Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana Alam. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2011

KBM di SD/SMP Satu Atap Wonokerto Terhambat Jalan Putus

H.Mulyadi WR, Kholiq, dan Akbar Abas bersama tim Pemkab Trenggalek ketika meninjau kondisi jembatan Nglebo yang hancur dihantam banjir bandang (21/5/2011).

Bencana banjir yang seringkali melanda daerah Trenggalek, Jawa Timur, telah menyebabkan banyak infrastruktur jalan dan pengairan mengalami rusak berat. Salah satunya yang hingga kini masih dibiarkan telantar oleh Pemkab Trenggalek, adalah jalur menuju SD-SMP Satu Atap di Desa Wonokerto, Kecamatan Suruh.

Akibat terputusnya akses jalan ke sekolah tersebut, para guru dan ratusan siswa SD-SMP Satu Atap Wonokerto menjadi gelisah karena aktivitas belajar mengajar terganggu. Jalan ini terputus karena longsoran dari bebukitan sekitar yang telah menutupi badan jalan ketika banjir bandang terjadi bulan Mei yang lalu.

Keluhan terutama disampaikan oleh anak didik yang rumahnya berada di sisi jembatan. Sementara guru yang ingin menuju ke SD/SMP Satu Atap Wonokerto terpaksa harus berjalan kaki. Jalan selebar tiga meter tersebut sama sekali tidak bisa dilewati kendaraan bermotor.
Solusi sementara, warga sudah membangun jalan alternatif dengan membuat jalan setapak disisi jembatan yang tanahnya milik warga. Hal tersebut dilakukan agar kegiatan belajar mengajar siswa SD/SMP Satu Atap bisa kembali normal walaupun tidak maksimal.

Seorang guru yang enggan disebutkan namanya, menyampaikan uneg-unegnya mewakili rekan-rekan dan siswa SD-SMP Satu Atap Wonokerto. Mereka berharap, kepedulian Pemkab Trenggalek segera diwujudkan dengan memperbaiki jalan itu.

"Kami dan juga warga sekitar berharap pemerintah daerah segera membangun jalan permanen menuju SD/SMP Satu Atap Wonokerto. Jika tetap dibiarkan jalan sementara yang dibuat warga di tanah pekarangan tersebut tidak akan maksimal. Dan kami para guru khawatir motivasi siswa untuk belajar jadi menurun," ujarnuya.

Terlebih jikalau sudah memasuki musim penghujan, badan jalan hanya tanah yang diratakan. Bukan jalan permanen dari aspal. Untuk itu, warga maupun pihak sekolah meminta kepada pemerintah untuk secepatnya membangun jalan permanen sebagai akses satu-satunya menuju SD/SMP Satu Atap Wonokerto.

"Kasihan anak-anak dan gurunya apabila jalannya tetap seperti itu," ujar Suparta salah satu tokoh pendidikan di kecamatan Suruh, Sabtu (18/6). Suparta menambahkan, selain akses satu-satunya menuju SD/SMP Satu Atap Wonokerto, jalan yang putus tersebut juga menganggu kegiatan perekonomian warga sekitar. Tentunya bagi warga yang tinggal di Desa Wonokerto Kecamatan Suruh.(prigibeach.com).

Niadesain.com

Jumat, 20 Mei 2011

Banjir Bandang Kembali Porak-porandakan Trenggalek

Sururi, Kades Sukowetan
Hujan yang melanda kawasan Trenggalek (Jawa Timur), sejak usai Maghrib, Kamis (19/5) kemarin hingga Jum'at (20/5) dini hari, telah mengakibatkan banjir bandang kembali memporak-porandakan Kabupaten Trenggalek. Air bah menerjang ribuan rumah di 5 kecamatan, merusak beberapa buah jembatan.
Lima kecamatan yang diterjang banjir bandang adalah Kecamatan Karangan, Kampak, Suruh, Gandusari dan Pogalan. Untuk bangunan jembatan yang roboh diterjang banjir berlokasi di Kecamatan Karangan, sementara sebuah rumah warga yang rusak berat berada di Kecamatan Kampak.

"Banjir mulai terjadi dinihari tadi sekitar jam dua, dan sejauh informasi yang saya terima banjir ini akibat hujan lebat yang turun sejak jam sebelas malam kemarin," ungkap Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Trenggalek Yoso Mihardi dikonfirmasi, Jumat (20/5/2011).

Yoso belum dapat memastikan jumlah rumah yang diterjang banjir, meski memprediksi mencapai ribuan. Faktor geografis Kabupaten Trenggalek yang merupakan kawasan perbukitan, memungkinkan jumlah rumah dan luasan wilayah yang terendam banjir akan terus meluas.

"Yang di Kecamatan Karangan dilaporkan sudah mulai surut, karena memang di sana lokasinya lebih tinggi. Sekarang air terus turun dan tidak menutup kemungkinan siang nanti bisa sampai Kecamatan Kota," tambah Yoso.

Meski demikian Yoso memastikan belum menerima laporan adanya korban jiwa akibat banjir bandang tersebut. Dan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk tenaga medis sudah disiagakan di sejumlah pos yang juga didirikan.
"Korban sejauh ini hanya jembatan dan rumah roboh. Untuk korban jiwa belum ada laporan masuk ke kami," ujarnya.

