Tampilkan postingan dengan label Biografi Tokoh Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Tokoh Lokal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2011

Innalillahi Wainnailaihi Rojiuun, Selamat Jalan Pak Tjip.....

Hari ini, Kamis, 24 Nopember 2011, keluarga besar PDI-Perjuangan seluruh Indonesia telah kehilangan salah seorang tokoh partai yang paling populer dan kontroversial ketika pemerintah Orde Baru berkuasa pada tahun 1990. Tokoh yang dikenal dengan nama Ir. H. Soetjipto Soedjono, menjelang Maghrib tadi pukul 17.15 (WIB) telah meninggal dunia di RS Dharmo - Surabaya akibat komplikasi penyakit yang sudah lama dideritanya.

Selain warga PDI-P, masyarakat Trenggalek juga ikut berbelasungkawa atas berpulangnya  ke Rahmatullah. Ir. Sutjipto adalah tokoh kelahiran Trenggalek asal Desa Pucanganak, Kecamatan Tugu. Lahir tanggal 13 Agustus 1945. Rencananya, Ketua DPP PDIP periode 2005-2010 yang disemayamkan di rumah duka Jalan Pakis, Tirtosari Nomor 18 Surabaya tersebut, akan dimakamkan di Pemakaman Umum Keputih Surabaya pada Jumat (25/11) pukul 09.00 WIB, besok.

  • Nama  lengkap       : Ir. H. Soetjipto Soedjono
  • Lahir                      : Trenggalek, 13 Agustus 1945
  • Wafat                     : Surabaya, 24 November 2011
  • Jabatan                  : Sekretaris Jenderal PDI-P, Wakil Ketua MPR-RI
  • Keahlian                : Penemu Teknik Fondasi Sarang Laba-laba
  • Pendidikan             : Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
  • Isteri                      : Ir Sudjami
  • Anak                     : 3 (tiga) orang.
  • Cucu                     : 8 orang.

Anti KKN

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan layak menjadikannya sebagai tokoh panutan yang bisa dijadikan contoh, karena almarhum sudah mampu secara ekonomi sebelum terjun ke dunia politik. Berkecimpung di ranah politik bukan untuk mencari harta atau keuntungan pribadi. Pak Tjip memberikan teladan yang baik kepada para politisi, antara lain dengan wataknya yang jujur dan humanis. Dia mengajarkan untuk tidak memasukkan keluarga dalam partai untuk sekadar memanfaatkan kesempatan. Istri, adik, dan kakak almarhum pun tidak ada yang memakai fasilitas atau katabelece demi meraih kedudukan di partai maupun dalam birokrasi.

Sementara itu, Dari tiga orang anaknya  -Jagad Harsono, Dewi dan Wisnu Sakti Buana-  hanya Wisnu Sakti Buana yang mengikuti jejaknya di dunia politik  dengan aktif di PDI-P Kota Surabaya,  Tetapi perlu diketahui bahwa Wisnu sejak awal sudah berkecimpung di partai dan aktif dari bawah hingga ke tingkat Kota Surabaya.

Ir. Sutjipto melaju  ke DPR RI, salah satu alasannya karena ingin menjaga jarak dari keluarganya di Jatim, demi menghindari beban moral bila ada desakan KKN. Meskipun pernah sempat menjadi calon Gubernur Jawa Timur dalam Pilkada Jatim 2008 yang berpasangan dengan Ridwan Hisjam atas dorongan DPP PDI-P, namun bukan berarti meneguhi watak kedaerahan. Dia ingin mengabdikan dirinya bagi masyarakat, kemanusiaan dan kemaslahatan Bangsa.

Soetjipto Figur Perlawanan PDI Pro Mega

Pada masa-masa kritis, dia lantang bersuara dan berani itulah yang terkesan dari sosok Soetjipto, tokoh PDI Perjuangan. Figur Soetjipto adalah tokoh sentral perlawanan PDI Pro Mega (Promeg) saat menghadapi PDI Pro Surjadi. Pak Tjip sangat konsisten bersuara kritis dan terbuka. Kala itu, mantan Wakil ketua MPR ini selalu menerima berbagai ancaman dan teror dari kubu penguasa. Sutjipto, tetap tegar dan kokoh menentang kebijakan Rezim Soeharto.

