Beberapa waktu lalu, banyak media memberitakan tentang penolakan terhadap aktivis yang mengaku reformis Islam bernama Irshad Manji. Penolakan pertama terjadi di kantor Salihara, Jakarta. Rencana diskusi di Yogyakarta pun batal karena mendapat penolakan dari aktivis di sana. Akan tetapi, diskusi Irshad di Solo, di sebuah hotel, gelagatnya tidak terdeteksi sehingga sukses digelar.
Kehadiran Irshad Manji yang berniat diskusi menyangkut bukunya "Allah, Liberty and Love" dengan sekelompok Mahasiswa UGM, ternyata telah mengusik hati nurani sebagian kaum muslimin di Yogyakarta! Akibatnya Panitia dialog mengalihkan lokasi dari Bulaksumur ke Lembaga Kajian Islam dan Transformasi Sosial (LKiS) Yogyakarta. Mengapa demikian? Sebab, kelompok muslim yang merasa Irshad Manji tidak layak melakukan diskusi yang diperkirakan menyangkut upaya legalisasi lesbianisme, tentu akan berusaha untuk menggagalkan acara tersebut. Pihak UGM khawatir, kelompok FPI (Front Pembela Islam), MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) dan yang lainnya akan bersikap keras intoleransi!
Kendati akhirnya -meski tempat sudah dialihkan- diskusi tetap berlangsung; dan... kelompok muslim (aktivis) yang ingin menegakkan bendera Islam, jelas menentang lesbianisme dan homoseksual dileagilisasi dengan dasar hukum Islam yang sudah direkayasa. Kelompok inipun langsung bergerak.....! (Baca selengkapnya "Pembatalan Diskusi Irshad Manji di UGM (hermansaksono)", dan kronologinya lihat di sini).
Tulisan saya ini tidak bermaksud membahas tentang peristiwa penyerbuan kelompok (baca: aktivis) Muslim yang sudah menggagalkan diskusi Irshad Manji, melainkan ingin memberikan penegasan bahwa setelah membaca artikel hermansaksono tersebut, saya tertarik serta dalam hati, memuji kecerdasan artikel itu. Sayangnya, saya menjadi kecewa ketika hermansaksono menjawab komentar ryan (http://soulofme.com/) berikut ini :
Kehadiran Irshad Manji yang berniat diskusi menyangkut bukunya "Allah, Liberty and Love" dengan sekelompok Mahasiswa UGM, ternyata telah mengusik hati nurani sebagian kaum muslimin di Yogyakarta! Akibatnya Panitia dialog mengalihkan lokasi dari Bulaksumur ke Lembaga Kajian Islam dan Transformasi Sosial (LKiS) Yogyakarta. Mengapa demikian? Sebab, kelompok muslim yang merasa Irshad Manji tidak layak melakukan diskusi yang diperkirakan menyangkut upaya legalisasi lesbianisme, tentu akan berusaha untuk menggagalkan acara tersebut. Pihak UGM khawatir, kelompok FPI (Front Pembela Islam), MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) dan yang lainnya akan bersikap keras intoleransi!
Kendati akhirnya -meski tempat sudah dialihkan- diskusi tetap berlangsung; dan... kelompok muslim (aktivis) yang ingin menegakkan bendera Islam, jelas menentang lesbianisme dan homoseksual dileagilisasi dengan dasar hukum Islam yang sudah direkayasa. Kelompok inipun langsung bergerak.....! (Baca selengkapnya "Pembatalan Diskusi Irshad Manji di UGM (hermansaksono)", dan kronologinya lihat di sini).
Tulisan saya ini tidak bermaksud membahas tentang peristiwa penyerbuan kelompok (baca: aktivis) Muslim yang sudah menggagalkan diskusi Irshad Manji, melainkan ingin memberikan penegasan bahwa setelah membaca artikel hermansaksono tersebut, saya tertarik serta dalam hati, memuji kecerdasan artikel itu. Sayangnya, saya menjadi kecewa ketika hermansaksono menjawab komentar ryan (http://soulofme.com/) berikut ini :
ryan
UGM yang semestinya menjadi tempat lahirnya pemikiran-pemikiran baru, harus membatalkan rencana diskusi Irshad Mandji. (herman/cahndeso)
#pemikiran” baru yang meghina agama? pemikiran baru yang menghalalkan homoseksualitas? apakah itu mksdu anda?
