Rabu, 31 Desember 2008

Catatan : Malam Akhir Tahun Masehi

Malam ini adalah akhir tugas kalender 2008 diganti penanggalan 2009, untuk melayani catatan umat manusia dalam kurun waktu 12 bulan ke depan. Penanggalan Masehi memang milik semua orang. Beda dengan perhitungan Saka yang umumnya hanya dipakai orang-orang Jawa dan Hijriah yang menjadi milik ummat Islam.

Tanggal 1 Muharram dan 1 Syura setahu saya selalu bersamaan. Setiap menyongsong tahun baru Saka dan Hijriah , pada malam hari suasananya terasa sakral. Para sesepuh melakukan tirakat, mencuci benda-benda pusaka, wiridan, atau melaksanakan berbagai amalan, mendekatkan diri pada Dzat Kang Murbeng Dumadi.

Suasana sakral di 1 Syura dan 1 Muharram, setiap tahun memang masih kita rasakan. Namun, sendi-sendi religi dan magisnya terasa ada pergeseran. Nilai-nilai tradisi mencuat hanya sebatas permukaan, tanpa nafas budaya spiritual kecuali formalitas. Paling tidak itulah yang saya rasakan sepanjang beberapa tahun ini. Generasi penerus tradisi kebudayaan lokal, menampakkan kebimbangan, antara keyakinan magis-spiritual dan nilai-nilai budaya keturunan dengan kultur sosial yang dipengaruh perkembangan logika matematis dan intelegensi yakni peradaban teknologi telemedia dan informatika. Di mana seakan tiada lagi batasan ruang dan waktu.

Paradigma ini menimbulkan dilema yang makin tahun kian memojokkan budaya lokal (perilaku, pikiran dan spiritual). Nilai-nilai etika, estetika dan norma-norma tradisional meluncur drastis mendekati dasar yang kering tanpa makna, apalagi penghayatan yang diimplementasikan dalam keseharian. Alam metafisika lamban mereka cerna, sedangkan fakta fiksi yang mereka saksikan menyeret pola pikir mereka ke arah hedonisme dan apologis.

Pergeseran nilai budaya dalam masyarakat, memang ada positifnya. Disatu sisi bila mereka dulu sangat yakin dengan ajimat dan benda pusaka, kini sebagian mereka lebih cenderung memegang ajaran agamanya. Di sisi lain, jika ini terus berlanjut, bisa jadi lambat laun kesenian, permainan dan kebudayaan tradisional yang sarat dengan nilai-nilai akan musnah. Misalnya, macapat, pagelaran wayang, gobak sodor, pathelele, bersih desa, labuh pari, atau bahkan kebiasaan gotong royong membangun fasilitas umum.

Mari kita melihat, malam tahun baru 2009 ini, meskipun hujan secara sporadis mengguyur beberapa desa, namun ternyata jalan-jalan menuju pusat kota Trenggalek penuh kendaraan warga yang merayakan. Sementara jika kita mau mengawasi dengan jeli, di sudut-sudut tertentu, banyak bergerombol anak muda. Apa yang mereka lakukan? Miras! Bahkan 2-3 tahun yang lalu saya kerap memergoki dan menerima info dari teman-teman, bahwa anak-anak muda ini juga ngoplo. Umumnya, mereka adalah anak yang kurang berpendidikan tapi sering kerja keluar kota/negeri.

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat terasa "revolusi" tradisi di kalangan warga Trenggalek. Ini berlangsung sejak awal-awal dibukanya kran pengiriman tenaga kerja kita keluar negeri. Dan bersamaan pula dengan mulai banyaknya siaran telivisi swasta merambah ke seluruh pelosok desa, berisi acara kualitas eksploitasi iklan, serta beredarnya vcd dewasa bajakan. Lihatlah, bagaimana cara berdandan gadis-gadis desa sekarang, ditambah dengan telepon genggam yang ngetrend. Begitu pun dengan para perjakanya. Acara ulang tahun anak di pedesaan pada 20 tahun lalu tidaklah istimewa, namun kini meriah, malah cenderung meniru-niru tayangan televisi atau vcd. Hampir tak ada lagi keluguan yang tersisa.
Bagaimana kurangnya adab kesopanan, tatakrama (unggah-ungguh) antar generasi mereka -atau- terhadap yang lebih tua. Namun, masih untung tingkat produktivitas warga tidak mengalami penurunan. Sehingga, pergeseran kultur budaya tradisional tidak berpengaruh di sektor ekonomi di daerah kita. Budaya kerja keras, masih melekat.