Ir Sutjipto berjuang melawan tirani penguasa otoriter dengan gaya bermatabat dan menentang kekerasan. Konsistensi perlawanannya lebih mengkristal ketika SK DPP PDI-P Nomor 043 yang menetapkan dirinya sebagai Ketua DPD PDI Jatim pada tahun 1990-an tidak mendapat pengakuan dari penguasa saat itu. Jiwa untuk memperjuangkan "Wong Cilik" kian membara, dan hingga kini menjadi roh dinamika Partai Berlambang Banteng Moncong Putih.

Kiprah Sutjipto yang paling fenomenal adalah ketika rezim Orde Baru hendak menggagalkan kemenangan Megawati Soekarnoputri dalam KLB PDI 1993 di Surabaya. Pemerintah memaksakan Soerjadi, mantan ketua umum DPP PDI, untuk menguasai PDI dalam Kongres PDI di Medan pada 1996.

PDI pun terbelah yang lebih dikenal dengan Promeg (Pro-Megawati) dan Pro-Soerjadi. Ketika sejumlah tokoh PDI Surabaya semacam Latief Pudjosakti dan Mentik Budiwiyono memilih ikut pro-Soerjadi di bawah naungan kekuasaan rezim Soeharto, Sutjipto dengan tegas mendukung Megawati.

Tak peduli risikonya saat itu, dia terus menggalang kekuatan untuk melawan. PDI Promeg menjadi salah satu simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru kala itu, terus melawan dan puncaknya terjadi peristiwa 27 Juli 1996. Kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Jakarta, yang dikuasai massa Promeg diserbu dan diambil alih massa misterius berambut cepak.

Sempat terjadi kericuhan dan Sutjipto berada di tengah-tengah "pertempuran" tersebut. Sutjipto pula yang menjadi simbol perlawanan massa Promeg Jatim terhadap rezim Orba. Dia memimpin kader dan simpatisan PDI di Jawa Timur melawan campur tangan pemerintah dalam tubuh PDI. Dia sempat memindahkan markas PDI ke kantor CV. Bumi Raya, perusahaan jasa konstruksi miliknya, di Jalan Pandegiling, Surabaya, sebagai posko. Sebab kantor lama masih dikuasai kubu Latief Pudjosakti dan Mentik Budiwiyono yang mendukung Soerjadi. Sebuah bentuk perlawanan kepada pemerintah yang otoriter sekaligus sebagai wujud dukungan kepada kepemimpinan Megawati yang didukung oleh arus bawah.

Sejarah kemudian berbalik. Soeharto tumbang dan kelompok PDI Promeg lantas bermetamorfosis menjadi PDI Perjuangan hingga menjadi partai pemenang Pemilu 1999. Karir politik Sutjipto kemudian ikut menanjak.

Sutjipto menjadi ketua FPDIP di MPR dalam SU MPR 1999. Dia termasuk salah seorang mastermind yang menaikkan Megawati Soekarnopoetri menjadi presiden perempuan pertama RI pada 2001. Pada 2000-2005, dia dipercaya menjadi Sekjen, kemudian menjadi salah seorang ketua DPP PDIP pada 2005-2010.

Dalam situasi gawat darurat, dia selalu setia mengawal Megawati Soekartnopoetri, membela dan melindungi Putra Bung Karno, Presiden RI Pertama yang menjadi idola sekaligus tokoh panutannya. Ir Sutjipto bukan hanya pejuang, namun bersama Ketua Umum PDIP  Megawati Soekarnoputri meletakkan dasar-dasar perjuangan partai.

Penemu dan Pemilik Hak Paten Pondasi Sarang Laba-laba

Tokoh asal Trenggalek, Jawa Timur itu menempuh studi di Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Bersama Insinyur Ryantori, ia menemukan teknik fondasi konstruksi sarang laba-laba dan sejak 2004 pemilik paten pondasi konstruksi sarang laba-laba adalah PT Katama Surya Bumi yang merupakan jaksa kontruksi milik almarhum.

Pondasi sarang laba-laba itu terbukti aman dari gempa dan telah terbukti pada gempa di NAD, Sumatera Barat, Bengkulu, Manokwari, dan daerah rawan gempa lainnya.

Oleh karena itu, dalam jangka dua tahun (3 Desember 2007 hingga 1 Desember 2009), almarhum menerima lima penghargaan, salah satunya Penghargaan Upakarti dengan kategori Rintisan Teknologi sebagai Pondasi Ramah Gempa.