Pemkab Trenggalek saat ini tengah berkonsentrasi mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan logistik korban banjir, mengingat banjir terjadi pada dini hari, yang dapat dipastikan menjadikan warga panik.
"Dapur umum sudah didirikan di sejumlah lokasi dan fokus kami sekarang memang kesana. Kami yakin warga tidak sempat membuat makanan untuk pagi ini, karena banjir datang dini hari tadi dan sangat mendadak," tandas Yoso.

Sementara itu di desa Sukowetan Kecamatan Karangan, jembatan terkokoh di desa itu pondasinya ambles, kondisi jembatan rusak berat. Menurut Atim (51) warga RT 22 Sukowetan, jembatan ambles menjelang pukul 04.30 dini hari. Saat itu dia bersama beberapa warga setempat tengah berusaha menanggulangi akibat banjir melanda. Ketika tiba-tiba mendengar suara berderak keras sekali, ternyata jembatan buah karya AMD (ABRI Masuk Desa) tahun 1988 itu sudah ambles.

Menurut Sururi (32) Kades Sukowetan, setiap kali banjir bandang terjadi, desanya tidak luput dari dampak bencana tersebut. "Kali ini, jembatan kami ambles dan putus, sama sekali tidak bisa diperbaiki kecuali dibangun yang baru. Jembatan ini sangat vital karena menghubungkan belahan desa Sukowetan bagian selatan kali dengan utara kali," katanya.

Dari 27 RT di Desa Sukowetan, 17 diantaranya terendam air hingga ketinggian 1 meter. Lokasi terdampak adalah sepanjang aliran anak sungai Ngasinan yang bersumber dari Jurug Gue. Air baru mulai surut menjelang pukul 09.00. Warga yang terkena musibah bergotong royong membersihkan lingkungan, dan memberikan tanda dilarang lewat jembatan yang ambles. Ada 295 jiwa yang rumahnya terendam air, mereka adalah keluarga yang tinggal di area yang berdekatan dengan aliran sungai.

"Kerugian material meliputi rusaknya infrastruktur jembatan sepanjang 40 Meter dan jalan makadam yang didanai PNPM Tahun 2010. Nilai keseluruhan kira-kira Rp.635 juta," kata Sururi. Warga masih merasa bersyukur karena tidak ada rumah yang ambruk juga tidak ada korban jiwa. (prigibeach.com).

Niadesain.com

Jumat, 11 Maret 2011

Jepang Diterjang Gempa Dahsyat, BMKG Peringatkan Indonesia Waspada Tsunami


Baru saja terjadi gempa maha dahsyat telah mengguncangkan seluruh kawasan negeri Sakura, Jepang. Menurut beberapa berita yang dilansir stasiun televisi nasional dan media elektronik lainnya, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini tentang akan adanya tsunami yang menerjang sebagian kawasan negeri kita. Demi keamanan dan keselamatan, kepada saudara-saudara yang berada di kawasan tersebut, segeralah mempersiapkan segala sesuatunya, agar dapat meminimalisasi akibat bencana alam itu.

Dan marilah kita semua berdoa, semoga saudara-saudara kita yang diterjang tsunami tetap tabah dan kuat menghadapi ujian hidup serta dapat terhindar dari dampak besar yang ditimbulkan.  Amin

Jepang Diguncang Gempa, Tsunami Melanda

Gempa besar 8,8 SR yang mengguncang Jepang telah memicu tsunami dahsyat. Ombak besar telah menerpa daratan di wilayah Myagi. Dalam siaran TV CNN, Jumat (11/3/2011) air telah masuk ke dalam daratan. Air terlihat menyapu semua benda-benda di jalan.

Pukul 14.01 WIB Terlihat air terus bergerak menuju daratan. Perahu kecil maupun kapal pesiar terbawa air hingga daratan. Mobil-mobil, rumah juga hanyut diterjang air.

Gempa terjadi di Menurut badan Survei Geologi AS atau USGS, gempa tersebut berkekuatan 8,8 SR dan melanda sekitar 400 kilometer dari Tokyo dengan kedalaman 20 mil.

Menurut saksi-saksi mata, saat gempa terjadi, kereta super cepat Shinkansen yang tengah melaju pun mendadak berhenti. Belum diketahui berapa korban jiwa yang jatuh akibat bencana ini.

Indonesia Gempa 6,6 SR, Berpotensi Tsunami 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberi peringatan waspada tsunami kepada masyarakat di kawasan Papua, Maluku Utara dan Sulawesi Utara.

Rahmat Priyono, Kepala Subbidang Informasi Dini Gempa Bumi BMKG, mengungkapkan hal ini kepada wartawan pada Jumat (11/3). Menurutnya, masyarakat di sekitar kawasan harus waspada tentang kemungkinan terjadinya tsunami di Indonesia.

“Tinggi tsunami diperkirakan kurang dari 3 meter untuk kawasan Indonesia. Peringatan waspada tersebut sejak saat ini hingga 20:00 WIT atau 18:00 WIB,” ujar Priyono.

Tsunami ini diperkirakan tiba pukul 18.00 WIB akibat gempa di Jepang yang berkekuatan maha dahsyat yakni 8,8 skala richter pada pukul 12:46:22 WIB dengan lokasi 38.49 Lintang Utara (LU) dan 142.79 bujur timur (BT) kedalaman 44 kilometer.