Nah, Anda tidak perlu heran bila suatu ketika menemukan remaja Trenggalek asal panggul, Munjungan atau desa lainnya, sekarang punya nama Afe Maria Stefany (afe=ave), Kristiano Ronaldo, Rafi Punjabi, Brian Adam Jordan (brian dibaca brian, bukan braen) atau Gofinda Rajip setyawan, ternyata berasal dari keluarga muslim, petani penggarap yang hidupnya pas-pasan. Sementara kelak, nama-nama seperti Setu, Kemis, Leginah, atau Sulikah, khas Jawa (Indonesia) akan hilang dari KTP dan lembar Kartu Keluarga.

Minggu, 28 Desember 2008

Waktu kumakan Sia-sia kunikmati

Malam ini, akhir tahun 1429 H. Selesai isya' aku berkunjung ke http://pembawacerita.wordpress.com aku temukan entri khutbah Idul Adha 1429 H di Masjid Baiturrahman Banda Aceh.

Allahuakbar walillahilhamd. Besok 1 Muharram 1430 H. Aku merasa beruntung bisa baca khutbah ini. Seakan, aku tengah berada di antara mereka yang sholat Ied di Baiturrahman, tapi.. Jiwaku lebih banyak melayang melebur dengan nafas kaum muslimin yang tengah menunaikan ibadah haji. Sebuah khutbah yang menggetarkan sendiku, mencairkan sumsumku, menggelegakkan darahku, memacu jantungku, menyentak otakku, membenturkan dahiku, daku..mencium tanah dalam haribaan ke-tak-berdayaan-ku.
Adakah, Dikau sempatkan daku mencium Hajarul Aswad?! Besok, waktuku telah makin Dikau persempit.

Satu tahun ini, aku merasa banyak makan, minum dan memakai sesuatu yang niscaya menurut Dikau tidak layak. Aku sadar itu. Tapi, apa yang kulakukan bukan sepenuhnya karena kemauanku. Mereka yang merasa bersih, memaksaku. Mereka yang tidak pernah mau tegas dalam komunikasi. Mereka yang lebih mengutamakan "kira-kira- tanpa konfirmasi. Mereka yang hanya mau 'didengar' tapi tak pernah bisa mengerti kata yang diucap karena Ilahi.

Aku, dicampakkan dicomberan seakan anjing yang layak makan barang haram. Aku diisolasi bagai pengidap penyakit yang pantas dikarantina. Aku ditelikung formalitas dan komunitas karena tiada kesepahaman. Aku mereka jauhi seakan kehinaan dan kebencian yang mematikan.

Wahai, Dikau ya Sami'ul Alim. Ridloilah segala yang kulanggar.
Daku telah berkata karena Mu, namun mereka ukur bajuku mungkin seukuran mereka.
Telah kulaksanakan hakku, mencoba agar diriku tidak jadi alasan mereka untuk berbuat dosa. Sayangnya, keterlenaan pada jumawa angkara murka, sudah membutakan mata hati.

Adakah Dikau sudi menerima kekufuranku ini?
Daku sudah memakan umurku dengan kemalasan yang diusung kemalangan nasibku.

Wahai, Dikau ya Robbiyal 'ala.
Selama ini daku merasa paling pintar, paling berkuasa karena aku kepala rumah tangga. Daku paling benar karena aku malu dikalahkan anak kecilku. Daku adalah yang paling istimewa di antara mereka, tapi bukan karena aku jumawa. Daku tidak sombong, daku tidak arogan, daku tidak temahak, daku tidak pernah makan hak orang lain. Daku bukan koruptor, bukan penguasa atau atasan yang zalim. Daku adalah hambamu yang bertakwa dan istiqamah.
(hanya Dikau ya tak bisa aku bohongi, siapakah daku ini layaknya!!!)

Rabu, 24 Desember 2008

BUMDES Quo Vadis?! Siapa Yang Menikmatinya?!

Kabupaten Trenggalek terdiri dari 14 kecamatan, 152 desa dan 5 kelurahan. Pada tahun 2002, Pemerintah Kabupaten Trenggalek meluncurkan program inovatif untuk mendongkrak perekomian di desa-desa tertinggal. Program ini diberi nama BUMDES (Badan Usaha Milik Desa), didanai lewat APBD/DAK, dengan besaran modal awal perdesa 10 juta rupiah.

Penanganan managemennya dipusatkan di kabupaten, melalui kecamatan, turun ke desa, di semua lini ini ada pengurusnya. Kalau di desa terdiri dari ketua, sekretaris merangkap bendahara dan pemasaran/penagihan. Sedang kepala desa berperan sebagai pelindung/penasihat.

