NYI PARMI, artis serbabisa yang bergulat di dunia seni mulai dari pesinden, pemain ketoprak, penari wayang orang, pelawak hingga pemain film dan sinetron. Pada tahun 1982 ia meraih Piala Citra sebagai pemeran pembantu wanita terbaik.
Nyi Parmi lahir pada hari Kamis Kliwon, 24 Januari 1924 di Salatiga, Jawa Tengah. Ia hanya mampu menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) sampai usia 13 tahun atau berhenti setelah menyelesaikan kelas III. Di luar tembok sekolah Parmi belajar menjadi pesinden secara otodidak. Ia menirukan alunan suara waranggono atau sinden yang didengarnya lewat radio. Bakat alamnya mulai terasah. Ia lantas dipercaya menjadi pesinden mengiringi pagelaran wayang kulit. Jika tanggapan wayang kulit sedang sepi, Parmi bergabung dengan kelompok ketoprak keliling yang saat itu banyak jumlahnya. Ia pernah bergabung dengan grup Dharmokondho di daerah Pati, Saptorenggo di Ambarawa, Cahyo Wandoyo dan Tri Moedhotomo di Yogyakarta.
Selama sepak terjangnya di kelompok seni tradisional, Parmi banyak tampil dengan seniman kondang yang salah satunya adalah Basiyo, tokoh dagelan Mataram. Parmi tumbuh sebagai seniwati serbabisa. Sebagai pesinden, Parmi menampilkan warna suara yang merdu. Sebagai pelakon ia mampu bermain watak sesuai dengan tuntutan peran yang dibawakannya. Ketika mendapatkan kasting peran sebagai pelawak, Parmi mampu melakonkan dengan sempurna. Ia juga menjadi penari di grup wayang orang, main film maupun sinetron.
Pada tahun 1952 Parmi, bersama Basiyo dan seniman lainnya, diangkat menjadi karyawan tetap RRI Nusantara II Yogyakarta. Pada tahun 1986 ia pensiun dengan mendapatkan hak pensiun Rp 46.000 per bulan. Selama sekitar 47 tahun Parmi telah mengabdikan diri di dunia seni. Yang membuatnya berkesan adalah saat mendapatkan piala citra untuk pemeran pembantu wanita terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1982.
Peristiwa yang membuatnya terkesan sepanjang hidupnya adalah ketika diundang mantan presiden Soeharto ke Istana Negara. Pulangnya ia disangoni Rp 200.000 dalam bentuk Tabanas. Presiden pertama RI Soekarno pun secara khusus pernah mengundangnya menyanyi sebanyak dua kali. Pertama di Kampus UGM Bulaksumur Yogyakarta, dan kedua saat selamatan dimulainya pembangunan Hotel Ambarukmo juga di Yogyakarta. Menurut kesaksian Parmi, ketika mendengarkan suara baritonnya yang khas saat melantunkan tembang pangkur Palaran Gatotkaca mabur, Bung Karno terlihat manggut-manggut.
Sebagai artis film, yang tak pernah ia lupakan adalah saat ikut mendukung film Serangan Fajar. Honornya ia gunakan untuk membeli tanah seluas 13 x 10 meter sekaligus membangun rumah di atasnya. Parmi telah mengabdikan diri di dunia tontonan yang telah menghibur banyak orang. Berkat jasa-jasanya di bidang seni ia mendapatkan anugerah seni dari Pemerintah Daerah Propinsi DIY, dan penghargaan seni dari Menteri Penerangan RI keduanya tahun 1987.
Dari berbagai sumber.
Nyi Parmi lahir pada hari Kamis Kliwon, 24 Januari 1924 di Salatiga, Jawa Tengah. Ia hanya mampu menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) sampai usia 13 tahun atau berhenti setelah menyelesaikan kelas III. Di luar tembok sekolah Parmi belajar menjadi pesinden secara otodidak. Ia menirukan alunan suara waranggono atau sinden yang didengarnya lewat radio. Bakat alamnya mulai terasah. Ia lantas dipercaya menjadi pesinden mengiringi pagelaran wayang kulit. Jika tanggapan wayang kulit sedang sepi, Parmi bergabung dengan kelompok ketoprak keliling yang saat itu banyak jumlahnya. Ia pernah bergabung dengan grup Dharmokondho di daerah Pati, Saptorenggo di Ambarawa, Cahyo Wandoyo dan Tri Moedhotomo di Yogyakarta.
Selama sepak terjangnya di kelompok seni tradisional, Parmi banyak tampil dengan seniman kondang yang salah satunya adalah Basiyo, tokoh dagelan Mataram. Parmi tumbuh sebagai seniwati serbabisa. Sebagai pesinden, Parmi menampilkan warna suara yang merdu. Sebagai pelakon ia mampu bermain watak sesuai dengan tuntutan peran yang dibawakannya. Ketika mendapatkan kasting peran sebagai pelawak, Parmi mampu melakonkan dengan sempurna. Ia juga menjadi penari di grup wayang orang, main film maupun sinetron.
Pada tahun 1952 Parmi, bersama Basiyo dan seniman lainnya, diangkat menjadi karyawan tetap RRI Nusantara II Yogyakarta. Pada tahun 1986 ia pensiun dengan mendapatkan hak pensiun Rp 46.000 per bulan. Selama sekitar 47 tahun Parmi telah mengabdikan diri di dunia seni. Yang membuatnya berkesan adalah saat mendapatkan piala citra untuk pemeran pembantu wanita terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1982.
Peristiwa yang membuatnya terkesan sepanjang hidupnya adalah ketika diundang mantan presiden Soeharto ke Istana Negara. Pulangnya ia disangoni Rp 200.000 dalam bentuk Tabanas. Presiden pertama RI Soekarno pun secara khusus pernah mengundangnya menyanyi sebanyak dua kali. Pertama di Kampus UGM Bulaksumur Yogyakarta, dan kedua saat selamatan dimulainya pembangunan Hotel Ambarukmo juga di Yogyakarta. Menurut kesaksian Parmi, ketika mendengarkan suara baritonnya yang khas saat melantunkan tembang pangkur Palaran Gatotkaca mabur, Bung Karno terlihat manggut-manggut.
Sebagai artis film, yang tak pernah ia lupakan adalah saat ikut mendukung film Serangan Fajar. Honornya ia gunakan untuk membeli tanah seluas 13 x 10 meter sekaligus membangun rumah di atasnya. Parmi telah mengabdikan diri di dunia tontonan yang telah menghibur banyak orang. Berkat jasa-jasanya di bidang seni ia mendapatkan anugerah seni dari Pemerintah Daerah Propinsi DIY, dan penghargaan seni dari Menteri Penerangan RI keduanya tahun 1987.
Dari berbagai sumber.





20.31
Lina CahNdeso
Posted in: 






![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss-rogers.png)





0 Komentar:
Posting Komentar
"Bila Anda berkenan, dengan segala kerendahan hati, saya mohon, sudilah menuliskan komentar di sini; Bagi Anda yang berniat Copas konten blog, saya persilahkan, dan tolong link balik diikutkan. Terima kasih, Love and Peace".