Gempa di Jepang akan merembet ke Indonesia dengan kekuatan gempa 6,6 SR. BMKG melansir bahwa gempa itu berpotensi tsunami.

Gempa terjadi pukul 14.33 WIB, Jumat (11/3/2011). Pusat gempa 165 km barat laut Sumbawa Besar (NTB), 180 km timur laut Mataram, 181 km timur laut Taliwang, 225 km timur laut Singaraja, Bali, 1.118 km tenggara Jakarta.
Niadesain.com

Sabtu, 19 Februari 2011

Gempa Tektonik Dahsyat Ancam Kawasan Trenggalek

Gunung Spikul - anak Bukit Kambe di Watulimo. 

Geger!!! warga Kecamatan Munjungan dan Watulimo Kabupaten Trenggalek, Jatim, dengan munculnya suara gemuruh disertai dentuman keras. Warga menduga suara mencurigakan tersebut dari Gunung Kambing-an (masyarakat mengenalnya dengan sebutan Gunung Kambengan) yang berlokasi di Desa Karangturi Kecamatan Munjungan, Trenggalek. Suara dentuman disertai gemuruh yang terdengar dari radius lebih dari dua puluh kilometer tersebut terdengar setiap malam dengan menimbulkan getaran sampai kaca warga pecah. Bahkan pada siang hari pun ada masyarakat yang mendengarnya. (Baca:  Apakah Gunung Kambing-an Munjungan Aktif?)

Gempa Tektonik di Kedalaman 33 KM

Setelah melakukan penelitian selama 3 hari non-stop, Tim BMKG yang langsung dipimpin oleh Kepala Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tretes, Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Petrus Demon Sili, menyimpulkan bahwa getaran itu berada di arah dominan 220-260 derajat (Barat-Barat Daya) dengan sebaran di radius 4-40 Km dari Desa Timahan, Kecamatan Kampak, Trenggalek.

Suara gemuruh disertai dentuman yang dirasakan warga Kecamatan Watulimo, Munjungan dan Kampak Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, dipastikan bersumber dari aktivitas gempa tektonik, dan bukan aktivitas magma gunung api, pertambangan ilegal atau latihan militer di wilayah eks-Karsidenan Madiun. Gejolak yang menimbulkan gema tersebut berada pada kedalaman 33 kilometer, dengan pusat di wilayah Desa Timahan Kecamatan Kampak.

"Ini hasil monitoring kita selama tiga hari (15-18 Februari 2011) di Trenggalek dengan menggunakan perangkat portabel digital seismograf dan analog seismograf, " ujarnya kepada wartawan dalam pemaparan hasil analisa fenomena getaran yang terjadi di Kabupaten Trenggalek.

Ada 25 Titik Pusat Gempa

Selain melakukan penelitian di wilayah Kecamatan Kampak, tim BMKG juga melakukan survei di wilayah Kecamatan Munjungan. Selama tiga hari tersebut, BMKG menemukan sebanyak 25 titik sebaran dari pusat gempa yang berada di Desa Timahan. Yakni meliputi wilayah Kecamatan Dongko, Pule, Suruh, Watulimo hingga Munjungan. Gempa tektonik yang berlangsung terus menerus ini rata-rata berada pada kekuatan dibawah 3,2 skala richter.

"Yang terbesar pada kekuatan 3,2 Skala Richter, yakni pada arah 8.00 LS-111.78 BT, berjarak 20,5 Km Timur Laut Desa Timahan, Kecamatan Kampak," jelas Petrus. Di hadapan Bupati Trenggalek H.Mulyadi WR, Sekda Trenggalek Cipto Wiyono, Ketua DPRD Akbar Abbas dan sejumlah Muspida, Petrus menjelaskan, bahwa secara topografis, Kabupaten Trenggalek berada di wilayah lempeng India-Australia. Keberadaan ini sama halnya dengan Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pacitan, Malang hingga Banyuwangi. Resikonya, Trenggalek rawan diguncang gempa yang diakibatkan gesekan atau tumbukan dengan lempeng Eurasia atau lempeng Pasifik. "Tapi ini gempa darat yang tidak menimbulkan tsunami," tambahnya.

Penyebab Gempa Belum Bisa Dipastikan

Pada akhir uraiannya ternyata Tim BMKG belum bisa menentukan penyebab gempa yang meresahkan masyarakat Trenggalek selama beberapa minggu ini. Kepala BMKG Petrus Demon Sili menegaskan belum bisa memastikan penyebab dari gempa tektonik yang berpusat di wilayah Kecamatan Kampak tersebut. Topografi yang berada di wilayah lempeng memang berkaitan, namun semua itu secara ilmiah belum bisa menjadi kesimpulan sebagai penyebab gempa.

"Saya butuh waktu sekitar sepekan lagi untuk bisa memastikan penyebab gempa ini," katanya. Ketika ditanya sampai kapan fenomena yang meresahkan masyarakat itu berlangsung, Petrus juga belum bisa memastikan sampai kapan dentuman yang terdengar siang-malam itu akan segera berakhir.