Sistem operasionalnya sama dengan usaha perkreditan pada umumnya. Hanya bunganya mungkin lebih kecil yakni 1%, jangka waktu 10 bulan, dan pada saat jatuh tempo pelunasan cicilan terlambat, maka nasabah dikenai denda 2% (aturan ini disosialisasikan pada awal peluncuran program awal tahun 2002). Sasaran pasarnya jelas masyarakat kecil (kawula alit) di pedesaan.

Hingga sekarang sudah 7 tahun program inovatif ini berjalan, dan semua desa telah menerima dana BUMDES. Jika rata-rata tiap desa pertahun mendapatkan tambahan modal 10 juta rupiah, berarti perdesa punya modal antara 50-70 juta rupiah. Apabila dihitung dengan "kalkulator biznis" sudah jadi berapakah modal tiap desa pada akhir tahun ini?!

Tetapi, berdasarkan isu plus tanda-tanda yang beredar di masyarakat awam, ada indikasi banyak BUMDES yang tidak berjalan semestinya. Diprediksi para kawuli alit yang sedikit mahfum dalam masalah ini, dan informasi dari beberapa sumber yang dekat dengan pusat BUMDES, hanya 20% saja yang masih lancar, namun jika ditelaah dari kacamata usaha perkreditan masuk katagori MERUGI. Sedang yang 80% semrawut dalam cash (uang), bagus dalam administrasi (neraca).

Sasaran program BUMDES adalah membantu menaikkan tingkat hidup masyarakat pedesaan, khususnya kawula alit yang miskin. Namun, nyatanya yang menikmati keberadaan BUMDES kebanyakan adalah para pengurus dan orang dekatnya saja. Ada pengurus yang pinjam jutaan tanpa jaminan apapun, tidak mencicil sama sekali juga tidak memberi jasa sepeser pun. Modal BUMDES mandeg pada mereka, namun neracanya dilaporkan sehat.

Pertengahan tahun ini, pihak Pemkab bermaksud mem-perda-kan BUMDES. Upaya ini untuk mencegah kebocoran dana di kelak kemudian hari, sekaligus memberikan otonomi pada desa dalam mengelola BUMDES. Walaupun demikian, apakah dana BUMDES yang "ngleles" ditilap pengurus lama yang nakal tidak diusut tuntas? Berapa ratus juta rupiah yang menguap di korup? Apabila masalah ini tidak dituntaskan, niscaya akan muncul anggapan adanya kerja sama, konspirasi, sindikasi kepentingan antar oknum pengurus BUMDES di desa dengan oknum di institusi yang membina BUMDES daerah ini.

Jika ada indikasi, bukti yang jelas, tidak usah ditutup-tutupi. Biar masyarakat melèk dan tidak syakwasangka, institusi pembina berkewajiban memberikan informasi kepada publik, secara terbuka, akuntabel, valid, didukung kenyataan dan fakta. Bukan didukung oleh BUMDES percontohan. Keterbukaan informasi publik, pasti sangat membantu efektivitas dan dinamika program ini, sehingga dana yang diguyurkan mampu melejitkan PAD Kabupaten Trenggalek, minimal mengurangi beban DAU/DAK pembangunan pedesaan.

Selasa, 23 Desember 2008

Remaja dan Sex Sebelum Nikah

Bila seorang remaja melakukan hubungan sex di luar nikah atau sebelum nikah, yang paling bertanggungjawab adalah orang tuanya. Karena, institusi pendidikan mengawasi anak didiknya hanya rata-rata 6 jam sehari dalam satu minggu. Sementara orang tua mengawasi anaknya 18 jam sehari dalam satu minggu.

Tanggung jawab akademis mungkin bisa dibebankan lebih besar kepada institusi pendidikan; namun untuk menanamkan nilai-nilai spiritual -norma-norma sosial dan religi- hampir sepenuhnya menjadi kewajiban orang tua.

Apa yang saya tulis ini mudah-mudahan menyentuh sanubari setiap orang tua yang membacanya. Dan tidak menyalahkan seorang guru atas penyimpangan perilaku anak remajanya. Saya tidak berpanjang kata, juga tidak menumpuk dalil agama untuk argumentasi. Cukup fakta kepatutan hidup sehari-hari dari sebuah keluarga dan aktivitas belajar mengajar di lingkungan remaja peserta didik.

