Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juli 2014

THR, Waktu, Uang dan Pemimpin Korup


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

PRESIDEN Soeharto dalam suatu kesempatan pernah mengatakan kalau korupsi itu persoalan ekonomi. Artinya tingkat penghasilan seseorang menjadi faktor pemicu apakah dia berpotensi korupsi atau tidak. Semakin rendah penghasilan, semakin tinggi potensi melakukan korupsi. Pernyataan Soeharto bahwa penyebab korupsi itu adalah faktor ekonomi dikemukakan saat mengomentari kasus megakorupsi Pertamina yang menyeret keterlibatan direkturnya, Ibnu Sutowo.

Memang uang bukan segala-galanya kendati banyak orang bilang segala-galanya butuh uang. Segala-galanya butuh uang sampai banyak orang menempuh segala cara untuk mendapat uang. Itulah hukum besi kehidupan bila terlalu keseringan mengikuti musik keroncong yang mengalun dari dalam lambung. Memang kenyataan selalu kejam, tergantung bagaimana kita menyikapi kekejaman itu.

Ngomong-ngomong soal sikap-menyikapi apakah benar apa yang dikatakan oleh Soeharto itu? Apakah benar orang yang tinggi penghasilannya, yang secara ekonomi mapan, mampu mengendalikan diri untuk tidak menempuh segala jalan meraih kekayaan? Tentu saja jawabannya tidak. Karena perkara ngentit duit itu bukan soal kaya atau miskin tapi soal mentalitas. Kurang besar bagaimana gaji Gayus Tambunan, Rp12 juta per bulan, usia masih 30-an tahun, menghidupi keluarga kecil

Belum lagi kasus Nazaruddin tuntas, datang lagi berita pada 25 Agustus 2011 mengenai ditangkapnya tiga pejabat Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang ketahuan menerima fee atas pencairan dana APBN. Istilah fee biasanya digunakan dalam soal-soal yang lebih beradab, misalnya untuk membayar honor penulis, membayar honor desainer atau pekerjaan profesional dan kreatif lainnya, bukan untuk urusan korup-mengkorup apalagi sogok-menyogok.

Padahal bisa jadi uang fee yang baru saja diterima di dalam kardus durian monthong itu untuk dibagi-bagi sekadar THR (Tunjangan Hari Raya) kepada sanak keluarga atau kolega sekerja lainnya. Atau jangan-jangan riwayat munculnya THR, yang juga kontroversial itu, membawa tulah sampai sekarang? Kenapa kontroversial? Kapan istilah THR itu muncul belum bisa diketahui pasti tapi uang tunjangan yang diberikan saben akhir bulan puasa itu dimulai kali pertama pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari partai Masyumi.

Kabinet tersebut dilantik oleh Presiden Sukarno pada April 1951. Salah satu program kerja kabinet Soekiman adalah meningkatkan kesejahteraan pamong pradja (kini, Pegawai Negeri Sipil). Menurut Saiful Hakam, peneliti muda LIPI, kabinet Soekiman membayarkan tunjangan kepada pegawai di akhir bulan Ramadhan itu sebesar Rp125 (waktu itu setara dengan US$11, sekarang setara Rp1.100.000) hingga Rp200 (US$17,5, sekarang setara Rp1.750.000). “Bukan hanya itu, mula-mula kabinet ini juga memberikan tunjangan beras setiap bulannya,” kata Hakam.

Tak pelak lagi soal tunjangan itu mendapat respons negatif dari kaum buruh. Kaum buruh merasa dikentutin. Mereka yang bejibaku kerja keras memeras keringat bakal hidup anak-bini di rumah tak dapat perhatian apa pun dari pemerintah. Itu sebabnya pada 13 Februari 1952, buruh mogok, menuntut minta tunjangan dari pemerintah. Tapi bukan pemerintah Republik Indonesia namanya kalau mengikuti keinginan buruh. Tentara pun turun tangan supaya buruh tutup mulut. Bungkam.

Terus, kenapa bisa THR menjadi kebijakan kabinet Soekiman dari Masyumi itu. Bukan rahasia lagi kalau sebagian besar pamong pradja bin pegawai negeri itu terdiri dari para priayi, menak, kaum ningrat turunan raden-raden zaman kumpeni yang kebanyakan berafiliasi ke Partai Nasional Indonesia (PNI). Dus, ceritanya Soekiman mau ambil hati pegawai dengan memberikan mereka tunjangan di akhir bulan puasa dengan harapan mereka mendukung kabinet yang dipimpinnya. Masuk di akal juga kalau para pegawai itu, yang katanya gajinya kecil itu, dapat sedikit dana tambahan buat menghadapi lebaran. Nah, sejak itulah THR jadi anggaran rutin di pemerintahan bahkan sekarang kalau ada perusahaan yang mangkir tak bayar THR karyawannya bisa kena tegur pemerintah, bahkan kena pinalti.

Kalau mau dibilang wajar, ya wajar juga pegawai yang bergaji kecil itu dapat tunjangan hari raya. Apalagi kalau kaum buruh juga kecipratan tunjangan. Yang tidak wajar itu adalah memasukan uang ke dalam kardus duren. Seperti kata orangtua kita, meletakan sesuatu itu harus pada tempatnya. Uang di kardus duren, sudah jelas salah tempat. Sama salahnya memakai kolor pergi ke mesjid atau bawa raket tenis buat berenang di kolam.

Memang perkara uang selalu bikin runyam. Tak dulu tidak sekarang. Bedanya kalau pemimpin zaman dulu masih agak tebal imannya. Haji Agus Salim cuek saja memakai kemeja tambalan padahal dia Menteri Muda Luar Negeri. Dr Leimena cuma punya dua potong kemeja sementara Bung Hatta tak pernah mampu beli sepatu merk Bally sampai akhir hayatnya. Malah bisa jadi mereka tak pernah dapat jatah THR, seperti zaman sekarang. Tapi dalam catatan sejarah, sebelangsak apa pun hidup mereka, tak pernah ditemukan fakta melakukan korupsi. Ini sekaligus mematahkan tesis Soeharto bahwa orang korup karena hidup susah. Padahal hidup mesu budi alias asketik itu soal pilihan. Apalagi jadi pemimpin. Menderita itu keniscayaan, seperti kata Mr. Kasman Singodimedjo, "Een leidersweg is een lijdensweg, leiden is lijden" : Jalan seorang pemimpin adalah jalan penderitaan, memimpin adalah menderita.

Tapi sekarang siapa yang sanggup hidup menderita? Apalagi dalam waktu yang lama. Soal waktu memang soal relatif. Bisa lama bisa sebentar. Itulah sebabnya kenapa yang penting dalam hidup ini bukanlah soal uang tapi semata soal waktu. Seperti pribahasa Inggris Time is Money, waktu adalah uang. Masalahnya: ada waktunya kita punya uang, ada waktunya kita bokek. Tapi persoalannya, kita sering bokek dalam waktu yang berkepanjangan. Tak mengapa, yang penting kita sambut lebaran, waktunya bermaaf-maafan. Asal jangan buat memaafkan koruptor.
(Historia - Bonnie Triyana)

جَزَكُمُ الله خَيْرًا كَثِيْرًا
  وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ




Kamis, 08 Agustus 2013

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

 
Si Jelita Ramadhan 1434 H, kini beringsut meninggalkan kita,
Kehadirannya tiada terasa, kita terpana
dalam nuansa tanpa kata, tanpa bahasa
Kerinduan belum sirna, Sang Jelita sudah harus tinggalkan kita
 
Sebelas bulan kita kejar dunia,
Kita umbar napsu angkara.
Sebulan penuh kita gelar puasa,
kita bakar segala dosa.
Sebelas bulan kita sebar dengki dan prasangka,
Sebulan penuh kita tebar kasih sayang sesama.
Dua belas bulan kita berinteraksi penuh salah dan khilaf,
Di Hari suci nan fitri ini, kita cuci hati, Kita buka pintu maaf.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir Dan batin
Taqobalallahu Minna wa Minkum Taqobbal ya Kariim

جَزَكُمُ الله خَيْرًا كَثِيْرًا

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 


Minggu, 19 Agustus 2012

Taqobbalallahu Minna Waminkum Taqobbal Ya Kariim

Bismillahirrokhmanirrokhim;
Assalamualaikum warokhmatullahi wabarokatuh...