"Untuk interval dan berapa banyak dentuman dalam sehari saja saat ini kita masih mempelajarinya," ujarnya. Sambil menambahkan bahwa tim BMKG juga melakukan penyelidikan serupa di wilayah Kecamatan Ngebel, Kecamatan Pulung dan Kecamatan Pudak Kabupaten Ponorogo. Pihaknya menemukan 54 titik sebaran gempa yang juga terjadi di wilayah Kabupaten Ponorogo. "Saat ini kita juga sedang mendalaminya," tegasnya.

PVMBG: Getaran dan Dentuman di Trenggalek Bukan Gempa Tektonik

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung mementahkan hasil penelitian Balai Besar wilayah III Stasiun Geofisika Kelas II BMKG Tretes, terkait getaran dan dentuman di 4 kecamatan di Kabupaten Trenggalek. Kejadian tersebut dipastikan bukan gempa tektonik, melainkan sebuah dampak dari terjadinya pergerakan tanah lambat.

"Kalau istilah teknisnya, kami biasa menyebut kriting. Di Indonesia, khususnya yang memiliki kemiringan tanah sedang, itu biasa terjadi," kata Kepala PVMBG Surono kepada detiksurabaya.com saat dihubungi, Sabtu (19/2/2011).

Dalam catatan PVMBG, kejadian yang sama di Kabupaten Trenggalek pernah terjadi di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara dan Bandung Utara, Jawa Barat. Kejadian itu biasanya akan selalu terjadi saat musim penghujan, dan akan berhenti dengan
sendirinya saat kemarau tiba.

"Itu adalah gesekan antara tanah dengan kelembapan tinggi karena air hujan, dengan lapisan dalam yang kedap air. Gesekan dan gerakannya sangat lambat, makanya disebut pergerakan tanah lambat dan getarannya tidak begitu keras," jelas Surono.

Untuk mempermudah penjelasan, Surono mencontohkan sebuah meja dengan beban berat di atasnya, bila ditarik secara tiba-tiba dapat dipastikan akan memunculkan suara yang merupakan hasil pergesekan antara kaki meja dengan lantai. Getaran juga dipastikan muncul di bagian atas meja, juga sebagai akibat gesekan tersebut.

Ditanya mengenai hasil penelitian Balai Besar wilayah III Stasiun Geofisika Kelas II BMKG Tretes, Pasuruan, yang menyebut kejadian tersebut adalah gempa tektonik, dengan tegas Surono membantahnya. "Gempa tektonik tidak mungkin ada di kedalaman 33 Km," sangkalnya.

Dalam penjelasannya Surono juga membantah adanya kemungkinan tanah longsor dalam skala besar, sebagai akibat getaran dan dentuman di Kabupaten Trenggalek tersebut. Ancaman tanah longsor tetap ada, namun tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

"Dampak yang paling mungkin terjadi adalah tanah retak. Kalau longsor kemungkinannya kecil, kecuali daerah tempat kejadiannya memiliki kemiringan yang curam," tandasnya.

Sebelumnya, dalam 2 pekan terakhir masyarakat di 4 kecamatan di Kabupaten Trenggalek, masing-masing Watulimo, Munjungan, Kampak, dan Panggul, dikagetkan dengan munculnya suara dentuman menyerupai bom dan getaran ringan di permukaan tanah.

Kejadian yang juga dilaporkan terjadi di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo tersebut, berdasarkan penelitian oleh Balai Besar wilayah III Stasiun Geofisika Kelas II BMKG Tretes, Pasuruan, dianggap sebagai gempa tektonik di kedalaman kurang dari 33 Km.(prigibeach.com/surabaya-detik.com)
Niadesain.com

Sabtu, 05 Februari 2011

Korban Tanah Longsor di Kecamatan Bendungan, Terkatung-katung Dalam Pengungsian

Seorang ibu muda, ambil air tadah hujan
di lokasi penampungan pengungsi,
desa Depok, Bendungan, Trenggalek
Sejak pemerintahan Bupati H. Soeharto, dan kini berganti dengan H. Mulyadi WR, nasib para pengungsi korban longsor di desa Depok, Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, masih terkatung-katung. Berbagai fasilitas yang seharusnya mereka peroleh sebagai hak korban bencana alam, hingga kini ternyata masih belum mereka rasakan sebagaimana seharusnya. Senandung Kawula Alit di sini terdengar bagai bayu nan lunglai, layaknya bisikan para penderita kelaparan, yang telah kehabisan energi.

Tanah longsor yang melanda Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terjadi pada tahun 2007 silam. Meluluhlantahkan tempat tinggal 37 kepala keluarga, sampai kini hanya memberi duka yang tak kunjung hilang. pada segenap korban. Mereka hidup terlantar selama 3 tahun lebih dan hingga kini tak sekalipun menerima bantuan.

Salah satu pengungsi, Paini (42 thn) mengatakan, rumahnya hancur dan tidak bisa dipakai lagi karena terkena longsor. Bersama warga yang bernasib sama, dirinya dan keluarga mengungsi ke atas pegunungan Tumpak Ndolo. Lokasinya 1,5 kilometer dari lokasi rumahnya yang lama. Di lokasi milik perhutani ini, warga lalu mendirikan rumah-rumah sementara. Tidak ada rumah permanen, semuanya berdinding bambu dan berlantaikan tanah saja. Sebagian kecil memilih menumpang di rumah saudaranya yang mempunyai rumah di lokasi yang lebih aman. Namun selama 3 tahun lebih menempati gubuk mereka, bantuan yang sangat diharapkan tak kunjung datang. Beberapa kali pihak Pemkab Trenggalek melakukan pendataan dan pengukuran, namun tetap saja para korban longsor masih tinggal di pengungsian.