Apabila, semua orang tua -ayah dan ibu- menyadari akan tanggung jawabnya terhadap pertumbuhan kejiwaan, mental dan nilai keimanan anak remajanya, tentu mereka harus berani bersikap tegas dan tidak memanjakan anak-anaknya. Disiplin dan tegas, bukan berarti berlaku keras dan kejam. Membatasi, bukan berarti melarang. Mengawasi, tidak sama dengan mengikuti kemana si anak pergi. Paradigma peranan orang tua sebagai "pengayom, pengayem dan pembina" keluarga perlu dikibarkan di hadapan anak-anak remajanya. Saya pakai kata "dikibarkan" bukan "ditegakkan", karena kata ini bernuansa kasih sayang, tidak cenderung pada pemaksaan kehendak dari orang tua kepada anaknya. Juga terselip cermin perilaku orang tua untuk diteladani. Sehingga diharapkan kelak, jiwa dan nilai iman si anak pun berbobot pada taat dan patuh dengan sadar untuk melaksanakan petuah mereka, lalu mengimplementasikan ajaran agama yang dianutnya, termasuk tuntunan tentang sex dan perkawinan. Andai harmoni keluarga berlangsung seperti ini, maka kelak dari keluarga yang demikian, akan lahir generasi yang terpelihara anak remajanya dari berhubungan sex di luar nikah. Efek domino yang ditimbulkan berujung pada terkendalinya jumlah PSK dan 'anak haram'. Dengan demikian dikemudian hari kita akan mapan menjadi bangsa yang bebas dari sex di luar nikah dan perselingkuhan.

Niscaya, di masa depan, DPR dan pemerintah tidak perlu lagi buang-buang energi, waktu dan biaya untuk merevisi UU Pornografi. Wallahu 'alam bisawab.

Kamis, 18 Desember 2008

Drs. Mukono Tokoh Peduli Kawula Alit



Penampilannya sangat bersahaja, gaya bicaranya terkesan santun dan sangat supel. Namanya pun sederhana hanya Mukono, sekalipun kini dia sudah haji, tak pernah mencantumkan identitas itu dalam KTP-nya. Aku mengenalnya pertama kali pada tahun 1980 awal bulan Agustus. Ketika itu Gudep Kwarcab Pramuka Trenggalek menghadiri "Temu Sastrawan Muda se-Jawa dan Bali" di Yogyakarta, dipimpin almarhum bapak Tjilik Soeradji, didampingi oleh bapak Mukono. Pada waktu itu oleh Panitia aku 'ditodong' jadi pembicara dengan moderator bapak Sujoto, BA. guru SMAN 1 Trenggalek.

Materi yang kubicarakan adalah "Sastra dan Pancasila, Layakkah Menjadi Dasar untuk Berkarya?!"

Mengingat banyak yang mendebat (kala itu, jangan coba2 bicara atau memperdebatkan Pancasila, pemerintah pasti langsung 'menciduk'), waktuku bicara diperpanjang, pagi, sore dan malam. Banyak peserta yang 'takut' mengikuti tema yang kusajikan. Namun, bapak Mukono (yang PNS) dengan tekun menyimak. Ketika selesai, beliau aku tanya, "apakah Bapak tidak takut ditangkap Pangkopkamtib?" Beliau menjawab "Kalau benar katakanlah benar, kalau salah katakan yang sebenarnya. Takut sih, enggak. Tapi kalau ditangkap, yaa..moshok sih?!"

Sejak itulah, aku respek pada PNS yang bernama Mukono. Alumnus IKIP Negeri Surakarta, sarjana diraih di Universitas Kadiri, juga jebolan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri.

Dalam kesehariannya, banyak aktivitas sosial yang beliau terjuni, di luar tugas kedinasan. Sejak tahun 1980 hingga kini, beliau aktif dan dinamis mengurusi dunia anak muda melalui organisasi kepramukaan. Baik sebagai Andalan maupun sebagai Pengurus DKC Penegak Pandega, pelatih, dan juga masuk Jajaran Pimpinan. Di organisasi Palang Merah Indonesia pernah menjabat Sekretaris, dan sekarang beliau menjabat Kepala Markas PMI Kabupaten Trenggalek. Sedang di Dewan Kesehatan beliau juga aktif menjadi anggota.
Di dunia seni budaya, ternyata beliau juga berkiprah demi mempertahan kelestarian kesenian tradisional yang adiluhung, yakni pewayangan. Terakhir beliau terpilih sebagai Ketua PEPADI Trenggalek.

Karir beliau di pemerintahan dirintis dari bawah, merangkak terus hingga pernah menjadi camat dan Kepala bidang di Bakesbang.
Kemudian pernah terpilih menjadi Sekretaris KPU.
Di dunia pendidikan pernah menjadi tenaga pengajar sukarela di SMP PGRI Bendungan selama 2 tahun. Memasuki usia pensiun, beliau membidani lahirnya Yayasan yang membina SMA Hasan Munahir, di lembaga inilah belia mengabdi dengan jabatan Kepala Sekolah.