Pilih Politisi Ketimbang Jadi Pakar Bangunan

Dia memimpin kader dan simpatisan PDI di Jawa Timur melawan campur tangan pemerintah dalam tubuh PDI. Dia pun memindahkan markas PDI ke kantor CV. Bumi Raya, perusahaan jasa konstruksi miliknya. Sebab kantor lama masih dikuasai kubu Latief Pudjosakti. Sebuah bentuk perlawanan kepada pemerintah yang otoriter sekaligus sebagai wujud dukungan kepada kepemimpinan Megawati yang didukung oleh arus bawah.

Pilihannya membela dan menjunjung demokrasi itu, telah mengantarkan lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang kemudian menemukan teknik fondasi sarang laba-laba, ini menjadi seorang politisi kaliber nasional. Ahli konstruksi yang temuannya antara lain dipakai di Bandara Hang Nadim, Batam, ini akhirnya lebih mengalir bicara politik ketimbang bidang konstruksi yang juga digelutinya.

Memang, kehidupan politik (berorganisasi) bukan hal baru baginya. Sejak di SMA tahun 1964, ia sudah aktif di Gerakan Siswa Nasional Indonesia. Kemudian saat kuliah di ITS, ia aktif di Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, hingga menjabat wakil sekretariat GMNI Jawa Timur (1971). Pada tahun 1986, ia pun mulai aktif di PDI yang kelak bermetamorfose menjadi PDI-Perjuangan. Lalu, dua tahun kemudian terpilih sebagai bendahara PDI Jawa Timur.

Selamat Jalan Pak Tjip, semoga amal ibadahmu diterima dan diridhoi Allah SWT… Amien.

(sumber utama: Antara, OkeZone, Wikipedia)

Silakan baca artikel berikut ini:

Kamis, 09 Juni 2011

Tokoh Nasional Asal Trenggalek: Drs. H. Priyo Budi Santoso

Siapa tidak kenal dengan pria muda yang energik dan cerdas ini? Tentu Anda sudah sangat akrab dengan senyumnya yang khas, dan penuh welas asih ini. Dia dilahirkan di Trenggalek, bersekolah di SDN 1 Karanganom, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Seorang anak desa dari Kabupaten Kota Kripik, daerah yang berkatagori Kabupaten Tertinggal.

Politisi muda  dari Partai Golongan Karya, Priyo Budi Santoso dikenal sebagai sosok yang lugas, tegas, kritis dan berani dalam bersikap. Pria kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, 30 Maret 1966, ini memilih Golkar sebagai Organisasi yang dipanutinya karena  sejalan dengan pemikirannya. Bertahun-tahun ia mengabdikan dirinya pada Partai berlambang pohon beringin ini hingga akhirnya ia menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR dan pucuk pimpinan Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR).

Ia pernah tercatat sebagai ketua umum termuda dalam sejarah Trikarya (Soksi, MKGR, dan Kosgoro 1957). Dalam usia muda pula, mantan aktivis HMI ini tercatat sebagai salah seorang ketua koordinasi dalam Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan Ketua PB Lembaga Karate Do Indonesia (Lemkari).

Terpilihnya Priyo Budi Santoso sebagai wakil ketua DPR mewakili Partai Golkar adalah suatu evolusi positif yang menunjukan peran anak muda di Partai Golkar semakin signifikan. Priyo Budi Santoso terpilih menjadi wakil ketua DPR dari Partai Golkar setelah melalui pemilihan dalam rapat pleno dan menyisihkan setidaknya empat kandidat lainnya, Yakni, Enggartiasto Lukita, Agus Gumiwang Kartasasmita, Rully Chaerul Azwar dan Airlangga Hartarto.

Lebih dari itu, Priyo juga satu-satunya ketua FPG termuda setelah era Usman Hasan, Mustahid Astari, Marzuki Achmad, Syamsul Muarif dan lain-lain yang menjadi pemimpin fraksi pada usia di atas 50 tahun. Karena itu, Priyo memandang prestasinya itu sebagai sebuah kepercayaan partai terhadap kalangan muda.

“Dengan memberi peluang kepada 40 persen calon legislatif (caleg) muda, berarti Partai Golkar memang memberikan kepercayaan yang cukup besar kepada generasi belia. Bahkan kelihatannya, para senior di Partai Golkar sudah mulai menyodorkan tongkat estafet kepada para juniornya. Tentunya para kader muda partai juga harus benar-benar siap jika sudah secara utuh menerima tongkat tersebut,” kata suami Fenti Estiana ini.