Tapi apa yang salah dengan lesbian menyuarakan pendapatnya? (herman/cahndeso)
#menurut anda tidak ada yang salah dengan lesbian??? astaghfirullah, harusnya dinasehati biar nggak lesbian lagi.
Kita boleh berargumentasi bahwa pilihan menjadi lesbian adalah salah, tapi tolong pertahankan ketidaksetujuan itu dalam diskusi saja. Memakai ancaman dan kekerasan justru membuat FPI terlihat menyerah, karena tidak memiliki counter-argument yang cerdas. (herman/cahndeso)
#apakah diskusi irshad mandji mengundang perwakilan dari orang” yang kontra dengan pemikiran irshad mandji??? selama ini dalam acara seminar, diskusi dsb yg diadakan orang” liberal nggak pernah cover both side.. gmn klo diskusinya diadakan terbuka dan mengundang perwakilan dari FPI, MMI, atau INSISTS??? sampaikan hujjah dengan cerdas dan tanpa amarah di acara tersebut
May 10, 2012 at 9:43 am Reply
Jawaban Herman
1. Apa masalahnya jika menghina agama? Apakah iman Anda berkurang karena agama Anda dihina?
2. Tidak ada yang salah menjadi lesbian jika dilihat dari kaca mata negara. Negara justru harus melindungi.3. Kalau FPI dan MMI ingin mengkritik Manjdi melalui diskusi, kenapa tidak datang dan ikut diskusinya aja. Itu acara terbuka kok, adik saya aja bisa masuk. Yang terjadi kan MMI datang, marah2, dan menteror. Dan mereka marah bukan karena tidak diundang diskusi, tapi karena tidak mau ada pemikiran seperti Manji. FPI, MMI, dsb tidak tertarik untuk diskusi.
Jujur saja, membaca jawaban hermansaksono, saya merasa kecewa, jawabannya tidak secerdas artikel yang sudah ditulisnya, barangkali saja ini disebabkan dangkalnya pengetahuan dia tentang agama dan terutama agama Islam. Secara refleks saya langsung mereplay jawaban hermansaksono, sebagai berikut:
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh;
Saya bukan bagian dari FPI, MMI atau organisasi sejenis; namun saya tertarik dengan artikel ini. Secara keseluruhan saya mengapresiasi bahwa artikel ini cukup cerdas. Dan saya tidak bermaksud menyanggahnya; Namun, ketika ada jawaban Bung Herman, saya sangat kecewa!
1. Penghinaan terhadap agama Islam itu tidak ada hubungannya dengan kadar iman seorang muslim. Tetapi, bagi ummat Islam, penghinaan terhadap agama Islam tidak dapat ditolerir! Kaum Muslim wajib membela agama Islam di manapun tempat dia berpijak! Jadi tidak perduli di Indonesia sekali pun!
2. Menjadi lesbian atau homoseks, dilarang dalam Islam. Apalagi jika ada yang melakukannya secara terang-terangan dengan memakai hukum Islam sebagai landasan perbuatannya, jelas sudah mengusik nilai-nilai iman kaum muslim, serta menghina hukum Islam. Argumentasi Islam yang dipakai para lesbian dan homo itu sangat dangkal, dan justru mereka yang sesungguhnya ngotot mau menang sendiri. Mereka ibarat, anak TK ketika diberitahu bahwa kita hidup di galaxi Bimasakti di antara milyaran bintang, mereka jadi bingung, dan menganggap Bumi tempatnya berpijaklah yang nyata, alam semesta hanya halusinasi.
Soal hukum di luar Islam yang melindungi eksistensi lesbian dan homo, itu sisi yang berbeda!
3. Yang ini, saya tidak menanggapi, sebab tidak tahu permasalahannya.
Maaf, terima kasih.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Selanjutnya, di bawah saya ada yang berkomentar yang ditujukan kepada ryan:
dinautami
Ryan,Rasulullah dulu juga pembawa pemikiran baru, dan menghina agama yang sudah ada sebelumnya dan diancam mau dibunuh karena pemikirannya.
Saya pun merespons komentar dinautami begini:
#dianutami: Sebaiknya dalam masalah ini Anda tidak beranalogi pada kiprah Rasulullah SAW. Itu berbeda dengan kenyataan yang sekarang!