Ketika masih menjabat Camat, pak Mukono dikenal kolega dan atasannya karena kevokalan dan keberpihakan beliau pada kepentingan kawula alit serta mengedepankan masalah pendidikan. Sehingga tak heran bila selama menjabat Camat Suruh, tidak ada satupun gedung sekolah di wilayah ini yang nampak bobrok.

Di dunia politik, ternyata juga pernah menjadi fungsionaris Golkar. Dan ketika PNS 'kembali ke rumah', terakhir beliau menjadi fungsionaris Partai Amanat Nasional. Beliau juga giat membina PPI Kabupaten Trenggalek.

Pada awal Desember ini, aku ketemu beliau, kami sempat berbincang. Ternyata, Drs. Mukono ini telah menjadi calon legeslatif Partai Amanat Nasional, nomer urut 3 daerah pemilihan 2 yang meliputi Kecamatan Karangan, Tugu, Suruh dan Pule.
Menurutku, beliau pantas dan layak menjadi wakil rakyat. Jadi ..mari kita sukseskan Pileg April 2009 dengan datang ke TPS untuk memberikan suara kita pada Caleg yang berkualitas dan peduli pada kawula alit. Dari pada bingung, pilih saja beliau.

(Kepada bapak Mukono, saya minta maaf telah "mencuri-jeprèt" foto bapak dan memuat tulisan ini tanpa seijin bapak. Bila ada kekurangan, saya dengan senang hati menerima teguran dari bapak, untuk merivisi juga boleh.)

Rabu, 17 Desember 2008

Fenomena Politik Uang dan Broker Suara dalam Pemilu 2009

Tanggal 4 April 2009 akan dilaksanakan Pemilihan Legeslatif. Gambar para caleg sudah banyak tersebar, dipajang di sepanjang jalan atau tempat-tempat strategis layaknya sebuah reklame. Masyarakat pun mulai membicarakan caleg mereka.

Namun, perlu dicatat, sebenarnya yang getol membahas caleg-caleg tsb. kebanyakan dimulai oleh para "broker" (bukan hanya di pasar uang/saham ada istilah ini), yakni mereka yang sengaja mempekerjakan dirinya untuk menangguk suara bagi caleg yang membayarnya. Sementara, masyarakat awam nampak adem ayem seakan tidak peduli.

Sedangkan di sisi lain disadari atau tidak - dewasa ini, di masyarakat ada paradigma demokrasi yang menjurus pada politik uang. Hal ini dipicu oleh kebiasaan dalam pelaksanaan pilkades yang selama ini terbukti kental dengan praktek semacam itu. Apalagi, kesulitan hidup yang mereka pikul menuntut mereka untuk senantiasa mencari-cari penghasilan tambahan.

Kondisi dan perilaku hidup masyarakat yang stagnan, pragmatisme, dimanfaatkan oleh caleg-caleg. Tidak semua, tapi banyak. Bukan hanya dari partai baru, atau wajah baru, dari partai lama yang beken pun berjubel.
Sistem pemberian jasa pada pemilih yang memberikan suaranya, dilakukan sangat hati-hati dan rahasia. Bisa lewat broker politik, bisa via tokoh masyarakat. Bahkan di Trenggalek ini ada yang sudah berani mengeluarkan biaya bagi penyediaan fasilitas-fasilitas umum di lingkungan yang siap memberikan suara mayoritas untuk sang caleg.

Mengapa mereka -para caleg- mau kehilangan duwit untuk meraih kursi legeslatif? Bayangkan, jika dari suatu Dapil ditetapkan setiap kursi minimal berharga 5 ribu suara, lantas setiap suara dinilai 20 ribu rupiah, artinya caleg tersebut harus mengeluarkan 100 juta rupiah, untuk masa jabatan 5 lima tahun.
Nah, jika fenomena politik uang dibiarkan marak, akan bagaimanakah kualitas anggota legeslatif kita? Barangkali, hanya segelintir saja yang menolak "memalak" para birokrat tatkala membahas anggaran suatu kegiatan. Dan yang sebagian besar menarget hingga 10% dari anggaran yang mereka setujui yang bisa dicairkan.

Masyarakat desa terlampau pragmatis, para caleg yang ambisius memang cerdik dan pandai membaca "pasar". KPU(D) dan BAWASLU perlu waspada. Dan kepada masyarakat pemilih saya himbau untuk arif dan bijak, mari kita "blacklist" semua caleg yang bermental KKN. Biarkan mereka membagi-bagikan hartanya, tapi jangan dipilih.

Akhirnya, mudah-mudahan pemilhan legeslatif kali ini tidak sampai merepotkan Mahkamah Konstitusi.