Paeran (47 th) juga mengeluhkan kondisi pengungsian yang sangat tidak layak. Selain kondisinya yang berlantaikan tanah, tidak ada sumber air di lokasi ini. Untuk kebutuhan sehari-hari, warga mengandalkan turunnya air hujan. Setiap kali cuaca mendung, para pengungsi harus menyediakan tong penampung air. Air yang mereka tampung harus diendapkan semalam, kemudian baru bisa dipakai untuk keperluan sehari-hari. Air yang jauh dari higienis ini dipakai memasak dan minum. Masih beruntung belakangan hari masih kerap turun hujan. Jika 5 hari saja tak turjun hujan, para pengungsi harus pergi ke sungai. Meski air di sungai lebih jernih dan lebih sehat, namun jaraknya 1 kilometer dari pengungsian warga.

Mereka mengharapkan pemerintah setempat bisa merelokasi pemukiman mereka. Selain memberi kepastian, di pemukiman baru nantinya mereka bisa mendirikan rumah yang lebih layak, seperti rumah mereka yang diterjang longsor.

Kabag Humas Pemkab Trenggalek, Yoso Mihardi mengatakan, Pemkab Trenggalek saat ini masih fokus untuk mencarikan lokasi relokasi para pengungsi. Salah satu jalan yang diupayakan melalui tukar guling dengan pihak perhutani.

"Kami tawarkan kepada Perhutani, lokasi perumahan warga yang terkena longsor menjadi milik perhutani, sebagai ganti tanah perhutani yang dipakai pengungsi saat ini," terangnya.

Sayangnya hingga kini belum ada titik temu antara kedua belah pihak. Disinggung bantuan yang belum juga turun, Yoso menjawab, bantuan masih menunggu kejelasan status tanah hunian para pengungsi. Jika nanti proses tukar guling berhasil dan status tanah warga sudah diakui, maka pemerintah akan membantu proses relokasi dan pembangunan. Bahkan Yoso menyebut, pemerintah provinsi Jawa Timur pun telah memastikan akan mengirim bantuan bagi proses relokasi para korban longsor ini. (prigibeach)
Niadesain.com

Rabu, 19 Januari 2011

Orang Ini Mengarungi Banjir Australia dengan Boneka Seks

Remaja Australia berpegang pada boneka seks
saat banjir menerjang. (Telegraph)
Banjir yang tiba-tiba melanda sebagian wilayah Australia banyak menelan korban jiwa. Banjir juga menjebak warga lainnya dalam mobil bahkan beberapa dari warga berlindung di atas pohon. Sementara tidak terhitung rumah dan mobil milik warga hanyut terbawa arus. Ternyata, bukan saja di negeri kita ada bencana banjir, namun juga di negeri manca. Barangkali global warming sudah mulai menuntun dunia ini ke arah kehancuran yang lebih fatal.

Di tengah bencana tersebut, saat Australia sedang siaga penuh akibat terjangan banjir, entah apa yang ada di pikiran sepasang remaja Australia ini yang mengarungi Sungai Yarra, yang sedang mengamuk di Queensland, dengan boneka seks.

Laki-laki berambut coklat dan perempuan pirang yang tidak disebut namanya itu memegang boneka seorang satu. Terbuat dari karet dan diisi udara, boneka itu mengapung layaknya pelampung betulan. Dan saat arus membawa mereka melewati sebuah terowongan di Warrandyte North, kemarin sore, si perempuan kehilangan pelampung alias boneka seksnya yang berjenis kelamin laki-laki.

Dia berpegangan pada batang pohon dan pasangannya menemaninya, masih dengan boneka seks dengan rupa perempuan pirang. Beruntung ada orang yang melihat dan menghubungi polisi.

Meski marah atas tingkah aneh ini, polisi tetap menyelamatkan kedua remaja 19 tahun tersebut. "Kami sedang sibuk menyelamatkan korban, gangguan seperti ini sangat menyebalkan," kata kepala kepolisian setempat, Wayne Wilson seperti dikutip Sidney Morning Herald.

Banjir yang menghantam Australia menelan 31 korban tewas selama dua pekan terakhir. Ribuan rumah terendam di banjir terburuk Australia selama 200 tahun terakhir ini.

Setelah ditarik pakai perahu karet, kedua remaja yang namanya tidak disebutkan itu diangkut ambulans. "Tidak diketahui nasib boneka yang hilang tersebut," ujar Wilson, seperti dirilis Sidney Morning Herald.

Insiden banjir ini menambah panjang rangkaian bencana yang melanda wilayah negara bagian Queensland. Wilayah tersebut sebelumnya hancur oleh banjir yang sudah terjadi sejak November lalu. Sepuluh warga dilaporkan tewas sejak November dan 200 ribu lainnya terpengaruh banjir dahsyat ini.

