derajat yang 'moderat'. Jika praktek perkawinan antarkerabat diteruskan, analisa menunjukan keterkaitan antara kematian anak usia dini dan perkawinan sedarah makin kuat,
Penelitian juga mengungkap bahwa pernikahan antar kerabat adalah praktek yang biasa di keluarga Darwin.Ibu Darwin dan kakeknya juga bernama belakang Wedgwoods -- nama yang sama dengan istrinya. Kakek dan nenek Darwin masih keluarga dekat, sepupu ketiga.
Dari penelitian yang didasarkan catatan kelahiran dan kematian ditemukan, pada akhir abad ke 19 perkawinan sedarah adalah hal yang biasa di keluarga kaya dan terpandang. Mereka berharap perkawinan untuk bisa menghasilkan keturunan yang baik.
Selain meneliti silsilah, para peneliti juga mengkaji DNA dan analisa radiologi tulang untuk meneliti warisan genetik. Jenis penelitian ini juga dilakukan terhadap mumi.
Pada Februari 2010, sebuah tim peneliti internasional mengumumkan temuannya, bahwa koefisien perkawinan sedarah yang derajat tinggi diduga kuat menyebabkan kematian diri anak firaun, Raja Tutankamun.
Akibat negatif perkawinan sedarah juga diduga mengakhiri Dinasti Habsburg -- yang pernah memerintah Spanyol selama hampir 200 tahun.
Bila Anda memang benar-benar mencintai keluarga dan anak keturunan, maka hindarilah incest dan jangan sekali-kali mencoba melakukan perkawinan sedarah terutama yang masih erat dalam silsilah garis keturunan.
Salam hangat.....semoga bermanfaat.





00.37
Lina CahNdeso
Posted in: 






![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss-rogers.png)





0 Komentar:
Posting Komentar
"Bila Anda berkenan, dengan segala kerendahan hati, saya mohon, sudilah menuliskan komentar di sini; Bagi Anda yang berniat Copas konten blog, saya persilahkan, dan tolong link balik diikutkan. Terima kasih, Love and Peace".