Sebagai politisi muda, alumni Fisipol UGM ini mengaku banyak belajar dari para seniornya seperti Proklamator Bung Karno dan mantan Presiden Soeharto. Bung Karno, tutur mantan Direktur Eksekutif Cides ini, memiliki keberanian yang tidak dipunyai banyak orang. Sementara Pak Harto adalah sosok pendiam tapi banyak memberikan sumbangsih bagi bangsa.

Pria yang pernah gigih mengawal duet SBY-JK ini tak gentar meniti buih. Feeling politiknya kerap menempatkannya pada posisi gerak yang tepat. Priyo ingin hidupnya mengalir bak air, namun ia juga siap menantang arus besar.

No. Anggota: A-233

Tempat Lahir: Trenggalek,
Tgl Lahir: 30-03-1966
Agama: Islam

Riwayat Pendidikan:

1 SDN I Karanganom (1979)
2 SMPN I Trenggalek (1982)
3 SMA Negeri 1 Trenggalek (1985)
4 Fisipol UGM, Ilmu Administrasi Negara (1992)


Riwayat Pekerjaan:

1 Direktur Eksekutif CIDES
2 Dosen Fisip UNAS 1996-1997
3 Ketua Departemen Publikasi CIDES 1993-1996
4 Anggota DPR RI Periode 1997-1999
5 Anggota DPR RI Periode 1999-2004
6 Anggota DPR RI Periode 2004-2009

Riwayat Organisasi:

1 Ketua DPP Persatuan Mahasiswa Administrasi Indonesia 1989-1990
2 Ketua Sema Fisipol UGM Yogya 1989-1990
3 Sekretaris Umum Badan Pelaksana GWB PM ICMI Pusat
4 Sekretaris Koordinator Wilayah VII DPP Golkar
5 Anggota Departemen Cendekiawan & IPTEK DPP Golkar


Selasa, 07 Juni 2011

Doding Rahmadi, Sang Penggila Demokrasi dan Anti KKN, Terpilih Ketua PAC PDI-P Karangan

Doding Rahmadi, (baris belakang Nomor 1 dari kanan), bersama Ketua DPC PDI-P Trenggalek dan komunitas LSM Kostradem.


Penampilannya sangat bersahaja, namun menyimpan sejuta pesona kecerdasan dan keberanian, yang setiap saat bisa saja berbinar. Bicaranya tidak "neko-neko", alias sedikit bicara banyak kerja, alias tidak suka beradu mulut, menghindari pamer argumen, bila hasilnya hanya pepesan kosong. Masih muda, energik dan selalu dinamis karena dalam kesehariannya hampir tidak pernah diam terpaku. Terlebih lagi bila menyaksikan hal-hal yang dianggapnya bertentangan dengan suara hati nurani serta kedilan dan dominasi hukum.

Doding Rahmadi, pria yang dinaungi zodiac Sagitarius ini, lahir di Trenggalek, Jawa Timur, tanggal 14 Desember 1981, hari/pasaran Senin Wage, Windu: Kuntara, tahun Jimakir, wuku Dukut, dengan shio Ayam. Sejak meniti pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, penuh kedisiplinan dan tidak pernah mbolos tanpa alasan yang dibenarkan. Tamat dari SMP Negeri 1 Karangan tahun 1998, menyelesaikan SMK jurusan teknis mesin di SMK Karya Dharma Trenggalek tahun 2001, melanjutkan ke Unik Kediri, Fakultas Teknis Sipil dan berhasil meraih gelar Sarjana Teknis tahun 2006.

Doding putera ragil dari tiga bersaudara adalah anak pasangan almarhum Slamet dan Fatonah asli Trenggalek, beralamat di RT 01 RW 01 Desa/Kecamatan Karangan. Saat menjadi mahasiswa, termasuk dalam sederetan aktivis kampus. Tahun 2003-2004 terpilih sebagai Presiden Mahasiswa di Unik Kediri. Di masa pemerintahan Bupati H. Soeharto (Tahun 2005-2010) yang lalu, Doding memposisikan dinamika dan kiprah perjuangannya berhadapan dengan penguasa. Dia bersama rekan-rekan yang seide selalu melayangkan kritikan tajam, pedas namun membangun, setiap kali ada kebijakan pemerintah daerah yang tidak memihak kepentingan rakyat.