Jalan dan rel kereta api terputus akibat air yang memenuhi. Sementara banjir juga membuat industri batubara Queensland tidak beroperasi. (See original News)
Niadesain.com



Related Posts with Thumbnails

Selasa, 09 November 2010

Foto-foto Dokumentasi Tragedi Merapi

Sejak letusan awal pada tanggal 25 Oktober- Gunung Merapi di Indonesia, terus memuntahkan gas panas dan abu sejauh 5.000 meter ke udara, mendatangkan malapetaka di sekitar desa pemukiman dan pertanian, dan mengganggu route penerbangan udara - serta lebih dari 140 orang telah tewas oleh letusannya selama dua minggu terakhir. Ratusan ribu penduduk telah mengungsi, banyak dari mereka tinggal di tempat penampungan sementara, sampai kemudian pemerintah Indonesia menetapkan "zona aman" menjadi 20 KM, dan memungkinkan mereka dan ternak mereka untuk kembali. Semua gambar di sini adalah gambar terbaru dari daerah dekat Gunung Merapi yang tidak dapat diprediksi karena masih bergemuruh dan meletus. (Total ada 40 foto ).

Mari kita bersama-sama menundukkan segenap totalitas jiwa kita, ke hadirat Allah, Tuhan Yang Maha Esa, semoga bencana alam di negeri ini segera berakhir. Kepada segenap korban bencana yang meninggal dunia kita mohonkan ampunan dan ridlo-Nya bagi mereka, sedang yang mengalami luka, cacad dan masih mengalami penderitaan fisik maupun rokhani, ditetapkan iman dan kesabaran. Semoga uluran bantuan dari para dermawan bisa meringankan penderitaan mereka yang di pengungsian. Serta pemerintah memberikan kepedulian tanggap darurat yang maksimal.

Selanjutnya, kepada para pencoleng, penjahat dan kaum kriminal, serta koruptor yang memanfaatkan kesempatan bencana untuk memperkaya diri sendiri, diberikan kesadaran total dari Allah yang Maha Rahman dan Rakhim. Sehingga mereka segera bertaubat sebelum Malaikat Izrael menjemput nyawa kaum durjana itu. Amin Ya Mujibashai'lin.

(Original posts, see on boston.com)
(1)Seorang petani berdiri di sawah
yang merupakan bagian material vulkanik letusan Gunung Merapi,
di Klaten, Jawa Tengah pada 4 November 2010, dekat Yogyakarta, Indonesia.
Lebih dari 70.000 orang saat itu telah dievakuasi dan zona bahaya sudah diperluas
menjadi 15 KM, sementara Merapi terus memuntahkan abu dan material vulkanik.
(Ulet Ifansasti / Getty Images)
(2)Gunung Merapi memuntahkan asap gunung api,terlihat dari desa Deles di Klaten,
dekat kota kuno Yogyakarta, 1 November 2010. (REUTERS / Dwi Oblo)
(3)Houses are in flames as volunteers rescue burned victims of an eruption of Mount Merapi
in Argomulyo village early on November 5, 2010. (SUSANTO/AFP/Getty Images)

(4)Relawan penyelamatan korban letusan Gunung Merapi
di desa Argomulyo yang hancur oleh awan panas mematikan, abu vulkanik awal
pada tanggal 5 November 2010.(SUSANTO / AFP / Getty Images)
(5)Kilatan cahaya letusan Gunung Merapi, seperti yang terlihat dari desa Ketep di Magelang,
propinsi Jawa Tengah, Indonesia, 6 November 2010.
(REUTERS / Beawiharta)
(6)Pohon mati dan rumah-rumah rusak tertutupi abu letusan,
nampak Gunung Merapi di latar belakang, di Sleman, Provinsi Yogyakarta, Jawa Tengah,
pada tanggal 6 November 2010. (Ismoyo BAY / AFP / Getty Images)
(7)Sepasang sandal jepit terhenyak
ditutupi abu vulkanik dari letusan Gunung Merapi ditinggalkan pemiliknya,
di desa  Kaliadem, Yogyakarta, Indonesia
pada tanggal 2 November 2010. (AP Photo / Trisnadi)

(8)Korban yang selamat, Sri Sucirathaasri, 18,
berdiri di samping kakak nya yang terluka Priska di sebuah rumah sakit
di Yogyakarta, Indonesia pada 5 November 2010.
Rumah sakit di kaki gunung berapi Indonesia yang paling stabil,
sedang berjuang untuk mengatasi korban yang berdatangan
setelah letusan gunung yang paling kuat di abad.
(AP Photo / Achmad Ibrahim)

(9) Penduduk desa berkeliling khidmat dalam dukacita
di makam para korban letusan Gunung Merapi saat prosesi pemakaman massal
di Sleman, Yogyakarta, Indonesia, Minggu, 7 November 2010.
(AP Photo / Achmad Ibrahim)

(10) Seorang warga berjalan di Desa Ketep, Magelang,
propinsi Jawa Tengah, Indonesia, 6 November 2010,
jauh di belakangnya - Gunung Merapi meletus memuntahkan awan dan gas panas
yang menjulang dari puncaknya. (REUTERS / Beawiharta)