Semasa Islam disiarkan oleh Rasulullah SAW, orang-orang kafir yang menentang dengan dalih agama yang sudah mereka yakini dari nenek moyang mereka, yakni agama yang serba jahiliyah. Tahukah Anda, bahwa pada masa itu penentang Rasulullah lebih senang membunuh anak perempuan yang dilahirkan oleh isteri mereka?! Mereka bermabuk-mabukkan, berjudi dengan taruhan isteri dan anak-anak perempuan mereka?!
Saya tidak akan mendukung siapapun yang melarang dengan kekerasan sesosok manusia mau membuat agama baru. Atau mereka beragama apapun bagi saya no problem. Bila Tuhan menghendaki seluruh makhluk menjadi Islam, adalah sangat mudah!
Dalam konteks ini, Islam tidak menganjurkan memakai kekerasan untuk memberantas lesbian/homo. Namun tidak ada satu ayat pun dari hukum Islam yang melegalisasi perbuatan tersebut. Jadi, bila ada yang ingin secara terbuka membebaskan komunitas lesbian/homo dengan dalih-dalih Islam, sudah tentu harus berhadapan dengan komunitas yang menentangnya!
Akhirnya, saya copaskan pula komentar dari Eko SW (http://swdevsoftwareconsulting.blogspot.com), dalam tulisan hermansaksono itu, yang menurut saya penting dan erat sekali dengan topik artikel ini:
Eko SW
Saya naif. Kadang2 terlalu naif. Namun ini point yg saya pahami :
SATU
Zina, homo dan lesbi dilarang. Agama samawi sepakat ttg hal ini. “Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik” [Al-Anbiya : 74]
Tidak akan ada penyatuan antara Islam dan Lesbianisme.
Kasus Selesai.
DUA
Irshad Manji mengatasnamakan Islam u/ perkara tersebut. Kesimpulan? Sesat.
Aduh, itu clear as your conscience bro.
TIGA
Namun, saat ini homo/lesbi meluas. Tidakkah kita harus memberi space u/ hal tsb?.
Dari Jabir Radhiyallahu anhu , dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Sesungguhnya yang paling aku takuti (menimpa) umatku adalah perbuatan kaum Luth” [HR Ibnu Majah : 2563, 1457. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan Gharib, Hakim berkata, Hadits shahih isnad]
Tidak, tidak bisa.
Hal itu harus diperbaiki.
Meski kita akan kalah.
Yep, kita akan kalah. Homo/Lesbi akan semakin merajalela. Itu sudah kenyataan yg disampaikan Nabi SAW.
Apa yg bisa kita lakukan? Just make sure kita tidak di posisi “againts Nabi SAW”
Itu saja Mon!
May 14, 2012 at 11:01 am Reply
Eko SW
Tindakan FPI/MMI?
As I said, kita satu tubuh.
Dalam hatimu, meski sedikit, mungkin ada secercah pembenaran atas tindakan mereka. Namun, dirimu mungkin tidak akan sampai ke level kenekatan spt mereka. Karenanya dirimu menolak
Aku sakjane menolak. Harusnya? Polisi/Negara yg menghentikan. Ups, tidak ada penghentian dari Negara?
Ya sudah. FPI/MMi menjadi pilihanku.
mau bagaimana lagi?
* Berdoa spy FPI diperkuat. Amin
dan diperlembut pada saat yg bersamaan :)
Last but not less, saya sependirian dengan mas Eko SW, bahwa sebagai muslim saya merasa satu tubuh dengan FPI maupun MMI dan kaum muslimin lainnya. Ibarat tubuh, barangkali saya hanya mampu menjadi "mata" atau "telinga" yang hanya bisa memandang atau mendengar; sedangkan FPI, MMI dan para aktivis Islam, laksana "kaki dan tangan" yang sanggup memukul atau menendang tatkala tubuh kami dicederai orang lain. Artinya, hati kecil saya (walau sekecil-kecilnya!) memang membenarkan sikap FPI/MMI serta aktivis Islam lainnya, sebab tanpa yang demikian, tentu Islam akan nampak lemah saat dijajah oleh musuh-musuhnya!
Kekerasan bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah, namun kekerasan sangat diperlukan ketika hukum dan ketidakadilan sudah kehilangan harga diri, saat hukum dan keadilan hampa hati nurani akibat proses yang direkayasa karena keberpihakan/kepentingan!
Wallahu'alam bisawab.
Download terjemahan buku karya Irshad Manji "Allah, Liberty and Love".


02.39
Lina CahNdeso

![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss-rogers.png)