Sebulan telah berlalu, puasa kita selama bulan Ramadhan 1433 Hijriah tuntas terlaksana. Semoga, apa yang kita lakukan dalam bulan Suci tahun ini menuai pahala dan ridho dari Allah SWT. Amien ya Robbal 'Alamien. Hari ini Minggu, 19 Agustus 2012 kita umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H. Sejak selepas Maghrib tadi malam, takbir berkumandang dimana-mana, beduk ditabuh, dan umat Islam kini merayakan hari kemenangan. Hari ini merupakan hari yang dinanti-nanti setelah sebulan berpuasa.

Tiada terasa setahun telah berlalu, seakan baru kemarin kita tinggalkan Ramadhan 1432 H. Begitu cepatnya lintasan waktu meninggalkan kita, sehingga amal perbuatan yang seharusnya kita laksanakan jadi kedodoran. Banyak kekurangan, khilaf dan kesalahan, baik sengaja maupun tidak kita sengaja, yang kita ketahui ataupun terluput dari pengamatan mata hati kita sendiri. Dan, baru saja selama sebulan kita berpuasa, menahan lapar, hawa nafsu, amarah, serta seluruh kegiatan yang bisa merusak kekhusuyu'an dalam menjalankan ibadah puasa. Kini waktunya menyambut hari kemenangan. Fitrah…dalam balutan pahala serta ridho dari Allah SWT…..

Dalam hubungan dengan sahabat-sahabat blogger, serta pengunjung blog sederhana ini,  selama kurun waktu yang sudah berlalu, pastilah saya tak luput dari salah maupun alpa. Untuk itu, saya CahNdeso bersama keluarga mohon maaf lahir dan batin. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Taqobbalallahu minna waminkum taqobbal ya Kariim. Semoga segala salah kita diampuni Allah Ghofurur Rokhim.

Mari kita awali meniti kehidupan masa akan datang dengan kefitrian yang dijanjikan Allah bagi yang sudah ikhlas melaksanakan puasa Ramadhan sebulan penuh. Hari ini, kita kembali ke fitri. Kefitrian seorang hamba yang menyadari segala kekurangannya, adalah bekal yang baik untuk memulai dinamika aktivitas kita berikutnya sekaligus sebagai hikmah agar tak mengulangi kesalahan yang pernah terjadi. Dan tak lupa saya bersama seluruh keluarga bersyukur karena kembali dipertemukan dengan hari yang mulia ini.

Semoga, kita semua akan dipertemukan lagi dengan bulan Suci Ramadhan tahun depan... bertemu lagi di tahun depannya lagi, lagi, lagi dan lagi.

Marilah, kita sama berpeluk kasih, berjabat cinta, membakar hangus semua dendam dan kesumat dengan keikhlasan memberikan maaf dan ridho.

"Ya Allah, Tuhan kami Yang Maha Esa, jadikanlah kami termasuk dalam golongan ummat Rasulullah SAW. Terimalah kami dengan segala dosa ini, dan jadikanlah kami sebagai hambamu yang senantiasa beriman lagi bertaqwa dan hanya menyembah kepada-Mu...! Amien ya Mujibassa'ilin"

Wabillahit taufiq walhidayah, wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Baca juga yang ini :

Senin, 29 Agustus 2011

Hukum Ucapan Selamat Hari Raya

الجواب المفيد عن حكم التهنئة بالعيد

وإن من التحية المشروعة يوم العيد والتي تكون سببا قويا من أسباب تأليف القلوب وتحابها التهنئة بالعيد التي كان الصحابة يقولها بعضهم لبعض ،

Di antara penghormatan yang dituntunkan pada hari ied yang merupakan faktor yang sangat efektif untuk mewujudkan kesatuan dan kedekatan hati adalah ucapan selamat hari raya yang diucapkan oleh para sahabat ketika bersua dengan sesama mereka.

وهذه التهنئة ليست خاصة بعيد دون آخر ، بل هي مشروعة في كلا العيدين.

Ucapan selamat ini tidak hanya berlaku untuk idul fitri saja bahkan berlaku untuk dua hari raya idul fitri dan idul adha.

بعضهم زعم أن التهنئة خاصة بعيد الفطر دون عيد الأضحى ، وهذا قول غريب ليس عليه آثار من آثار العلم والهدى ، ولا هو من هدي صحابة المصطفى.

Sebagian orang beranggapan bahwa ucapan selamat hari raya tersebut hanya berlaku untuk iedul fitri tanpa iedul adha. Ini adalah pendapat yang aneh, tidak berdalil dan tidak demikian yang dicontohkan oleh para shahabat Nabi.

ذكر الآثار الواردة في التهنئة يوم العيد

Riwayat-riwayat tentang ucapan selamat hari raya

وردت طائفة طيبة من الآثار جاء فيها ذكر التهنئة بالعيد واستحبابها ، ذكر منها البيهقي طائفة لا بأس بها في سننه الكبرى ( ج3 / 319 ).

Ada sejumlah riwayat yang menyinggung ucapan selamat hari raya bahkan menganjurkannya. Sebagian besar diantaranya telah disebutkan oleh al Baihaqi dalam Sunan Kubro juz 3 hal 319.

فقال رحمه الله : باب ما روي في قول الناس يوم العيد بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك

Al Baihaqi mengatakan, “Bab berisi riwayat tentang ucapan selamat ketika hari ied dengan kata-kata taqabballahu minna wa minka”

عن خالد بن معدان قال لقيت واثلة بن الأسقع في يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . فقال : نعم ، تقبل الله منا ومنك . قال واثلة لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . قال : نعم ، تقبل الله منا ومنك .

Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ied lantas kukatakan taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu beliau mengucapkan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”

أخبرنا أبو سعد الماليني وبنفس السند إلى واثلة بن الأسقع  قال لقيت رسول الله  يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك.قال:نعم،تقبل الله منا ومنك .

Abu Saad al Maliyani juga meriwayatkan dengan sanad yang sama dengan yang di atas sampai ke Watsilah bin al Asqa’, beliau mengatakan, “Aku berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu kukatakan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”

أخبرنا أبو سعد الماليني قال : قال أبو أحمد بن عدي الحافظ هذا منكر لا أعلم يرويه عن بقية غير محمد بن إبراهيم هذا.

Al Hafizh Abu Ahmad bin Adi mengatakan, “Hadits ini statusnya adalah munkar (baca:lemah). Setahuku tidak ada yang meriwayatkan dari Baqiyah kecuali Muhammad bin Ibrahim ini”.

قال الشيخ رحمه الله ( يعني البيهقي ) قد رأيته بإسناد آخر عن بقية موقوفا غير مرفوع ، ولا أراه محفوظا .

Al Baihaqi mengatakan, “Aku pernah menjumpai sanad yang lain dari Baqiyyah secara mauquf, bukan marfu namun aku tidak menilainya sebagai hadits yang mahfuzh”

قلت : بقية مدلس ، وقد عنعنه ، ثم قد اختلف عليه فيه فمرة يرويه مرفوعا وأخرى موقوفا ، فالحديث ضعيف لهاتين العلتين والله أعلم .

Kesimpulannya, Baqiyah adalah seorang mudallis dan dalam sanad di atas dia menggunakan ‘an yang berarti dari. Yang kedua riwayat dari Baqiyah itu kontradiktif terkadang dalam bentuk marfu’ dan terkadang dalam bentuk mauquf. Sehingga hadits di atas adalah hadits yang lemah dengan dua sebab di atas.

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب حدثنا العباس بن محمد حدثنا أحمد بن إسحاق حدثنا عبد السلام البزاز عن أدهم مولى عمر بن عبد العزيز قال :
كنا نقول لعمر بن عبد العزيز في العيدين تقبل الله منا، ومنك يا أمير المؤمنين فيرد علينا ولا ينكر ذلك علينا .

Dari Adham, bekas budaknya Umar bin Abdul Aziz, “Kami mengatakan kepada Umar bin Abdul Azizi ketika Iedul Fitri dan Adha, taqabbalallu minna wa minka wahai pemimpin orang-orang yang beriman. Beliau menjawab ucapan kami dan tidak menyalahkan kami”.

