JEAN HENRI DUNANT, seorang aktivis kemanusiaan asal Swiss. Ia pendiri Komite Internasional Palang Merah dan pemrakarsa Konvensi Jenewa. Hadiah Nobel Perdamaian ia peroleh pada tahun 1901, bersama tokoh Perancis, Frederic Passy.
Jean Henri Dunant lahir pada tahun 1828 di kota Jenewa, Swiss. Garis hidupnya yang cukup panjang mengguratkan titik-titik perkembangan yang kontras. Ia tumbuh di tengah keluarga yang kaya tetapi meninggal dunia di sebuah rumah sakit tingkat desa. Di usia pertengahan ia sangat terkenal karena sikap hidupnya yang sama sekali tidak jelas dan usaha bisnisnya yang semula sukses tetapi kemudian bangkrut total. Di usia tua, ia diasingkan dari masyarakat Jenewa yang pernah menjadikannya pahlawan dan meninggal dunia di ruang yang sepi dengan sebuah testamen yang pahit. Namun di sepanjang usia yang penuh gejolak itu, ia konsisten dengan dedikasinya yang tak lekang kepada masalah-masalah kemanusiaan. Palang Merah merupakan bukti dari konsistensi ini. Rumahnya di Jenewa menjadikan Henri Dunant orang yang relijius, peka terhadap masalah kemanusiaan dan selalu peduli kepada kepentingan umum.
Di bagian pertama hidupnya, ia terlibat serius dalam kegiatan keagamaan dan sekali waktu pernah bekerja purna waktu sebagai duta Ikatan Remaja Kristen yang melakukan perjalanan keliling Perancis, Belgia dan Belanda.
Saat berumur 26, ia memasuki dunia bisnis sebagai wakil perusahaan Colonie de Satif di Afrika Utara dan Sisilia. Dalam posisi magang itu, ia merancang rencana keuangan yang berani dan banyak investor tertarik hingga mereka menjadikannya direktur Mons-Gemila Mills di Aljazair. Dengan modal awal 100 milyar franc, Dunant berusaha mengeksploitasi sebidang tanah yang sangat luas. Karena membutuhkan pasokan air yang tetap, ia meminta hak pengendalian air kepada Kaisar Napoleon III dan permintaannya dikabulkan. Bisnisnya kemudian berjalan. Namun tak lama kemudian, seraya mengelola Mons-Gemila Mills, ia mulai membagi perhatiannya pada masalah lain.
Terketuk oleh salah satu perang yang paling berdarah di abad-19, yakni pertempuran yang pecah tatkala pasukan Perancis dan Italia berusaha mengusir orang-orang Austria dari bumi Italia, ia mengkampanyekan sebuah desain kemanusiaan berskala besar. Menurut Dunant, negara-negara di dunia seharusnya membangun mekanisme bersama untuk merawat orang-orang yang terluka selama perang dan tiap orang dalam masyarakat didorong untuk menjadi sukarelawan serta dilatih ketrampilan merawat luka-luka korban perang hingga sembuh.
Pada tanggal 7 Oktober 1863, Masyarakat Jenewa bagi Kesejahteraan Umum menunjuk komite yang terdiri dari empat orang, termasuk Dunant, untuk mempelajari kemungkinan mewujudkan rencana tersebut. Melalui konferensi internasional, komite itu berhasil membentuk Red Cross atau Palang Merah. Dunant kemudian mencurahkan banyak waktu dan uangnya untuk mengunjungi hampir seluruh negara di Eropa. Ia melobi negara-negara itu agar mereka mau mengirim seorang wakil tetap di Palang Merah.
Dari tanggal 26 hingga 29 oktober 1863, 39 anggota delegasi dari 16 negara hadir dalam konferensi lanjutan di Jenewa. Dalam pertemuan ini disepakati resolusi yang menjadi dasar-dasar tugas Palang Merah. Sekitar satu tahun kemudian, 12 negara meneken sebuah perjanjian yang kemudian dikenal sebagai Konvensi Jenewa. Di dalamnya terdapat antara lain kesepakatan untuk menjamin netralitas personel Palang Merah, melancarkan pasokan yang mereka perlukan serta memberi mereka emblem tanda khusus, yakni bentuk palang merah dengan latar berwarna putih. Sampai di sini Dunant berhasil mengubah gagasan pribadinya menjadi sebuah perjanjian internasional namun ia merasa tugasnya belum selesai. Ia berusaha memperluas jangkauan Palang Merah ke angkatan laut setiap negara yang terlibat perang dan ke masa damai untuk ikut mengurangi akibat-akibat bencana alam.
Pada tahun 1866, Dunant membuat skema untuk menciptakan koloni netral di Palestina. Satu tahun berikutnya ia berencana membentuk Perpustakaan Internasional dan Universal yang mengkoleksi karya-karya besar sepanjang jaman. Di tahun 1872, ia menggulir konferensi antarnegara yang diarahkan untuk membentuk sebuah konvensi internasional mengenai tawanan perang serta sebuah pengadilan arbitrasi untuk menyelesaikan sengketa antarnegara.