Bersama Hamzah Abdillah kader PDI-P Trenggalek, pada tahun 2005, dia mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) KRPD (Komite Rakyat Pengembangan Daerah) Trenggalek, kemudian mengundurkan diri dan mencoba menggali potensi dirinya dengan menggerakkan generasi muda Trenggalek melalui berbagai forum diskusi dan politik praktis. Selanjutnya memulai karier politiknya masuk partai sesuai dengan basis yang diyakininya, yakni Partai Demoraksi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Di partai ini Doding aktif sejak masih duduk di sekolah menengah atas, namun baru menyatakan diri sebagai anggota PDI-P menjelang pemilu tahun 2004, dan tercatat sebagai anggota biasa.

"Saya dulu bercita-cita ingin menjadi tentara, terobsesi oleh keberanian dan kesediaan untuk menjadi bhayangkari Ibu Pertiwi. Sayangnya, tinggi badan saya kurang dari 160, sehingga saya tidak mendaftar. Namun, secara fisik, saya sudah siap," katanya kepada prigibeach.com. Menyadari kekurangannya, Doding lantas memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selanjutnya mencoba mensinergikan cita-citanya dengan memasuki kancah pergumulan politik, hukum dan gerakan kemanusiaan.

Di kampus Unik Kediri, dia dikenal sebagai aktivis yang berani menyuarakan suara hati nurani dan idealisme mahasiswa, aktif di bawah bendera GMNI. Sejak mahasiswa hingga sekarang dia konsisten sebagai pegiat anti korupsi. Bahkan pada tahun 2010 lalu, bersama dengan Nur Rohmad A. Gani -wartawan profesional- dan Puryono -aktivis anti korupsi, melakukan konsultasi ke ICW (Indonesia Corruption Watch) dan ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), hasilnya dia bersama-sama Puryono, dkk, kemudian mendirikan LSM Kostradem (Komunitas Study Transparansi Anggaran dan Demokrasi) Trenggalek, secara resmi, berbadan hukum dan terdaftar di Pengadilan Negeri Trenggalek. LSM Kostradem mengutamakan kinerja bagi kesejahteraan dan kedilan penegakan hukum, mandiri dan tidak mengandalkan dana bantuan dari pemerintah. Doding menjabat sebagai ketua LSM Kostradem Trenggalek. Sementara Nur Rohmad A. Gani dan teman-temannya membentuk LSM TWC (Trenggalek Corruption Watch).

Mengawali karir politiknya dari bawah, hingga kemudian tahun 2006 dia dipilih sebagai Sekretaris PAC PDI-P Kecamatan Karangan. Memenuhi permintaan konstetuen Dapil II yang meliputi kecamatan Karangan, Suruh, Tugu dan Pule, pada Pileg (Pilihan Legesltif) 2009, Doding Rahmadi mengajukan diri sebagai Caleg (Calon Legslatif) dari PDI-P. Dia gagal memperoleh suara terbanyak. Namun, dia tidak kecewa. Sebab, dia berangkat hanya bermodalkan kemampuan dan kemauan tanpa dukungan finansial yang memadai. "Jadi wajar saja, bila Mas Doding kalah dan tidak terpilih sebagai anggota Legeslatif," ujar Puryono, salah seorang pegiat anti korupsi di Trenggalek.

Sejak aktif dalam kancah politik, sosial dan kemanusiaan, sosok Doding sangat akrab dan dikenal oleh masyarakat Trenggalek. Setiap kali ada demo yang menentang kebijakan pemerintah, Doding akan memposisikan dirinya paling depan. "Kebijakan apapun dari pemerintah baik pusat maupun daerah, apabila nyata tidak memihak pada rakyat, niscaya akan dikritisi oleh mas Doding," ujar salah seorang politisi PKS Trenggalek yang enggan disebutkan namanya. Secara bergiliran, Doding dan Puryono menjadi orator yang kritis dan lantang, mendobrak arogansi penguasa daerah Trenggalek, manakala mereka berdemonstrasi di daerah ini.

Perjuangannya dalam pergumulan dan pasang surutnya politik di Trenggalek, sedikit demi sedikit mengangkat nama Doding Rahmadi sebagai tokoh muda yang layak diperhitungkan. Hingga akhirnya dengan visi dan misi  membawa bendera PDI-P Trenggalek sebagai partai yang bersih dan anti KKN,  serta teguh memperjuangan perbaikan nasib rakyat, dalam pemilihan Ketua PAC PDI-P Karangan, Doding Rahmadi terpilih secara aklamasi. Doding menjadi Ketua PAC PDI-P Kecamatan Karangan menggantikan Yosef Soemanto yang demisioner terhitung Selasa, 7 Juni 2011.