قال ابن التركماني رحمه الله في ذيله على السنن الكبرى المسمى< < الجوهر النقي على سنن البيهقي ( ج 3/ 320 ): في هذا الباب حديث جيد أغفله البيهقي وهو حديث محمد بن زياد قال: كنت مع أبي أمامة الباهلي وغيره من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فكانوا إذا رجعوا يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك . قال أحمد بن حنبل إسناده إسناد جيد

Ibnu Turkumani dalam Dzail (baca:tambahan) beliau untuk Sunan Kubro yang berjudul al Jauhar al Naqiyyi ‘ala Sunan al Baihaqi juz 3 hal 320 mengatakan, “Dalam masalah ini terdapat hadits dengan kualitas jayyid yang tidak disebutkan oleh al Baihaqi. Itulah hadits Muhammad bin Ziyad, “Aku bersama dengan Abu Umamah al Bahili dan sejumlah sahabat Nabi yang lain. Jika mereka pulang dari shalat Ied sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain taqabbalallahu minna wa minka”. Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa sanad hadits ini adalah berkualitas jayyid.

قال العلامة الشيخ الألباني رحمه الله تمام المنة ( 355 (356- بعد أن ساق كلام ابن التركماني في الجوهر النقي: لم يذكر من رواه – أي ابن التركماني- وقد عزاه السيوطي لزاهر أيضا بسند حسن عن محمد بن زياد الألهاني قال: رأيت أبا أمامة الباهلي يقول في العيد لأصحابه : تقبل الله منا ومنكم

Al Albani dalam Tamam al Minnah 355-356 setelah membawakan perkataan Ibnu Turkumani dalam al Jauhar al Naqiyy mengatakan, “Ibnu Turkumani tidak menyebutkan siapa yang meriwayatkan atsar tersebut. Sedangkan Suyuthi mengatakan bahwa atsar tersebut diriwayatkan oleh Zahir dengan sanad yang hasan dari Muhammad bin Ziyad al Alhani, “Aku melihat Abu Umamah al Bahili mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum kepada kawan-kawannya”.

قلت : فقد صح الأثر والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات بشهادة ثلاثة من فحول وفرسان علم الحديث.

Kesimpulannya atsar di atas adalah riwayat yang sahih berdasarkan penilaian tiga pakar hadits, Imam Ahmad, Ibnu Turkumani dan Suyuthi.

قال الحافظ ابن حجر في فتح الباري (ج2/ ص446) : ورينا في المحامليات بإسناد حسن عن جبير بن نفير قال: كان أصحاب رسول الله إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض:تقبل الله مناومنك >>

Dalam Fathul Bari juz 2 hal 446, al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Kami mendapatkan riwayat dalam al Mahamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair, beliau menceritakan bahwa para shahabat Nabi jika saling berjumpa pada hari ied mereka saling mengatakan taqabbalallahu minna wa minka”.

وأنظر أيضا تمام المنة للشيخ الألباني رحمه الله) ص354 – 355).

Bacalah Tamam al Minnah karya al Albani pada hal 354-355.

وفيه من الفوائد :

Beberapa petikan pelajaran

1- قوله : كنت مع أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه .. حرص التابعين على التعلم من الصحابة والاقتداء فيما يقومون به من أعمال .

Pertama, atsar dari Abu Umamah menunjukkan betapa besar antusias para tabiin untuk belajar dari para shahabat dan meneladani amal yang dilakukan oleh para shahabat.

2- وقوله وغيره من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ،وقول جبير بن نفير : كان أصحاب رسول الله ، يعني ثبت عن مجموع الصحابة، وليس عن أبي أمامة فقط ..

Kedua, atsar dari Abu Umamah dan dari Jubair bin Nufair menunjukkan bahwa ucapan taqabbalallahu minna wa minka itu dilakukan oleh sejumlah sahabat, bukan hanya Abu Umamah al Bahili.

3- أن قول ذلك كان عند رجوعهم وانصرافهم من صلاة العيد .

Ketiga, ucapan ini diucapkan sepulang para sahabat dari shalat ied.

4- وأن ذلك يكون منهم في يوم العيد كما جاء في رواية جبير بن نفير قال: كان أصحاب رسول الله إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض:تقبل الله مناومنك.

Keempat, ucapan tersebut diucapkan oleh para shahabat pada hari ied sebagaimana dalam atsar dari Jubair bin Nufair.

Penjelasan Para Ulama tentang Ucapan Selamat Ied

وقد سئل شيخ الإسلام ابن تيميه قدس الله روحه : هل التهنئة في العيد وما يجري على ألسنة الناس : < < عيدك مبارك >> وما أشبهه ، هل له أصل في الشريعة ؟ أم لا؟ وإذا كان له أصل في الشريعة فما يقال ؟ أفتونا مأجورين .

Ibnu Taimiyyah pernah ditanya, “Apakah ucapan selamat hari raya yang biasa diucapkan oleh banyak orang semisal “Ied Mubarak” memiliki dasar dalam agama ataukah tidak? Jika memang memiliki dasar dalam ajaran agama lalu ucapan apa yang tepat? Berilah kami fatwa”.

الجواب: أما التهنئة يوم العيد يقول بعضهم لبعض إذا لقيه بعد صلاة العيد : تقبل الله منا ومنك. وأحاله الله عليك، ونحو ذلك، فهذا قد روي عن طائفة من الصحابة أنهم كانوا يفعلونه ، ورخص فيه الأئمة كأحمد وغيره .

Jawaban Ibnu Taimiyyah, “Ucapan taqabbalallahu minna wa minka atau ucapan ahalahullahu ‘alaika yang dijadikan sebagai ucapan selamat hari raya yang diucapkan ketika saling berjumpa sepulang shalat hari raya adalah ucapan yang diriwayatkan dari sejumlah shahabat bahwa mereka melakukannya. Karenanya banyak ulama semisal Imam Ahmad membolehkan hal tersebut.

لكن قال أحمد أنا لا أبتدئ أحدا ، فإن ابتدأني أحد أجبته ، وذلك لأن جواب التحية واجب ، وأما الإبتداء بالتهنئة فليس سنة مأمورا بها ، ولا هو أيضا مما نهي عنه ،

Akan tetapi Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului untuk mengucapkan selamat hari raya namun jika ada yang memberi ucapan selamat hari raya kepadaku maka pasti akan aku jawab”. Beliau mengatakan demikian karena menjawab penghormatan hukumnya wajib sedangkan memulai mengucapkan selamat hari raya bukanlah sunnah Nabi yang diperintahkan, bukan pula hal yang terlarang.

فمن فعله فله قدوة ، ومن تركه فله قدوة . والله أعلم.

Siapa yang memulai mengucapkan selamat hari raya dia memiliki teladan dari para ulama dan yang tidak mau memulai juga memiliki teladan dari kalangan ulama”.

مجموع الفتاوى لابن تيميه (ج24 / ص233) ،والفتاوى الكبرى له) ج2 /ص371).

Perkataan Ibnu Taimiyyah ini ada di Majmu Fatawa jilid 24 hal 233 dan di Fatawa Kubro jilid 2 hal 371.

قال ابن ضويان الحنبلي رحمه الله في منار السبيل (ج1 / ص100 ) ولا بأس بقوله لغيره تقبل الله منا ومنك ، نص عليه أي في مذهب أحمد ، قال لا بأس به ، يرويه أهل الشام عن أبي أمامة ، وواثلة بن الأسقع

Ibnu Dhawayan al Hanbali dalam Manar al Sabil jilid 1 hal 100 mengatakan, “Tidaklah mengapa mengucapkan taqabbalallahu minna wa minka. Demikianlah yang ditegaskan dalam mazhab Ahmad. Imam Ahmad mengatakan, “Ucapan tersebut tidaklah mengapa diucapkan. Para penduduk Syam telah meriwayatkan atsar tersebut dari Abu Umamah dan dari Watsilah bin al Asqa’”.

وقال الشيخ صالح البليهي رحمه الله في كتابه السلسبيل في معرفة الدليل : (ج1 /209 ) بعد الكلام على صلاة العيدين.

Syaikh Shalih al Balihi dalam kitabnya al Salsabil fi Ma’rifati al Dalil jilid 1 hal 209 mengatakan setelah membahas shalat dua hari raya mengatakan,

تكملة : لا بأس بتهنئة الناس بعضهم بعضا بما هو مستفيض بينهم من الكلام الذي لا محذور فيه ،

“Boleh hukumnya mengucapkan ucapan selamat hari raya dengan ucapan yang beredar di masyarakat asalkan tidak ada unsur yang terlarang dalam ucapan tersebut”.