Di tengah-tengah ikhtiarnya yang dahsyat di jalur kemanusiaan dan perdamaian itu, usaha bisnisnya mengalami pergolakan. Dalam periode 1859-1867, roda perusahaannya bisa bergulir lancar tetapi mulai tahun 1868, kebangkrutan menerpa. Terjadi salah kelola yang fatal pada aktivitas ini dan sejak itu Dunant jatuh miskin dan dibenci oleh kawan-kawan Jenewanya yang ikut memasok modal. Masyarakat Jenewa bahkan menolak kedatangannya.
Selama beberapa tahun ia dikejar-kejar dan dipaksa hidup menggelandang. Ia menjadi pengemis, makan hanya kerak roti, berpakaian compang-camping, memutihkan kerah bajunya dengan kapur dan tidur di emperen rumah orang. Dalam kurun waktu 20 tahun berikutnya (1875-1895), Dunant menghilang dalam kesepian. Setelah tinggal sebentar-bentar di berbagai tempat, ia menetap di Heiden, sebuah desa kecil di Swiss. Di sini seorang guru desa bersama Wilhelm Sonderger menemukannya di tahun 1890 dan mengabarkan kepada dunia bahwa Dunant masih hidup tetapi informasi ini tak ditanggapi siapa pun.
Di tahun 1892, karena sakitnya yang parah, Dunant dipindahkan ke sebuah klinik kecil di Heiden. Di sana, di kamar nomor 12, ia menghabiskan sisa hidupnya selama delapan belas tahun sebagai orang yang sama sekali tak dikenal. Sejak 1895 banyak hadiah dan penghargaan internasional sebetulnya diberikan kepadanya tetapi ia tetap memilih untuk tinggal di kamar nomor 12. Saat kematiannya di tahun 1910, tak ada upacara penguburan, tak ada orang yang menangisinya, tak ada pula iring-iringan manusia yang mengantarnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Sesuai keinginan Dunant sendiri, ia ingin dikuburkan layaknya binatang.
Ia tak pernah membelanjakan hadiah uang dalam jumlah besar yang pernah diterimanya. Sebab, ia mewariskan sebagian hadiah itu kepada orang yang merawatnya di Heiden dan sebagian lainnya kepada sejumlah yayasan derma di Norwegia dan Swiss.
Dari berbagai sumber. Foto : redcrossbhiwani
Jean Henri Dunant lahir pada tahun 1828 di kota Jenewa, Swiss. Garis hidupnya yang cukup panjang mengguratkan titik-titik perkembangan yang kontras. Ia tumbuh di tengah keluarga yang kaya tetapi meninggal dunia di sebuah rumah sakit tingkat desa. Di usia pertengahan ia sangat terkenal karena sikap hidupnya yang sama sekali tidak jelas dan usaha bisnisnya yang semula sukses tetapi kemudian bangkrut total. Di usia tua, ia diasingkan dari masyarakat Jenewa yang pernah menjadikannya pahlawan dan meninggal dunia di ruang yang sepi dengan sebuah testamen yang pahit. Namun di sepanjang usia yang penuh gejolak itu, ia konsisten dengan dedikasinya yang tak lekang kepada masalah-masalah kemanusiaan. Palang Merah merupakan bukti dari konsistensi ini. Rumahnya di Jenewa menjadikan Henri Dunant orang yang relijius, peka terhadap masalah kemanusiaan dan selalu peduli kepada kepentingan umum.
Di bagian pertama hidupnya, ia terlibat serius dalam kegiatan keagamaan dan sekali waktu pernah bekerja purna waktu sebagai duta Ikatan Remaja Kristen yang melakukan perjalanan keliling Perancis, Belgia dan Belanda.
Saat berumur 26, ia memasuki dunia bisnis sebagai wakil perusahaan Colonie de Satif di Afrika Utara dan Sisilia. Dalam posisi magang itu, ia merancang rencana keuangan yang berani dan banyak investor tertarik hingga mereka menjadikannya direktur Mons-Gemila Mills di Aljazair. Dengan modal awal 100 milyar franc, Dunant berusaha mengeksploitasi sebidang tanah yang sangat luas. Karena membutuhkan pasokan air yang tetap, ia meminta hak pengendalian air kepada Kaisar Napoleon III dan permintaannya dikabulkan. Bisnisnya kemudian berjalan. Namun tak lama kemudian, seraya mengelola Mons-Gemila Mills, ia mulai membagi perhatiannya pada masalah lain.
Terketuk oleh salah satu perang yang paling berdarah di abad-19, yakni pertempuran yang pecah tatkala pasukan Perancis dan Italia berusaha mengusir orang-orang Austria dari bumi Italia, ia mengkampanyekan sebuah desain kemanusiaan berskala besar. Menurut Dunant, negara-negara di dunia seharusnya membangun mekanisme bersama untuk merawat orang-orang yang terluka selama perang dan tiap orang dalam masyarakat didorong untuk menjadi sukarelawan serta dilatih ketrampilan merawat luka-luka korban perang hingga sembuh.