Dalam kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati, saya mengharapkan bantuan Anda untuk mengikuti polling di blog yang saya buat tepat pada Hari Anti Korupsi 9 Desember 2008 ini. Atas partisipasi Anda, semoga Allah melimpahkan berkah Nya pada Anda dan keluarga.

Perkembangan Teknologi Informasi di Trenggalek (Selama Satu Dekade)

(Tulisan ini, saya buat dengan harapan bapak Darsono dan bapak Mahyudin Lakawa mau berkomentar atau bahkan menulis demi kepedulian pada Trenggalek)

Awal 1999, saya lihat di Trenggalek jarang orang yang pegang Hand Phone. Jika pun ada yang punya, signalnya lemah (hanya Telkomsel). Saya masih ingat betul, bahwa instansi pemerintah di daerah ini pun masih minim komputer, bahkan boleh dikata sangat langka. Kala itu, saya aktif di PT Mega Nusa Lintas Buana yang bergerak di Internet Service Provider dengan label MegaNet (pecahan dari Jawa Pos News Network) saya berakting manager pemasaran pada anak perusahaannya yakni PT STI Global Solution (konsultan pendidikan dan managemen perusahaan), di Surabaya. Seraya membantu di MegaNet ISP -mengonsep beberapa produk perusahaan seperti IDEC (Kartu identitas elektronik), mesin absensi dengan sidik jari, menyusun proposal Ujung Pandang Pos (bersama teman-teman wartawan antara lain dari harian Memorandum), dan menerbitkan buku alamat email dan Website seluruh Indonesia.

Namun dipenghujung 1999 saya mundur dari PT STI Global Solution . Meskipun pengunduran saya secara halus ditolak oleh Presiden Direktur PT Mega Nusa Lintas Buana (bapak Darsono), kata beliau saat itu, saya disiapkan sebagai kandidat Creative Director pada PT Mega Nusa Lintas Buana (MegaNet ISP). Saya tetap mundur, antara lain karena tidak setuju pada keputusan managemen perusahaan yang telah dua kali menolak "lamaran rujuk" dari Jawa Pos News Network (JPNN).
Saya berargumen, jika tidak menerima lamaran rujuk tersebut, niscaya perusahaan tidak akan "berumur panjang". (Apa yang saya prediksi akhirnya terjadi. Sekalipun waktu itu MegaNet ISP sudah punya cabang di 24 kota besar, tahun 2002 MegaNet ISP colaps).
Alasan pengunduran diri saya yang kedua, karena bung Zul Nasution (saat itu menjabat Ketua PWI Kalimantan Tengah) pemilik sekaligus Pemimpin Redaksi tabloid Borneo, meminta saya untuk membantu mengelola media ini, menjadi redaksi/perwakilan di pulau Jawa bertempat di Surabaya, dengan sistem 'remote control'. Sehingga saya pikir, bisa jadi 'sambilan' dan saya bisa kembali menekuni pekerjaan saya di Trenggalek.

Sebelumnya, bulan Juni-Juli 1999, tim MegaNet ISP dan PT STI Global Solution bersafari promosi ke beberapa kota di Jawa Timur. Dalam kesempatan itu saya sempatkan mengunjungi beberapa sekolah favorit di Trenggalek (a.l. SMAN 1, SMPN 1). Saya menawarkan design dan host homepage (webblog gratis masih langka!) plus 5 account e-mail dengan harga 50% di bawah harga umum (ini atas persetujuan perusahaan dengan alasan saya berasal dari Trenggalek). Namun, respons dari sekolah tidak ada. Saya juga sowan Kepala Kantor Dikbud, menawarkan hal yang sama plus menanyakan proposal penerbitan tabloid khusus untuk siswa dan lingkungan pendidikan di daerah ini, yang pernah saya ajukan. Tanggapan pihak instansi nol besar. Sebelum itu, tahun 1991, 1992 dan 1994, saya besama bapak Mahyudin Lakawa dan bapak Darsono (keduanya dari Jawa Pos) berkali-kali menawarkan proposal kerja sama pada instansi ini tapi tidak pernah ada kesepakatan. Padahal kami yang menyiapkan modalnya sedangkan instansi cuma menyediakan informasi berita dan konsumen (pasar).