ثم ذكر حديث واثلة ، وأبي أمامة ، وقول الإمام أحمد ، ثم قال : ويدل لما تقدم – أي التهنئة – ما ورد أن الملائكة قالت لآدم لما حج بر حجك . ولما تاب الله على كعب بن مالك قام إليه طلحة فهنئه .

Setelah itu beliau menyebutkan hadits Watsilah dan Abu Umamah ditambah ucapan Imam Ahmad. Kemudian beliau mengatakan, “Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya ucapan selamat hari raya adalah riwayat yang berisi ucapan para malaikat kepada Adam setelah Adam berhaji, “Moga jadi haji mabrur”. Dalil yang lain adalah ucapan selamat yang diberikan oleh Thalhah kepada Kaab bin Malik ketika Allah menerima taubat Kaab.

وقال عليه الصلاة والسلام :ليهنئك العلم أبا المنذر في قصة مشهورة .أه

Demikian pula, ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ubay bin Kaab, “Moga ilmu itu menjadi suatu yang mudah bagimu” dalam sebuah kisah yang terkenal”.

ذكر الآثار الواردة في كراهية التهنئة يوم العيد :

Riwayat yang melarang ucapan selamat hari raya

لم يصح في ذلك شيء ولله الحمد والمنة .

Tidak ada satupun riwayat yang shahih terkait hal ini.

قال البيهقي رحمه الله في السنن الكبرى: (ج3 / 319 –320 ).
وقد روي حديث مرفوع في كراهية ذلك ولا يصح .

Al Baihaqi dalam Sunan Kubro juz 3 hal 319-320 mengatakan, “Terdapat hadits marfu’ yang melarang ucapan selamat hari raya namun hadits tersebut bukanlah hadits yang shahih”.

ثم ساق بسنده إلى الصحابي عبادة بن الصامتقال : سألت رسول الله عن قول الناس في العيدين تقبل الله منا ومنكم .قال ذلك فعل أهل الكتابين وكرهه.

Setelah itu al Baihaqi membawakan hadits dari Ubadah bin Shamit, Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ucapan yang diucapkan oleh banyak orang ketika dua hari raya yaitu ucapan taqabbalallahu minna wa minkum. Nabi bersabda, “Itu adalah perbuatan Yahudi dan Nasrani”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukainya.

قال البيهقي: عبد الخالق بن زيد- أحد الرجال الذين رووا هذا الحديث – منكر الحديث .
قاله البخاري .

Al Baihaqi mengatakan, “Salah seorang perawi hadits di atas yaitu al Khalid bin Zaid adalah munkarul hadits”.

قلت : وفيه نعيم بن حماد ، وإن كان إماما في السنة وشديدا على أهل البدع والأهواء فقد ضعف من أجل روايته للمناكير وتفرده بها.

Di samping itu di dalam sanadnya juga terdapat Nu’aim bin Hammad. Meski beliau adalah seorang imam dalam sunnah dan seorang yang keras dengan ahli bid’ah, beliau dinilai lemah dikarenakan beliau sering bersendirian dalam meriwayatkan riwayat-riwayat yang munkar.

وعلى هذا يكون هذا الحديث ضعيف لضعف كل من نعيم بن حماد وعبد الخالق بن زيد، ولمخالفته للآثار الأخرى وهي صحيحة في استحباب التهنئة ومشروعيتها في العيدين .

Berdasarkan uraian di atas maka hadits di atas adalah hadits yang lemah dengan dua alasan. Pertama kelemahan perawi yang bernama Nu’aim bin Hammad dan al Khaliq bin Zaid. Kedua riwayat tersebut bertolak belakang dengan berbagai riwayat lain yang shahih yang menunjukkan dianjurkannya ucapan selamat pada dua hari raya.

الراجــــــــــــح :
وعليه فهذا هو الراجح لثبوته عن السلف ،وخاصة الصحابة منهم في فعل التهنئة ،

Kesimpulannya, yang benar ucapan selamat dengan taqabbalallahu minna wa minka adalah perbuatan yang disyariatkan karena telah dipraktekkan oleh salaf, terlebih lagi para shahabat.

وما ذهب إليه هؤلاء الأئمة الأعلام الذين ذكرت لك أقوالهم آنفا.

Inilah yang menjadi pendapat para ulama yang perkataan mereka telah dikutip di atas.

مسألة : هل تختص التهنئة بعيد الفطر دون عيد الأضحى أم هي عامة :

Apakah ucapan selamat hari raya hanya berlaku untuk iedul fitri saja ataukah untuk semua hari raya?

لم يثبت ولا حديث مرفوع إلى النبيأو أثر عن الصحابة والتابعين فيما نعلم فيه ذكر اختصاص التهنئة بعيدالفطر دون غيره ، بل ثبت خلاف ذلك.

Tidak ada hadits marfu’ sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau atsar dari shahabat dan tabiin-sebatas pengetahuan kami-yang menyebutkan bahwa ucapan selamat hari raya itu hanya berlaku untuk iedul fitri saja. Bahkan terdapat riwayat yang sebaliknya.

قال البيهقي في سننه الكبرى(ج3 /ص319 ): أخبرنا أبو عبد الله الحافظ حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب حدثنا العباس بن محمد حدثنا أحمد بن إسحاق حدثنا عند السلام البزاز عن أدهم مولى عمر بن العزيز قال كنا نقول لعمر بن عبد العزيز ( في الـعيدين ) تقبل الله منا ومنك يا أمير المؤمنين فيرد علينا ولا ينكر ذلك علينا.

Riwayat tersebut terdapat dalam Sunan Kubro karya al Baihaqi pada juz 3 hal 319. Dari Adham, bekas budaknya Umar bin Abdul Aziz, “Kami mengatakan kepada Umar bin Abdul Azizi ketika Iedul Fitri dan Adha, taqabbalallu minna wa minka wahai pemimpin orang-orang yang beriman. Beliau menjawab ucapan kami dan tidak menyalahkan kami”.

فقول أدهم في العيدين ينصرف إلى ما عهد في الشرع وهو عيد الفطر والأضحى ، ولأنه لا يوجد عيدين سنويين في الإسلام إلا هذين اليومين

Dua ied dalam riwayat di atas tentu maknanya adalah ied yang dikenal dalam syariat yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha. Tambahan lagi tidak ada dalam Islam dua ied tahunan kecuali dua hari tersebut.

وأيضا فإن كل من ذكر التهنئة يذكرها في باب صلاة العيدين ، ولو كان المقصود عيد الفطر لقيدوه حتى لا يفهم من الإطلاق أنهم أرادوا العيدين المعروفين عند المسلمين،

Di samping itu bahasan tentang ucapan selamat berupa taqabbalallahu minna wa minka disebutkan oleh para ulama dalam bab shalat dua hari raya. Andai yang diinginkan hanyalah iedul fitri tentu para ulama akan menegaskannya agar penjelasan mereka tidak dipahami dengan dua hari raya yang dikenal oleh kaum muslimin.

ثم نقول : ما وجه التفرقة بين عيد الفطر؛ وعيد الأضحى؛ وكل منهما جاء بعد عبادة فعلها المسلم تقربا إلى الله ؟ فلما يخص هذا بالتحية والدعاء دون هذا ؟ مع عدم ثبوت شيء عن النبيفي ذلك

Demikian pula, dengan alasan apa kita bedakan iedul fitri dengan iedul adha padahal masing-masing dari keduanya adalah hari raya yang datangnya setelah sebuah ibadah yang dikerjakan oleh seorang muslim dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah? Mengapa ucapan taqabbalallahu minna wa minka hanya dikhususkan untuk Iedul Fitri tanpa Iedul Adha? Selain itu, bacaan ini tidaklah berasal dari Nabi namun dari para shahabat.

Sumber: ajurry diringkas oleh Ustadz Aris

Niadesain.com

Jumat, 17 September 2010

Meriah! Barongsai Hadir Dalam Lebaran Ketupat Di Pondok Kelutan

Lebaran Tradisional Kupatan 7 Syawal 1431 H terasa lebih meriah lagi. Ada yang baru dalam kemeriahannya. Kendati idea dan tujuannya sama yakni antara lain memecah totalitas massa demi menghindari kemacetan dan tragedi kecelakaan lalu lintas, namun atraksi yang disajikan ada pergantian.