Doding Rahmadi, adalah generasi muda potensial dan asset tak ternilai PDI-P, berbakat dan layak menjadi kader partai berlambang Banteng Moncong Putih. Dalam pemilihan Ketua PAC PDI-P Karangan, Doding Rahmadi dengan tegas menolak "kandidadisasi buying", demikian pula ketika dirinya mencalonkan diri sebagai Caleg pada Pemilu 2009 yang lalu. "Saya ingin apa yang saya lakukan, apa yang saya kerjakan senantiasa diridloi Allah SWT," akunya ketika diwawancarai sesaat usai serah terima jabatan Ketua PAC, Selasa (11/6).

Doding Rahmadi, selain aktivis pergerakan mahasiswa, politikus dan pegiat anti korupsi, ternyata dia juga adalah pendiri sekaligus Ketua Permajaya (Perhimpunan Masyarakat Jamaah Yasin) yang berpusat di Kelurahan Setoyo, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Permajaya dia dirikan tatkala masih berstatus mahasiswa di Unik Kediri. Sampai hari ini, Doding Rahmadi masih berstatus lajang, kendati banyak cewek-cewek cantik di sekelilingnya.

Merdeka !!! Selamat Berjuang, semoga sukses dan senantiasa dirildoi Allah SWT.

Minggu, 06 September 2009

Melestarikan Budaya Bukan Perbuatan Syirik


Selokondo – Batu yang kini berada di pinggiran sungai Tawing ini juga termasuk benda “misteri” yang memuat cerita legenda (Dok. PrigiBeach.com)


Hardjo Soewoto, sedang asyik memainkan rebab (Dok. PrigiBeach.com)
  • Ada Terowongan Mistis ‘Hubungkan’Munjungan-Ponorogo
“Nguri-uri budaya Jawa bukanlah perbuatan syirik. Budaya Jawa merupakan aset tradisional yang harus terus dipertahankan eksistensinya demi lebih memperkaya budaya nasional yang menjadi identitas bangsa”, ujar Hardjo Soewoto (76), budayawan Trenggalek yang berdomisili di desa Tawing kecamatan Munjungan, Trenggalek, saat berbincang-bincang di sanggarnya kemarin. Sanggar itu juga merupakan tempat tinggal lelaki sepuh yang sampai kini masih kelihatan enerjik.

Seniman serba bisa ini memiliki seorang istri dan 9 anak, tampak begitu gairah ketika berbicara ihwal kesenian. Dia mengaku berolah seni sejak kecil. Sejak usia sembilan tahun dia sudah pintar menabuh kendang. Bakat musik tradisional diperoleh secara alami dan otodidak, selain sebagai warisan orang tuanya.

“Meski saya tak pintar not-notan (notasi/red), saya bisa menciptakan lagu dan cukup paham gending-gending Jawa jenis slendro, pelhog mau pun kreasi baru. Bahkan gending berirama Sunda pun saya senang”, tuturnya tanpa niat takabur.

Sebagai budayawan terpandang di seputar daerahnya, Soewoto merasa berkewajiban untuk mempertahankan eksistensi kesenian Jawa. Untuk itulah, didukung oleh putra-putri dan menantu-menantunya, dia senantiasa memelihara budaya Jawa, dimulai dari lingkungan terdekatnya sendiri. Sebagai budayawan dia pun tak bersikap fanatik terhadap kesenian yang bukan menjadi keahliannya. Buktinya, dalam perkumpulan Paranida yang diasuhnya, juga dikembangkan musik dangdut dan campur sari modern, yang sudah menyentuh wilayah modernisasi.

Dia juga menghargai orang-orang yang percaya pada hal-hal yang bersifat mistis. Bahkan dengan cukup lancar Soewoto mampu merinci sejumlah titik “mistisisme” yang ada di desa Tawing dan sekitarnya. Seperti "Selokondo" yang terletak di dekat dam air, misteri di seputar Gunung Kembar yang konon menyimpan banyak “keistimewaan”, Watu Pecah di pesisiran Ngampiran, dan lain-lain.