Pada masa awal otonomi daerah diberlakukan di Trenggalek, ada beberapa instansi yang digabungkan. Namun saat itu bagian Pengelola Data Elektronik belum ada. Rancangan pengembangan dan penerapan teknologi informasi di lingkungan Pemkab Trenggalek (e-goverment) masih berupa wacana. Saya bukan ahli IT hanya senang. Jadi, saya mengikuti perkembangan teknologi ini di daerah kita, dari "luar lingkaran sistem kebijakan pemerintah". Saya 'nguping sedikit-sedikit', sejak proses awal, hingga jaringan (LAN, Intranet) dan website http://www.trenggalek.go.id online. Saya juga tahu siapa saja rekanan yang menanganinya, kapan proyek ini menemui jalan buntu (kata halusnya "gagal") atau berapa banyak tower antena yang mubazir, serta hardware yang tidak sesuai harga dengan spesifikasi yang seharusnya. (bersambung)

buluh perindu Keheningan

Perjalanan sungguh melelahkan, tubuhku
kian ringkih, nafasku
tersangkut-sangkut di rerantingan hutan
Bakau, keringatku
berceceran sepanjang pantai
di perbatasan

adakah
diriku pantas mencapai ambang
Spiral lazuardi

inginku begitu tapi
apakah
patut kupersembahkan kepompongku
-yang telah lalaikan jatidiri abdi- ke hariban
al-Khaliq

wahai
Takbir mengumandang di langit malam
menyambut awal Qurban, esok

daku tertatih-tatih mencoba
mengulangi, mengeja dalam
keheningan rindu
-menelusuri jalan dan persinggahan-
yang banyak sekali aku lupakan

Rasanya
daku hanya hanya pantas mematung berpijak
dan
tenggelam di bawah
Rerumputan kering Bumi menanti
Bima Sakti menabrak samudera Galaxi dalam
Cengkeraman Sang Virgo

daku
tidak pantas beterbangan di antara para
bintang, atau
bersenda gurau dengan bidadari, pahlawan apalagi
dengan pengusung Mentari, nabi dan
rasul Ilahi

kosmos terlampau Suci bagi
tubuhku yang tak pernah mandi
(daku tak berani berharap walau hanya se-zarah)
namun masih
adakah hakku bertanya
bagi Ridlo Mu
(aku lunglai tiada daya upaya!)

Minggu, 14 Desember 2008

Wajah-wajah Manusia

Bila padi berbuah tikus,
rusa beranak serigala,
Bukan misteri bagi para penyemai benih
atas ladang-ladang yang melacur pada kematian yang semanis arak dari bejana-bejana besi tua,
dan bagi pemburu-pemburu di padang-padang arena adu untung dan kekuasaan

Menjelang dan saat musim panen,
dengan kereta berkuda seribu,
mereka berlomba,
menuju sorga tanpa misteri,
dibalik gumpalan asap mesiu,
temahak melahap bahan-bahan ketawa,
diiringi musik kutukan darahbeku-darahbeku dan
ratap tangis dari perahu-perahu mainan samudera,
jauh dari bumi warisan yang kian memerah tua dan selalu basah dilanda embun kemarau cinta tak tentu batasnya

Tanpa Wajah Allah,
tanpa Ridlo Allah,
Hanya wajah-wajah manusia bermuka pangkat dua,
Yang ketawa bangga menjadi kakek sekaligus ayah dari bayi-bayi yang mencelat lewat rahim putri kandungnya

O, Malapetaka
Mungkinkah lembing-lembing batu pada zamannya
Telah turun menembus jantung mata kota-kota?!
(semoga Mentari belum bosan pada tugasnya)

Selasa, 09 Desember 2008

Pengantar Menuju "Trenggalek Jelita"

Trenggalek -cinta dan kehidupan, benci dan kematian, kenyang dan kelaparan, kebusukan dan keharuman, kekerdilan dan keagungannya- dimasa lalu, sekarang dan masa akan datang, diwarnai oleh kiprah rakyat jelata. Mereka yang mayoritas tinggal di pedesaan, di pelosok lereng, lembah dan bebukitan.

Mereka adalah obyek sekaligus subyek dan pemilik saham terbanyak untuk menjadikan Trenggalek lebih dipandang di ranah persaingan global - regional, nasional maupun di peta internasional.

Di balik itu, ternyata ada paradigma bahwa rakyat jelata Trenggalek bisa dijadikan alasan segelintir 'angkara murka' demi memperkaya diri sendiri. Maklum, mereka -rakyat jelata- ini, lebih banyak diam 'nerima' daripada berontak kemudian tersuruk-suruk digencet intimidasi berkedok peraturan dan hukum. Situasi dan kondisi begini berangkat dari ketidak-tahuan dan ketidak-mampuan mereka untuk bersikap arif yang tegas, bersikap bijak yang jujur, bersikap berani yang taat hukum, bersikap ksatria yang siap jadi korban, atas nama seribu satu perjuangan.