Baha’ul Mun’im (33) lebih dikenal dengan Gus Baha’ adalah putra dari Kiyai Dhanan (alm) pendiri Ponpes Kelutan “Kidul Kali”. Sejak 
remaja, pemuda atletis dan manis ini sangat akrab dengan komunitas generasi muda di Trenggalek tanpa melihat dari status maupun golongan. Hampir seluruh generasi tua dan muda di kawasan Kota Kripik Tempe mengenalnya sebagai figur religius yang merakyat dan dekat dengan rakyat jelata, kreatif dan berdedikasi tinggi. Setelah Abahnya wafat, maka dialah yang kini mempelopori Ponpes Kelutan “Kidul Kali”.

Dalam rangka merayakan Lebaran Kupatan 7 Syawal 1431 H (Jum'at, 17/09) kali ini, Gus Baha’ konsisten dengan gebrakan yang kreatif, positif dan dinamis, bekerja sama dengan komunitas warga di Kelurahan Kelutan Kecamatan Trenggalek.

“Bukan saya kreator dan penyelenggaranya, tapi ini adalah persembahan dari komunitas warga Kelutan”, kata Gus Baha’ dengan tawaddhu dan tegas. Warga sepakat menggelar kegiatan dibawah bendera “Komunitas SATU (S-portif, A-ktif, T-oleran dan Y-unnete)”. Anggota tetap komunitas SATU adalah warga Kelutan, namun tidak menutup kemungkinan akan kehadiran anggota tetap dari luar, kata Gus Baha’ menjelaskan.

Pagelaran aneka kesenian seperti Band, Dandut, Hadrah, Elektone dan juga Group Barongsai dari Tulungagung, dikemas dengan apik dan menawan demi memeriahkan Lebaran “Kupatan” kali ini.

"Tahun lalu kami tampilkan group Reyog Ponorogo, dan segara kami gelar Barongsai atau Liang-Liong dari Tulungagung. Insyaallah akan kami selenggarakan rutin setiap tahun”, ujar Gus Baha'.

Tujuannya, pertama untuk mengurangi kemacetan tatkala lebaran Kupatan, selama ini antusiasisme masyarakat terpusat ke Durenan. Kedua, mempersatukan komunitas yang beraneka, antara lain seni spiritual/religius, olahraga, dan kehidupan berkesenian yang lain. Ketiga, melestarikan kerukunan warga dalam kehidupan sosial dengan keberagaman visi dan religi, melebur dan menyatu di panggung entertain. Menciptakan kerukunan warga dari seluruh unsur dan elemen, mulai dari tingkat bawah hingga menengah ke atas. 

“Kami selenggarakan kegiatan ini bukan untuk mengalihkan “Durenan” ke Kelutan, tapi sebaliknya justru mendukung sepenuhnya tradisi Kupatan serta membantu mencegah terjadinya hal-hal yang tidak terduga, seperti kemacetan atau kecelakaan lalulintas yang disebabkan totalitas arus warga Trenggalek yang terpusat pada Durenan”, ujar Gus Baha’ menolak anggapan negatif atas kreativitas Komunitas SATU tersebut.

Dana kegiatan murni bersumber dari anggota, donatur lokal, dana kas masyarakat Kelutan dan Karang Taruna. Tidak sepeser pun dana yang berasal dari luar. Masyarakat Kelutan sangat bangga dengan kegiatan ini, sehingga mereka tidak segan-segan untuk berpartisipasi aktif demi mensukseskannya.

Sementara itu pengunjung sangat membludag, membanjiri setiap pementasan yang disajikan, mereka datang dari jauh seperti dari Karangan, Tugu, Suruh, Bendungan, dan Pule “Kami sekeluarga datang jauh-jauh dari Desa Puru dan Gamping, (Kecamatan Suruh/Red) untuk menyaksikan konser Hadrah dan lainnya,” kata Lia Azizah (23) salah seorang pengunjung yang datang dengan rombongannya, sambil menambahkan bila dirinya dan warga lain yang hadir merasa terhibur dan sangat berterima kasih pada Pondok “Kidul Kali” yang sudah menyediakan hiburan gratis dan bisa menikmati hidangan Ketupat Lebaran yang disediakan panitia tanpa harus jauh-jauh ke Durenan.
 
Sementara Nurkholis (18) dari Dongko, menyampaikan komentar senada, dan kebanyakan para pengunjung sangat berharap kegiatan tersebut berkelanjutan sampai anak cucu mereka kelak. Kegiatan ini dimulai sejak pukul 07.00 pagi dan berakhir tepat pukul 11.00 (WIB) menjelang shalat Jum'at, sesuai dengan perizinan yang diajukan pada yang berwajib.

Kamis, 09 September 2010

Minal Aidzin wal Faidzin



Besok Jum'at. 10 September 2010, bertepatan dengan 1 Syawal 1431 Hijriyah, berarti aku akan ditinggal pergi oleh bulan Suci Ramadhan. Bulan mulia ini akan meninggalkanku selama lebih kurang 11 bulan, dan akan mengunjungiku kembali saat Nisfu Sya'ban 1432 Hijriyah mendahului kehadirannya.

Sungguh aku sangat berharap, kehadiran Ramadhan 1431 H, bisa kunikmati dengan segenap totalitas jiwa dan ragaku. Namun, apa kenyataannya? Aku tidak tahu, adakah hidup dan kehidupanku selama ini memenuhi tuntunan Islam. Hanyalah ridlo-Mu, ya Allah, yang hamba harapkan.

Akhirnya, dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya dan keluarga menghaturkan sungkem dan permohonan maaf lahir bathin kepada seluruh sahabat blogger dan para tamu pembaca "Trenggalek Jeita". Khilaf dan salah, sengaja atau tidak sengaja, yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui, adalah gambaran pasti dan tak bisa lepas dari eksistensi saya selama ini sebagai seorang blogger. 

Sebaliknya, saya dengan ikhlas dan penuh kesadaran, menegaskan bahwa: sahabat blogger dan pembaca "Trenggalek Jelita" selama ini, sudah memberikan kontribusi terbaik bagi saya; dengan kata lain, Anda semua tidak pernah melakukan hal-hal yang pantas untuk saya maafkan, sebab Anda tidak pernah berbuat salah. Thanks, Godbless you all.

Mightbe you need to "takbiran", you can dowload it now by this link.


NB. Info Khusus : Bagi Sobat-sobat blogger pemula seperti saya, yang ingin ikutan kontes Menjadi Blogger Yang Bahagia, segera saja lihat persyaratan lengkapnya di Info Kontes: Menjadi Blogger Yang Bahagia. Daftarkan diri Anda, ikut serta jangan ragu-ragu lagi. Hadiah dan kejuaraan bukan tujuan, namun persahabatan dan nilai-nilai silaturrakhmi antar blogger merupakan kekayaan putera-puteri Ibu Pertiwi yang tiada ternilai mulianya.

Rabu, 08 September 2010

Ada Parcel! Ada Parcel!

Hallo bloggers semua kali ini saya akan posting tentang Parsel dari Mas Bejo nih haha gak nyangka euy haha ,oh ya pertama - tama ane dan blog ane mau terimakasih nih sebesar besarnya buat mas bejo yang udh ngasih ane Parsel ini haha terus ya semoga blognya mas bejo maju terus dah :), thanks ya sekali lagi, dan Parsel ini saya serahkan lagi ke :


  1. http://www.satriacell.com/
  2. http://www.matahari-pagi.com/
  3. http://hanhandewi.blogspot.com/
  4. http://uun-halimah.blogspot.com/
Oke selebihnya ambil sendiri aja ya hehe:) bebas kok,ambil ya jangan sampai mubazir.