Pada tanggal 7 Oktober 1863, Masyarakat Jenewa bagi Kesejahteraan Umum menunjuk komite yang terdiri dari empat orang, termasuk Dunant, untuk mempelajari kemungkinan mewujudkan rencana tersebut. Melalui konferensi internasional, komite itu berhasil membentuk Red Cross atau Palang Merah. Dunant kemudian mencurahkan banyak waktu dan uangnya untuk mengunjungi hampir seluruh negara di Eropa. Ia melobi negara-negara itu agar mereka mau mengirim seorang wakil tetap di Palang Merah.
Dari tanggal 26 hingga 29 oktober 1863, 39 anggota delegasi dari 16 negara hadir dalam konferensi lanjutan di Jenewa. Dalam pertemuan ini disepakati resolusi yang menjadi dasar-dasar tugas Palang Merah. Sekitar satu tahun kemudian, 12 negara meneken sebuah perjanjian yang kemudian dikenal sebagai Konvensi Jenewa. Di dalamnya terdapat antara lain kesepakatan untuk menjamin netralitas personel Palang Merah, melancarkan pasokan yang mereka perlukan serta memberi mereka emblem tanda khusus, yakni bentuk palang merah dengan latar berwarna putih. Sampai di sini Dunant berhasil mengubah gagasan pribadinya menjadi sebuah perjanjian internasional namun ia merasa tugasnya belum selesai. Ia berusaha memperluas jangkauan Palang Merah ke angkatan laut setiap negara yang terlibat perang dan ke masa damai untuk ikut mengurangi akibat-akibat bencana alam.
Pada tahun 1866, Dunant membuat skema untuk menciptakan koloni netral di Palestina. Satu tahun berikutnya ia berencana membentuk Perpustakaan Internasional dan Universal yang mengkoleksi karya-karya besar sepanjang jaman. Di tahun 1872, ia menggulir konferensi antarnegara yang diarahkan untuk membentuk sebuah konvensi internasional mengenai tawanan perang serta sebuah pengadilan arbitrasi untuk menyelesaikan sengketa antarnegara.
Di tengah-tengah ikhtiarnya yang dahsyat di jalur kemanusiaan dan perdamaian itu, usaha bisnisnya mengalami pergolakan. Dalam periode 1859-1867, roda perusahaannya bisa bergulir lancar tetapi mulai tahun 1868, kebangkrutan menerpa. Terjadi salah kelola yang fatal pada aktivitas ini dan sejak itu Dunant jatuh miskin dan dibenci oleh kawan-kawan Jenewanya yang ikut memasok modal. Masyarakat Jenewa bahkan menolak kedatangannya.
Selama beberapa tahun ia dikejar-kejar dan dipaksa hidup menggelandang. Ia menjadi pengemis, makan hanya kerak roti, berpakaian compang-camping, memutihkan kerah bajunya dengan kapur dan tidur di emperen rumah orang. Dalam kurun waktu 20 tahun berikutnya (1875-1895), Dunant menghilang dalam kesepian. Setelah tinggal sebentar-bentar di berbagai tempat, ia menetap di Heiden, sebuah desa kecil di Swiss. Di sini seorang guru desa bersama Wilhelm Sonderger menemukannya di tahun 1890 dan mengabarkan kepada dunia bahwa Dunant masih hidup tetapi informasi ini tak ditanggapi siapa pun.
Di tahun 1892, karena sakitnya yang parah, Dunant dipindahkan ke sebuah klinik kecil di Heiden. Di sana, di kamar nomor 12, ia menghabiskan sisa hidupnya selama delapan belas tahun sebagai orang yang sama sekali tak dikenal. Sejak 1895 banyak hadiah dan penghargaan internasional sebetulnya diberikan kepadanya tetapi ia tetap memilih untuk tinggal di kamar nomor 12. Saat kematiannya di tahun 1910, tak ada upacara penguburan, tak ada orang yang menangisinya, tak ada pula iring-iringan manusia yang mengantarnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Sesuai keinginan Dunant sendiri, ia ingin dikuburkan layaknya binatang.
Ia tak pernah membelanjakan hadiah uang dalam jumlah besar yang pernah diterimanya. Sebab, ia mewariskan sebagian hadiah itu kepada orang yang merawatnya di Heiden dan sebagian lainnya kepada sejumlah yayasan derma di Norwegia dan Swiss.
Dari berbagai sumber. Foto : redcrossbhiwani





03.53
Lina CahNdeso

Posted in: 






![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss-rogers.png)





0 Komentar:
Posting Komentar
"Bila Anda berkenan, dengan segala kerendahan hati, saya mohon, sudilah menuliskan komentar di sini; Bagi Anda yang berniat Copas konten blog, saya persilahkan, dan tolong link balik diikutkan. Terima kasih, Love and Peace".