(11) Pohon mati dan lumpur menyumbat sungai,
juga menjadi korban muntahan awan abu panas dari letusan Gunung Merapi
di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada tanggal 6 November 2010.
(Ismoyo BAY / AFP / Getty Images)
(12) Abu vulkanik dari letusan Gunung Merapi menyelimuti sebuah desa
di Muntilan, Jawa Tengah, Indonesia, Minggu, 7 November, 2010.
(AP Photo / Trisnadi)

(13) Sebuah tim SAR mencari korban di Desa Wukirsari, Sleman,
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia November 7, 2010.
(REUTERS / Sigit Pamungkas)

(14) Sebuah dapur diselimuti debu di desa Cangkringan,
Jawa Tengah Indonesia, 6 November 2010. (REUTERS / Dwi Oblo)

(15) Seekor burung peliharaan, tewas akibat letusan Gunung Merapi,
dalam sebuah kandang di desa yang ditinggalkan penghuninya
di Kaliadem, Yogyakarta, Indonesia pada tanggal 2 November 2010.
(AP Photo / Trisnadi)

(16) Sebuah Radio Tape Recorder mencair dan beku oleh abu vulkanik
letusan Gunung Merapi di desa ditinggalkan penghuninya di Kaliadem,
Yogyakarta, Indonesia pada 1 November 2010. (AP Photo/Trisnadi)

(17) Sesosok Jasad korban letusan Gunung Merapi telentang kaku berselimut debu
dan puing-puing di depan sebuah rumah di desa Argomulyo, Cangkringan, Kabupaten Sleman,
5 November 2010. (REUTERS / Surya Aditia)

(18) Tim Penyelamat mengangkat sesosok jasad korban yang hangus
dihantam letusan Gunung Merapi di Argomulyo, Yogyakarta, Indonesia,
Jum'at 5 November 2010. (AP Photo / Trisnadi)
(19) Seorang dokter hewan Indonesia mencoba merawat sapi yang terluka
akibat letusan Merapi di Desa Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta,
29 Oktober 2010. (Adek BERRY / AFP / Getty Images)

(20) Larutan lava mengalir dari kawah Gunung Merapi tertangkap dalam foto
sepanjang alirannya di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah,
tanggal 2 November 2010. (Tumbelaka sonny / AFP / Getty Images)

(21) Gunung Merapi memuntahkan lava dan asap ketika meletus lagi pada hari Rabu
seperti yang terlihat dari desa Sidorejo di Klaten pada tanggal 3 November 2010.
(REUTERS / Beawiharta)
(22) Warga Yogyakarta naik sepeda motor mereka menjauhi zona bahaya,
debu vulkanik jatuh dari letusan Gunung Merapi saat pertama kali,
tanggal 30 Oktober 2010. (CLARA PRIMA / AFP / Getty Images)
(23) Seorang wanita mengenakan jas hujan,
naik sepeda pancal sepanjang jalan yang tertutup debu letusan Gunung Merapi,
di kota Yogyakarta, 30 Oktober 2010. (REUTERS / Andry Prasetyo)
(24) Penduduk desa meninggalkan rumah mereka setelah letusan Gunung Merapi di Klaten, Indonesia,
Jum'at 5 November 2010. (AP Photo / Achmad Ibrahim)

(25) Gunung Merapi meletus, seperti yang terlihat dari desa Wukirsari, Sleman,
dekat kota kuno Yogyakarta, 4 November 2010. (REUTERS / Beawiharta)
(26) Tunggul-tunggul pohon yang meranggas kering kaku dihantam letusan Gunung Merapi,
di desa Kinahrejo, Sleman, Yogyakarta, 27 Oktober 2010.
(Ulet Ifansasti / Getty Images)

(27) Warga berbondong-bondong meninggalkan zona bahaya gunung Merapi,
menghindari awan dan abu di atas desa Balerante, Klaten
, 1 November 2010. (Adek BERRY / AFP / Getty Images)
(28) Penduduk desa dikawal oleh polisi menyeret seorang pencoleng
yang diduga terperangkap dalam sebuah desa yang ditinggalkan penghuninya
di Sleman, di zona bahaya Gunung Merapi pada tanggal 1 November 2010.
(ARYA BIMA / AFP / Getty Images)

(29) Anggota Kopassus berusaha mengevakuasi seorang wanita tua yang menolak
untuk meninggalkan rumahnya selama evakuasi setelah ledakan terbaru di Umbulharjo, Sleman,
30 Oktober 2010. (Adek BERRY / AFP / Getty Images)
(30) Seorang wanita tetap melaksanakan kewajiban shalatnya
di camp pengungsian di Stadion Maguwoharjo di Yogyakarta,
5 November 2010. (REUTERS / Beawiharta)

(31) Pengungsi membongkar dan memilih pakaian bekas yang dibagikan
di sebuah camp pengungsi di Yogyakarta, November 7, 2010.
(REUTERS / Sigit Pamungkas)

(32) Seorang gadis menangis di sebuah camp penampungan sementara
di Bawukan, Klaten, Jawa Timur, Indonesia, Jum'at 5 November 2010.
(AP Photo / Hendratmo AK)
(33) Para pengungsi melihat keluar dari dalam tenda saat hujan
di sebuah pusat evakuasi sementara, di Desa Keputran, Klaten, Jawa Tengah,
4 November 2010. (Ulet Ifansasti / Getty Images)
(34) Muntahan lava dan abu dari puncak Gunung Merapi,

dilihat dari Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
sebelum fajar, 6 November 2010.(Ismoyo BAY / AFP / Getty Images)