Blog ini mencoba, dan izinkanlah blog yang sederhana ini mengakomodasi serta mengundang saudara-saudara yang merasa memiliki Trenggalek dan yang peduli pada sebagian wilayah NKRI ini, untuk mengangkat berbagai topik diskusi, fakta dan peristiwa serta banyak hal, kasus atau bahkan isu negatif tentang Trenggalek. Kemudian, bagi yang merasa dirugikan silakan memberikan penjelasan, lantas mari kita saling bertukar pikiran mengenai solusi, kemungkinan terbaik, demi terwujudnya Jaya Wijayagung Trenggalek Jayati, demi masa depan Indonesia. Siapa tahu, ada 'malaikat' yang mendengar dan bersedia membantu kita.

Selamat datang! Karya, gagasan, ide dan kreativitas Anda, pasti amat berguna. Mari melangkah bergandeng tangan, menoreh kata mengukir fakta!!! (diedit terakhir: 5 Agustus 2010)

Please Read This For Peace
(Mohon Baca Ini, Demi Persahabatan)




Disclaimer

I don't and never claim ownership or rights over images published on my blog unless specified.
All images are copyright of their respected creators. If any images that appear on my blog are in violation of copyright law, please contact me on my Chat Box/Guest Book or via my e-mail (maksumhamid [at] trenggalekjelita [dot] web [dot] id) and I will remove the offending pics as soon as possible.

Thank You So Much All Guests and Blogger Friends

I greatly appreciate your kindness to visit my blog and,
in return, I promise I will pay my own visit to your blogs or your sites as soon as possible.; Insyaallah, through this sort of social amiability and solidarity, we could find out a great
deal of thing which will be useful for advancing our human values.
For the sake of friendship and togetherness, please leave a sign of your presence on myChat Box/Guest Book or on comment, so that I can know it precisely and instantly.


Yours sincerely and best regard.
[Lina CahNdeso]

Categories

Senandung Kawula Alit (280) PNS dan Birokrasi (255) Artikel (223) Info (212) Pendidikan (163) Lowongan Kerja (161) Sains-Teknologi Informasi (151) Sejarah Trenggalek (145) Pembangunan (90) Politik (86) Bagi Pahlawan Kemerdekaan (83) Islam (70) Pra-Anggapan (70) Agamaku (69) Kriminal (69) UU-Peraturan (63) Anti Korupsi (60) Catatan Budaya (58) Antik dan Klasik (57) Olahraga (56) Numpang Niwul (54) Cinta dan Kasih Sayang (42) BisnisOnline (37) Tanggung Jawab dan Profesionalisme (37) Software (36) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (35) Sains-Teknologi (32) Biografi Tokoh Peraih Nobel (31) PTC (31) Legeslatif (30) Mesum (27) Palestina (27) Kesehatan (25) Info Beasiswa (24) Thiwul-Manco-Rengginang (22) Zionist (22) Artikel-Copas (21) Flora/Fauna (21) Trik dan Tips Blogging (21) Bencana Alam (20) Langka (20) Selebritis/Tokoh (19) Pariwisata (18) Piala Dunia 2010 (18) Kasus Korupsi (16) Sejarah Dunia (16) English Version (13) Antik dan Klasik. Dongeng (11) Fakta Unik (11) Berita CPNS (9) Fauna (8) Idul Fitri (8) Bencana (6) Bonsai (6) Film (6) Office (6) Poetry (6) Eksekutif (5) My Award (5) Antivirus (4) Biografi Tokoh Lokal (4) Kabinet (4) Puisiku (4) Guest Book (3) Lomba (3) Musibah (3) Polisi (3) Affiliasi Bisnis (2) Bank (2) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (English) (2) Ekonomi/Keuangan (2) Iklan/Pariwara (2) KIB Jilid 2 (2) Mbah Surip (2) Merapi (2) Musik (2) Pelantikan Presiden (2) Taxi (2) lebaran (2) Adipura (1) Alexa (1) Banner Sahabat (1) Biografi Tokoh Seni/Sastra Lokal (1) Catur (1) Cerpen (1) Daftar Posts (1) Dewa Ruci (1) Forex-JSS-JBP (1) GTT (1) Game (1) Google Sandbox (1) Hari Jadi (1) Irshad Manji (1) Jamu Tradisional (1) Jelajah Sepeda-Kompas (1) Jimat Trenggalek (1) Judi/Togel (1) Kuliner (1) Malaysia (1) Maria Verchenova: Russian golferMaria Verchenova: Russian golfer (1) Moammar Khadafi (1) Parcel (1) Perempuan (1) Pers (1) Pramuka (1) Psikologi (1) Resensi Buku (1) Sepak Bola (1) Sumpah Pemuda (1) TNI (1) Tradisional (1)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes

Back To Top