Ucapan Selamat Hari Raya


الجواب المفيد عن حكم التهنئة بالعيد
Hukum Ucapan Selamat Hari Raya
وإن من التحية المشروعة يوم العيد والتي تكون سببا قويا من أسباب تأليف القلوب وتحابها التهنئة بالعيد التي كان الصحابة يقولها بعضهم لبعض ،
 Di antara penghormatan yang dituntunkan pada hari ied yang merupakan faktor yang sangat efektif untuk mewujudkan kesatuan dan kedekatan hati adalah ucapan selamat hari raya yang diucapkan oleh para sahabat ketika bersua dengan sesama mereka.
وهذه التهنئة ليست خاصة بعيد دون آخر ، بل هي مشروعة في كلا العيدين.
Ucapan selamat ini tidak hanya berlaku untuk idul fitri saja bahkan berlaku untuk dua hari raya idul fitri dan idul adha.
بعضهم زعم أن التهنئة خاصة بعيد الفطر دون عيد الأضحى ، وهذا قول غريب ليس عليه آثار من آثار العلم والهدى ، ولا هو من هدي صحابة المصطفى.
 Sebagian orang beranggapan bahwa ucapan selamat hari raya tersebut hanya berlaku untuk iedul fitri tanpa iedul adha. Ini adalah pendapat yang aneh, tidak berdalil dan tidak demikian yang dicontohkan oleh para shahabat Nabi.

ذكر الآثار الواردة في التهنئة يوم العيد
Riwayat-riwayat tentang ucapan selamat hari raya

وردت طائفة طيبة من الآثار جاء فيها ذكر التهنئة بالعيد واستحبابها ، ذكر منها البيهقي طائفة لا بأس بها في سننه الكبرى ( ج3 / 319 ).
Ada sejumlah riwayat yang menyinggung ucapan selamat hari raya bahkan menganjurkannya. Sebagian besar diantaranya telah disebutkan oleh al Baihaqi dalam Sunan Kubro juz 3 hal 319.
فقال رحمه الله : باب ما روي في قول الناس يوم العيد بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك
Al Baihaqi mengatakan, “Bab berisi riwayat tentang ucapan selamat ketika hari ied dengan kata-kata taqabballahu minna wa minka”
عن خالد بن معدان قال لقيت واثلة بن الأسقع في يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . فقال : نعم ، تقبل الله منا ومنك . قال واثلة لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك . قال : نعم ، تقبل الله منا ومنك .
Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ied lantas kukatakan taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu beliau mengucapkan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”
أخبرنا أبو سعد الماليني وبنفس السند إلى واثلة بن الأسقع  قال لقيت رسول الله  يوم عيد فقلت تقبل الله منا ومنك.قال:نعم،تقبل الله منا ومنك .
Abu Saad al Maliyani juga meriwayatkan dengan sanad yang sama dengan yang di atas sampai ke Watsilah bin al Asqa’, beliau mengatakan, “Aku berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu kukatakan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”
أخبرنا أبو سعد الماليني قال : قال أبو أحمد بن عدي الحافظ هذا منكر لا أعلم يرويه عن بقية غير محمد بن إبراهيم هذا .
Al Hafizh Abu Ahmad bin Adi mengatakan, “Hadits ini statusnya adalah munkar (baca:lemah). Setahuku tidak ada yang meriwayatkan dari Baqiyah kecuali Muhammad bin Ibrahim ini”.
قال الشيخ رحمه الله ( يعني البيهقي ) قد رأيته بإسناد آخر عن بقية موقوفا غير مرفوع ، ولا أراه محفوظا .
Al Baihaqi mengatakan, “Aku pernah menjumpai sanad yang lain dari Baqiyyah secara mauquf, bukan marfu namun aku tidak menilainya sebagai hadits yang mahfuzh”
قلت : بقية مدلس ، وقد عنعنه ، ثم قد اختلف عليه فيه فمرة يرويه مرفوعا وأخرى موقوفا ، فالحديث ضعيف لهاتين العلتين والله أعلم .
Kesimpulannya, Baqiyah adalah seorang mudallis dan dalam sanad di atas dia menggunakan ‘an yang berarti dari. Yang kedua riwayat dari Baqiyah itu kontradiktif terkadang dalam bentuk marfu’ dan terkadang dalam bentuk mauquf. Sehingga hadits di atas adalah hadits yang lemah dengan dua sebab di atas.
أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب حدثنا العباس بن محمد حدثنا أحمد بن إسحاق حدثنا عبد السلام البزاز عن أدهم مولى عمر بن عبد العزيز قال :
كنا نقول لعمر بن عبد العزيز في العيدين تقبل الله منا، ومنك يا أمير المؤمنين فيرد علينا ولا ينكر ذلك علينا .
Dari Adham, bekas budaknya Umar bin Abdul Aziz, “Kami mengatakan kepada Umar bin Abdul Azizi ketika Iedul Fitri dan Adha, taqabbalallu minna wa minka wahai pemimpin orang-orang yang beriman. Beliau menjawab ucapan kami dan tidak menyalahkan kami”.
قال ابن التركماني رحمه الله في ذيله على السنن الكبرى المسمى< < الجوهر النقي على سنن البيهقي ( ج 3/ 320 ): في هذا الباب حديث جيد أغفله البيهقي وهو حديث محمد بن زياد قال: كنت مع أبي أمامة الباهلي وغيره من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فكانوا إذا رجعوا يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك . قال أحمد بن حنبل إسناده إسناد جيد
Ibnu Turkumani dalam Dzail (baca:tambahan) beliau untuk Sunan Kubro yang berjudul al Jauhar al Naqiyyi ‘ala Sunan al Baihaqi juz 3 hal 320 mengatakan, “Dalam masalah ini terdapat hadits dengan kualitas jayyid yang tidak disebutkan oleh al Baihaqi. Itulah hadits Muhammad bin Ziyad, “Aku bersama dengan Abu Umamah al Bahili dan sejumlah sahabat Nabi yang lain. Jika mereka pulang dari shalat Ied sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain taqabbalallahu minna wa minka”. Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa sanad hadits ini adalah berkualitas jayyid.
قال العلامة الشيخ الألباني رحمه الله تمام المنة ( 355 (356- بعد أن ساق كلام ابن التركماني في الجوهر النقي: لم يذكر من رواه – أي ابن التركماني- وقد عزاه السيوطي لزاهر أيضا بسند حسن عن محمد بن زياد الألهاني قال: رأيت أبا أمامة الباهلي يقول في العيد لأصحابه : تقبل الله منا ومنكم
Al Albani dalam Tamam al Minnah 355-356 setelah membawakan perkataan Ibnu Turkumani dalam al Jauhar al Naqiyy mengatakan, “Ibnu Turkumani tidak menyebutkan siapa yang meriwayatkan atsar tersebut. Sedangkan Suyuthi mengatakan bahwa atsar tersebut diriwayatkan oleh Zahir dengan sanad yang hasan dari Muhammad bin Ziyad al Alhani, “Aku melihat Abu Umamah al Bahili mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum kepada kawan-kawannya”.
قلت : فقد صح الأثر والحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات بشهادة ثلاثة من فحول وفرسان علم الحديث.
Kesimpulannya atsar di atas adalah riwayat yang sahih berdasarkan penilaian tiga pakar hadits, Imam Ahmad, Ibnu Turkumani dan Suyuthi.
قال الحافظ ابن حجر في فتح الباري (ج2/ ص446) : ورينا في المحامليات بإسناد حسن عن جبير بن نفير قال: كان أصحاب رسول الله إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض:تقبل الله مناومنك >>
Dalam Fathul Bari juz 2 hal 446, al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Kami mendapatkan riwayat dalam al Mahamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair, beliau menceritakan bahwa para shahabat Nabi jika saling berjumpa pada hari ied mereka saling mengatakan taqabbalallahu minna wa minka”.
وأنظر أيضا تمام المنة للشيخ الألباني رحمه الله( ص354 – 355).
Bacalah Tamam al Minnah karya al Albani pada hal 354-355.
وفيه من الفوائد :
Beberapa petikan pelajaran
1- قوله : كنت مع أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه .. حرص التابعين على التعلم من الصحابة والاقتداء فيما يقومون به من أعمال .
Pertama, atsar dari Abu Umamah menunjukkan betapa besar antusias para tabiin untuk belajar dari para shahabat dan meneladani amal yang dilakukan oleh para shahabat.
2- وقوله وغيره من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ،وقول جبير بن نفير : كان أصحاب رسول الله ، يعني ثبت عن مجموع الصحابة، وليس عن أبي أمامة فقط ..
Kedua, atsar dari Abu Umamah dan dari Jubair bin Nufair menunjukkan bahwa ucapan taqabbalallahu minna wa minka itu dilakukan oleh sejumlah sahabat, bukan hanya Abu Umamah al Bahili.
3- أن قول ذلك كان عند رجوعهم وانصرافهم من صلاة العيد .
Ketiga, ucapan ini diucapkan sepulang para sahabat dari shalat ied.
4- وأن ذلك يكون منهم في يوم العيد كما جاء في رواية جبير بن نفير قال: كان أصحاب رسول الله إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض:تقبل الله مناومنك.
Keempat, ucapan tersebut diucapkan oleh para shahabat pada hari ied sebagaimana dalam atsar dari Jubair bin Nufair.