(35) Pemandangan dari sebuah pesawat domestik penerbangan Denpasar ke Yogyakarta
yang kemudian routenya dialihkan ke bandara Surabaya,
menunjukkan segumpal gas dan abu mengepul kira-kira 10 KM tingginya dari Gunung Merapi, selama letusan pada tanggal 4 November 2010. (CLARA PRIMA / AFP / Getty Images

(36) Anggota tim penyelamat dari Yogyakarta
membawa korban letusan Gunung Merapi di desa Ngancar,Sleman, 8 November 2010.(CLARA PRIMA / AFP / Getty Images)

(37)Tangan mayat korban letusan Gunung Merapi,
di antara kantong mayat
di kamar mayat rumah sakit
di Yogyakarta, Indonesia, Jumat 5 November 2010.

(AP Photo / Slamet Riyadi)
(38) Seorang petani mengais dedaunan
di ladang jagung yang diselimuti abu vulkanik letusan Gunung Merapi
di Muntilan, Jawa Tengah, Indonesia pada Senin, 8 November, 2010. (Foto AP)
(39) Gunung Merapi, dilihat dari Desa Sidorejo di Klaten, tanggal 1 November 2010.
(REUTERS / Beawiharta)
Related Posts with Thumbnails

Please Read This For Peace
(Mohon Baca Ini, Demi Persahabatan)




Disclaimer

I don't and never claim ownership or rights over images published on my blog unless specified.
All images are copyright of their respected creators. If any images that appear on my blog are in violation of copyright law, please contact me on my Chat Box/Guest Book or via my e-mail (maksumhamid [at] trenggalekjelita [dot] web [dot] id) and I will remove the offending pics as soon as possible.

Thank You So Much All Guests and Blogger Friends

I greatly appreciate your kindness to visit my blog and,
in return, I promise I will pay my own visit to your blogs or your sites as soon as possible.; Insyaallah, through this sort of social amiability and solidarity, we could find out a great
deal of thing which will be useful for advancing our human values.
For the sake of friendship and togetherness, please leave a sign of your presence on myChat Box/Guest Book or on comment, so that I can know it precisely and instantly.


Yours sincerely and best regard.
[Lina CahNdeso]

Categories

Senandung Kawula Alit (280) PNS dan Birokrasi (255) Artikel (223) Info (212) Pendidikan (163) Lowongan Kerja (161) Sains-Teknologi Informasi (151) Sejarah Trenggalek (145) Pembangunan (90) Politik (86) Bagi Pahlawan Kemerdekaan (83) Islam (70) Pra-Anggapan (70) Agamaku (69) Kriminal (69) UU-Peraturan (63) Anti Korupsi (60) Catatan Budaya (58) Antik dan Klasik (57) Olahraga (56) Numpang Niwul (54) Cinta dan Kasih Sayang (42) BisnisOnline (37) Tanggung Jawab dan Profesionalisme (37) Software (36) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (35) Sains-Teknologi (32) Biografi Tokoh Peraih Nobel (31) PTC (31) Legeslatif (30) Mesum (27) Palestina (27) Kesehatan (25) Info Beasiswa (24) Thiwul-Manco-Rengginang (22) Zionist (22) Artikel-Copas (21) Flora/Fauna (21) Trik dan Tips Blogging (21) Bencana Alam (20) Langka (20) Selebritis/Tokoh (19) Pariwisata (18) Piala Dunia 2010 (18) Kasus Korupsi (16) Sejarah Dunia (16) English Version (13) Antik dan Klasik. Dongeng (11) Fakta Unik (11) Berita CPNS (9) Fauna (8) Idul Fitri (8) Bencana (6) Bonsai (6) Film (6) Office (6) Poetry (6) Eksekutif (5) My Award (5) Antivirus (4) Biografi Tokoh Lokal (4) Kabinet (4) Puisiku (4) Guest Book (3) Lomba (3) Musibah (3) Polisi (3) Affiliasi Bisnis (2) Bank (2) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (English) (2) Ekonomi/Keuangan (2) Iklan/Pariwara (2) KIB Jilid 2 (2) Mbah Surip (2) Merapi (2) Musik (2) Pelantikan Presiden (2) Taxi (2) lebaran (2) Adipura (1) Alexa (1) Banner Sahabat (1) Biografi Tokoh Seni/Sastra Lokal (1) Catur (1) Cerpen (1) Daftar Posts (1) Dewa Ruci (1) Forex-JSS-JBP (1) GTT (1) Game (1) Google Sandbox (1) Hari Jadi (1) Irshad Manji (1) Jamu Tradisional (1) Jelajah Sepeda-Kompas (1) Jimat Trenggalek (1) Judi/Togel (1) Kuliner (1) Malaysia (1) Maria Verchenova: Russian golferMaria Verchenova: Russian golfer (1) Moammar Khadafi (1) Parcel (1) Perempuan (1) Pers (1) Pramuka (1) Psikologi (1) Resensi Buku (1) Sepak Bola (1) Sumpah Pemuda (1) TNI (1) Tradisional (1)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes

Back To Top