Di sekitar Gunung Kembar, ujar dia, terdapat misteri balutan emas dan arca, bagi yang percaya bisa dilihat setelah melakukan upacara ritual. Di Watu Pecah dipercaya oleh sebagian orang sebagai tempat wingit, yang bisa dimintai tolong untuk niat-niat jahat. “Di tempat itu, kata yang mempercayai, ada terowongan mistis yang menembus sampai ke Ponorogo. Tentu saja yang berminat sebelumnya harus melakukan berbagai persyaratan”, kata Hardjo Soewoto, pencipta tari Tarik Jaring, sebuah tari yang sangat dikenal oleh warga Munjungan dengan wajah sumringah.


Please Read This For Peace
(Mohon Baca Ini, Demi Persahabatan)




Disclaimer

I don't and never claim ownership or rights over images published on my blog unless specified.
All images are copyright of their respected creators. If any images that appear on my blog are in violation of copyright law, please contact me on my Chat Box/Guest Book or via my e-mail (maksumhamid [at] trenggalekjelita [dot] web [dot] id) and I will remove the offending pics as soon as possible.

Thank You So Much All Guests and Blogger Friends

I greatly appreciate your kindness to visit my blog and,
in return, I promise I will pay my own visit to your blogs or your sites as soon as possible.; Insyaallah, through this sort of social amiability and solidarity, we could find out a great
deal of thing which will be useful for advancing our human values.
For the sake of friendship and togetherness, please leave a sign of your presence on myChat Box/Guest Book or on comment, so that I can know it precisely and instantly.


Yours sincerely and best regard.
[Lina CahNdeso]

Categories

Senandung Kawula Alit (280) PNS dan Birokrasi (255) Artikel (223) Info (212) Pendidikan (163) Lowongan Kerja (161) Sains-Teknologi Informasi (151) Sejarah Trenggalek (145) Pembangunan (90) Politik (86) Bagi Pahlawan Kemerdekaan (83) Islam (70) Pra-Anggapan (70) Agamaku (69) Kriminal (69) UU-Peraturan (63) Anti Korupsi (60) Catatan Budaya (58) Antik dan Klasik (57) Olahraga (56) Numpang Niwul (54) Cinta dan Kasih Sayang (42) BisnisOnline (37) Tanggung Jawab dan Profesionalisme (37) Software (36) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (35) Sains-Teknologi (32) Biografi Tokoh Peraih Nobel (31) PTC (31) Legeslatif (30) Mesum (27) Palestina (27) Kesehatan (25) Info Beasiswa (24) Thiwul-Manco-Rengginang (22) Zionist (22) Artikel-Copas (21) Flora/Fauna (21) Trik dan Tips Blogging (21) Bencana Alam (20) Langka (20) Selebritis/Tokoh (19) Pariwisata (18) Piala Dunia 2010 (18) Kasus Korupsi (16) Sejarah Dunia (16) English Version (13) Antik dan Klasik. Dongeng (11) Fakta Unik (11) Berita CPNS (9) Fauna (8) Idul Fitri (8) Bencana (6) Bonsai (6) Film (6) Office (6) Poetry (6) Eksekutif (5) My Award (5) Antivirus (4) Biografi Tokoh Lokal (4) Kabinet (4) Puisiku (4) Guest Book (3) Lomba (3) Musibah (3) Polisi (3) Affiliasi Bisnis (2) Bank (2) Biografi Tokoh Seni/Sastra Indonesia (English) (2) Ekonomi/Keuangan (2) Iklan/Pariwara (2) KIB Jilid 2 (2) Mbah Surip (2) Merapi (2) Musik (2) Pelantikan Presiden (2) Taxi (2) lebaran (2) Adipura (1) Alexa (1) Banner Sahabat (1) Biografi Tokoh Seni/Sastra Lokal (1) Catur (1) Cerpen (1) Daftar Posts (1) Dewa Ruci (1) Forex-JSS-JBP (1) GTT (1) Game (1) Google Sandbox (1) Hari Jadi (1) Irshad Manji (1) Jamu Tradisional (1) Jelajah Sepeda-Kompas (1) Jimat Trenggalek (1) Judi/Togel (1) Kuliner (1) Malaysia (1) Maria Verchenova: Russian golferMaria Verchenova: Russian golfer (1) Moammar Khadafi (1) Parcel (1) Perempuan (1) Pers (1) Pramuka (1) Psikologi (1) Resensi Buku (1) Sepak Bola (1) Sumpah Pemuda (1) TNI (1) Tradisional (1)
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes

Back To Top