Penjelasan Para Ulama tentang Ucapan Selamat Ied
وقد سئل شيخ الإسلام ابن تيميه قدس الله روحه : هل التهنئة في العيد وما يجري على ألسنة الناس : < < عيدك مبارك >> وما أشبهه ، هل له أصل في الشريعة ؟ أم لا؟ وإذا كان له أصل في الشريعة فما يقال ؟ أفتونا مأجورين .
Ibnu Taimiyyah pernah ditanya, “Apakah ucapan selamat hari raya yang biasa diucapkan oleh banyak orang semisal “Ied Mubarak” memiliki dasar dalam agama ataukah tidak? Jika memang memiliki dasar dalam ajaran agama lalu ucapan apa yang tepat? Berilah kami fatwa”.
الجواب: أما التهنئة يوم العيد يقول بعضهم لبعض إذا لقيه بعد صلاة العيد : تقبل الله منا ومنك. وأحاله الله عليك، ونحو ذلك، فهذا قد روي عن طائفة من الصحابة أنهم كانوا يفعلونه ، ورخص فيه الأئمة كأحمد وغيره .
Jawaban Ibnu Taimiyyah, “Ucapan taqabbalallahu minna wa minka atau ucapan ahalahullahu ‘alaika yang dijadikan sebagai ucapan selamat hari raya yang diucapkan ketika saling berjumpa sepulang shalat hari raya adalah ucapan yang diriwayatkan dari sejumlah shahabat bahwa mereka melakukannya. Karenanya banyak ulama semisal Imam Ahmad membolehkan hal tersebut.
لكن قال أحمد أنا لا أبتدئ أحدا ، فإن ابتدأني أحد أجبته ، وذلك لأن جواب التحية واجب ، وأما الإبتداء بالتهنئة فليس سنة مأمورا بها ، ولا هو أيضا مما نهي عنه ،
Akan tetapi Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului untuk mengucapkan selamat hari raya namun jika ada yang memberi ucapan selamat hari raya kepadaku maka pasti akan aku jawab”. Beliau mengatakan demikian karena menjawab penghormatan hukumnya wajib sedangkan memulai mengucapkan selamat hari raya bukanlah sunnah Nabi yang diperintahkan, bukan pula hal yang terlarang.
فمن فعله فله قدوة ، ومن تركه فله قدوة . والله أعلم.
Siapa yang memulai mengucapkan selamat hari raya dia memiliki teladan dari para ulama dan yang tidak mau memulai juga memiliki teladan dari kalangan ulama”.
مجموع الفتاوى لابن تيميه (ج24 / ص233) ،والفتاوى الكبرى له ( ج2 /ص371).
Perkataan Ibnu Taimiyyah ini ada di Majmu Fatawa jilid 24 hal 233 dan di Fatawa Kubro jilid 2 hal 371.
قال ابن ضويان الحنبلي رحمه الله في منار السبيل (ج1 / ص100 ) ولا بأس بقوله لغيره تقبل الله منا ومنك ، نص عليه أي في مذهب أحمد ، قال لا بأس به ، يرويه أهل الشام عن أبي أمامة ، وواثلة بن الأسقع
Ibnu Dhawayan al Hanbali dalam Manar al Sabil jilid 1 hal 100 mengatakan, “Tidaklah mengapa mengucapkan taqabbalallahu minna wa minka. Demikianlah yang ditegaskan dalam mazhab Ahmad. Imam Ahmad mengatakan, “Ucapan tersebut tidaklah mengapa diucapkan. Para penduduk Syam telah meriwayatkan atsar tersebut dari Abu Umamah dan dari Watsilah bin al Asqa’”.
وقال الشيخ صالح البليهي رحمه الله في كتابه السلسبيل في معرفة الدليل : (ج1 /209 ) بعد الكلام على صلاة العيدين.
Syaikh Shalih al Balihi dalam kitabnya al Salsabil fi Ma’rifati al Dalil jilid 1 hal 209 mengatakan setelah membahas shalat dua hari raya mengatakan,
تكملة : لا بأس بتهنئة الناس بعضهم بعضا بما هو مستفيض بينهم من الكلام الذي لا محذور فيه ،
“Boleh hukumnya mengucapkan ucapan selamat hari raya dengan ucapan yang beredar di masyarakat asalkan tidak ada unsur yang terlarang dalam ucapan tersebut”.
ثم ذكر حديث واثلة ، وأبي أمامة ، وقول الإمام أحمد ، ثم قال : ويدل لما تقدم – أي التهنئة – ما ورد أن الملائكة قالت لآدم لما حج بر حجك . ولما تاب الله على كعب بن مالك قام إليه طلحة فهنئه .
Setelah itu beliau menyebutkan hadits Watsilah dan Abu Umamah ditambah ucapan Imam Ahmad. Kemudian beliau mengatakan, “Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya ucapan selamat hari raya adalah riwayat yang berisi ucapan para malaikat kepada Adam setelah Adam berhaji, “Moga jadi haji mabrur”. Dalil yang lain adalah ucapan selamat yang diberikan oleh Thalhah kepada Kaab bin Malik ketika Allah menerima taubat Kaab.
وقال عليه الصلاة والسلام :ليهنئك العلم أبا المنذر في قصة مشهورة .أه
Demikian pula, ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ubay bin Kaab, “Moga ilmu itu menjadi suatu yang mudah bagimu” dalam sebuah kisah yang terkenal”.

ذكر الآثار الواردة في كراهية التهنئة يوم العيد :
Riwayat yang melarang ucapan selamat hari raya
لم يصح في ذلك شيء ولله الحمد والمنة .
Tidak ada satupun riwayat yang shahih terkait hal ini.
قال البيهقي رحمه الله في السنن الكبرى: (ج3 / 319 –320 ).
وقد روي حديث مرفوع في كراهية ذلك ولا يصح .
Al Baihaqi dalam Sunan Kubro juz 3 hal 319-320 mengatakan, “Terdapat hadits marfu’ yang melarang ucapan selamat hari raya namun hadits tersebut bukanlah hadits yang shahih”.
ثم ساق بسنده إلى الصحابي عبادة بن الصامت  قال : سألت رسول الله  عن قول الناس في العيدين تقبل الله منا ومنكم .قال ذلك فعل أهل الكتابين وكرهه.
Setelah itu al Baihaqi membawakan hadits dari Ubadah bin Shamit, Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ucapan yang diucapkan oleh banyak orang ketika dua hari raya yaitu ucapan taqabbalallahu minna wa minkum. Nabi bersabda, “Itu adalah perbuatan Yahudi dan Nasrani”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukainya.
قال البيهقي: عبد الخالق بن زيد- أحد الرجال الذين رووا هذا الحديث – منكر الحديث .
قاله البخاري .
Al Baihaqi mengatakan, “Salah seorang perawi hadits di atas yaitu al Khalid bin Zaid adalah munkarul hadits”.
قلت : وفيه نعيم بن حماد ، وإن كان إماما في السنة وشديدا على أهل البدع والأهواء فقد ضعف من أجل روايته للمناكير وتفرده بها.
Di samping itu di dalam sanadnya juga terdapat Nu’aim bin Hammad. Meski beliau adalah seorang imam dalam sunnah dan seorang yang keras dengan ahli bid’ah, beliau dinilai lemah dikarenakan beliau sering bersendirian dalam meriwayatkan riwayat-riwayat yang munkar.
وعلى هذا يكون هذا الحديث ضعيف لضعف كل من نعيم بن حماد وعبد الخالق بن زيد، ولمخالفته للآثار الأخرى وهي صحيحة في استحباب التهنئة ومشروعيتها في العيدين .
Berdasarkan uraian di atas maka hadits di atas adalah hadits yang lemah dengan dua alasan. Pertama kelemahan perawi yang bernama Nu’aim bin Hammad dan al Khaliq bin Zaid. Kedua riwayat tersebut bertolak belakang dengan berbagai riwayat lain yang shahih yang menunjukkan dianjurkannya ucapan selamat pada dua hari raya.
الراجــــــــــــح :
وعليه فهذا هو الراجح لثبوته عن السلف ،وخاصة الصحابة منهم في فعل التهنئة ،
Kesimpulannya, yang benar ucapan selamat dengan taqabbalallahu minna wa minka adalah perbuatan yang disyariatkan karena telah dipraktekkan oleh salaf, terlebih lagi para shahabat.
وما ذهب إليه هؤلاء الأئمة الأعلام الذين ذكرت لك أقوالهم آنفا.
Inilah yang menjadi pendapat para ulama yang perkataan mereka telah dikutip di atas.
مسألة : هل تختص التهنئة بعيد الفطر دون عيد الأضحى أم هي عامة :
Apakah ucapan selamat hari raya hanya berlaku untuk iedul fitri saja ataukah untuk semua hari raya?
لم يثبت ولا حديث مرفوع إلى النبي أو أثر عن الصحابة والتابعين فيما نعلم فيه ذكر اختصاص التهنئة بعيدالفطر دون غيره ، بل ثبت خلاف ذلك.
Tidak ada hadits marfu’ sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau atsar dari shahabat dan tabiin-sebatas pengetahuan kami-yang menyebutkan bahwa ucapan selamat hari raya itu hanya berlaku untuk iedul fitri saja. Bahkan terdapat riwayat yang sebaliknya.
قال البيهقي في سننه الكبرى(ج3 /ص319 ): أخبرنا أبو عبد الله الحافظ حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب حدثنا العباس بن محمد حدثنا أحمد بن إسحاق حدثنا عند السلام البزاز عن أدهم مولى عمر بن العزيز قال كنا نقول لعمر بن عبد العزيز ( في الـعيدين ) تقبل الله منا ومنك يا أمير المؤمنين فيرد علينا ولا ينكر ذلك علينا.
Riwayat tersebut terdapat dalam Sunan Kubro karya al Baihaqi pada juz 3 hal 319. Dari Adham, bekas budaknya Umar bin Abdul Aziz, “Kami mengatakan kepada Umar bin Abdul Azizi ketika Iedul Fitri dan Adha, taqabbalallu minna wa minka wahai pemimpin orang-orang yang beriman. Beliau menjawab ucapan kami dan tidak menyalahkan kami”.
فقول أدهم في العيدين ينصرف إلى ما عهد في الشرع وهو عيد الفطر والأضحى ، ولأنه لا يوجد عيدين سنويين في الإسلام إلا هذين اليومين
Dua ied dalam riwayat di atas tentu maknanya adalah ied yang dikenal dalam syariat yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha. Tambahan lagi tidak ada dalam Islam dua ied tahunan kecuali dua hari tersebut.
وأيضا فإن كل من ذكر التهنئة يذكرها في باب صلاة العيدين ، ولو كان المقصود عيد الفطر لقيدوه حتى لا يفهم من الإطلاق أنهم أرادوا العيدين المعروفين عند المسلمين،
Di samping itu bahasan tentang ucapan selamat berupa taqabbalallahu minna wa minka disebutkan oleh para ulama dalam bab shalat dua hari raya. Andai yang diinginkan hanyalah iedul fitri tentu para ulama akan menegaskannya agar penjelasan mereka tidak dipahami dengan dua hari raya yang dikenal oleh kaum muslimin.
ثم نقول : ما وجه التفرقة بين عيد الفطر؛ وعيد الأضحى؛ وكل منهما جاء بعد عبادة فعلها المسلم تقربا إلى الله ؟ فلما يخص هذا بالتحية والدعاء دون هذا ؟ مع عدم ثبوت شيء عن النبي  في ذلك
Demikian pula, dengan alasan apa kita bedakan iedul fitri dengan iedul adha padahal masing-masing dari keduanya adalah hari raya yang datangnya setelah sebuah ibadah yang dikerjakan oleh seorang muslim dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah? Mengapa ucapan taqabbalallahu minna wa minka hanya dikhususkan untuk Iedul Fitri tanpa Iedul Adha? Selain itu, bacaan ini tidaklah berasal dari Nabi namun dari para shahabat.

Sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=14987 dengan peringkasan.

Please Read This For Peace
(Mohon Baca Ini, Demi Persahabatan)




Disclaimer

I don't and never claim ownership or rights over images published on my blog unless specified.
All images are copyright of their respected creators. If any images that appear on my blog are in violation of copyright law, please contact me on my Chat Box/Guest Book or via my e-mail (maksumhamid [at] trenggalekjelita [dot] web [dot] id) and I will remove the offending pics as soon as possible.

Thank You So Much All Guests and Blogger Friends

I greatly appreciate your kindness to visit my blog and,
in return, I promise I will pay my own visit to your blogs or your sites as soon as possible.; Insyaallah, through this sort of social amiability and solidarity, we could find out a great
deal of thing which will be useful for advancing our human values.
For the sake of friendship and togetherness, please leave a sign of your presence on myChat Box/Guest Book or on comment, so that I can know it precisely and instantly.


Yours sincerely and best regard.
[Lina CahNdeso]

Categories

Senandung Kawula Alit (280) PNS dan Birokrasi (255) Artikel (223) Info (212) Pendidikan (163) Lowongan Kerja (161) Sains-Teknologi Informasi (151) Sejarah Trenggalek (145) Pembangunan (90) Politik (86) Bagi Pahlawan Kemerdekaan (83) Islam (70) Pra-Anggapan (70) Agamaku (69) Kriminal (69) UU-Peraturan (63) Anti Korupsi (60) Catatan Budaya (58) Antik dan Klasik (57) Olahraga (56) Numpang Niwul (54) Cinta dan Kasih Sayang (42) BisnisOnline (37) Tanggung Jawab dan Profesionalisme (37) Software (36) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (35) Sains-Teknologi (32) Biografi Tokoh Peraih Nobel (31) PTC (31) Legeslatif (30) Mesum (27) Palestina (27) Kesehatan (25) Info Beasiswa (24) Thiwul-Manco-Rengginang (22) Zionist (22) Artikel-Copas (21) Flora/Fauna (21) Trik dan Tips Blogging (21) Bencana Alam (20) Langka (20) Selebritis/Tokoh (19) Pariwisata (18) Piala Dunia 2010 (18) Kasus Korupsi (16) Sejarah Dunia (16) English Version (13) Antik dan Klasik. Dongeng (11) Fakta Unik (11) Berita CPNS (9) Fauna (8) Idul Fitri (8) Bencana (6) Bonsai (6) Film (6) Office (6) Poetry (6) Eksekutif (5) My Award (5) Antivirus (4) Biografi Tokoh Lokal (4) Kabinet (4) Puisiku (4) Guest Book (3) Lomba (3) Musibah (3) Polisi (3) Affiliasi Bisnis (2) Bank (2) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (English) (2) Ekonomi/Keuangan (2) Iklan/Pariwara (2) KIB Jilid 2 (2) Mbah Surip (2) Merapi (2) Musik (2) Pelantikan Presiden (2) Taxi (2) lebaran (2) Adipura (1) Alexa (1) Banner Sahabat (1) Biografi Tokoh Seni/Sastra Lokal (1) Catur (1) Cerpen (1) Daftar Posts (1) Dewa Ruci (1) Forex-JSS-JBP (1) GTT (1) Game (1) Google Sandbox (1) Hari Jadi (1) Irshad Manji (1) Jamu Tradisional (1) Jelajah Sepeda-Kompas (1) Jimat Trenggalek (1) Judi/Togel (1) Kuliner (1) Malaysia (1) Maria Verchenova: Russian golferMaria Verchenova: Russian golfer (1) Moammar Khadafi (1) Parcel (1) Perempuan (1) Pers (1) Pramuka (1) Psikologi (1) Resensi Buku (1) Sepak Bola (1) Sumpah Pemuda (1) TNI (1) Tradisional (1)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes

Back To Top